Unik! Cara Salman Rushdie Rilis Novel Baru Lewat Email Berlangganan

Tia Agnes - detikHot
Jumat, 03 Sep 2021 12:20 WIB
NEW YORK, NY - DECEMBER 10:  Novelist Salman Rushdie speaks onstage at the Norman Mailer Center 7th Annual Awards ceremony and celebration at Pratt Institute on December 10, 2015 in New York City.  (Photo by Bennett Raglin/Getty Images for Norman Mailer Center, Inc.)
Novelis Salman Rushdie yang kini tinggal di New York Foto: Getty Images
Jakarta -

Siasat para penulis menerbitkan buku di tengah masa pandemi ada banyak cara jitu. Salah satunya yang dilakukan oleh novelis asal Iran, Salman Rushdie, yang saat ini tinggal di New York, Amerika Serikat.

Salman Rushdie segera menerbitkan serial novel dalam waktu dekat. Tapi bukan dicetak seperti kebanyakan buku, ia bakal merilisnya di platform penerbitan bernama Substack.

Platform itu akan mengirimkan karya para penulis melalui email pelanggan. Substack awalnya adalah platform untuk jurnalisme tapi baru-baru ini menarik perhatian penulis fiksi.

Nantinya, pembaca yang ingin berlangganan buletin di email akan dikenakan biaya.

Dalam sebuah wawancara, seperti dilansir dari BBC, Jumat (3/9/2021), Salman Rushdie mengatakan cara yang dipilihnya agar lebih dekat dengan pembaca di mancanegara.

"Saya harap cara ini bisa membuat hubungan yang lebih dekat dengan pembaca, untuk berbicara dengan bebas, tanpa perantara atau penjaga gerbang," katanya.

Bagi pembaca yang ingin berlangganan, di awal akan tidak dikenakan biaya. Tapi pada akhirnya, pembaca akan diwajibkan membayar sekitar U$ 5 atau Rp 71 ribu setiap bulannya.

"Dari awal rencana ide penerbitan buku, tulisan lainnya, dan jalannya cerita akan dikirim ke email pelanggan," tambah Salman Rushdie.

Nama Salman Rushdie dikenal sebagai penulis buku The Satanic Verses. Gara-gara buku tersebut, ia dikecam hukuman mati dan hidup dalam persembunyian.

Mantan Pemimpin Agung Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini mengancamnya akan membunuhnya pada 14 Februari 1989. Ia pun menyelamatkan diri dari kampung halamannya tersebut.

Novel keempat sang penulis menceritakan tokoh utama yang bernama Mahound (yang kemungkinan besar merujuk pada Muhammad) diceritakan secara kilas balik paralel dengan dua tokoh utama lainnya Gibreel Farishta dan Saladin Chamcha.

Sebagian ceritanya terinspirasi dari kisah hidup Muhammad. Namun bagi umat muslim, novel Salman Rushdie dianggap penuh SARA hingga tak boleh beredar di India dan juga menyulut kerusuhan di Pakistan.

Selama hidup bersembunyi, ia menggunakan nama samaran dan jarang muncul ke hadapan publik. Namun tiga tahun setelah ancaman hukuman matinya dicabut, pada 11 September 2001 ia mulai muncul lagi di berbagai acara.

Di platform terbarunya, Salman Rushdie mengatakan tak ingin menulis soal politik maupun agama.

"Saya ingin menulis serialisasi tentang film, hal yang sangat saya sukai sejak kecil. Saya juga berharap ada balasan atau umpan balik untuk karya terbarunya nanti," pungkasnya.



Simak Video "Tanggapan Pihak Medina Zein yang Berkali-kali Dilaporkan ke Polisi"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/dal)