Festival ini menjadi salah satu acara sastra yang melahirkan kerja kreatif dari berbagai kalangan. Tahun lalu, MIWF dihadiri sekitar 8000 pengunjung.
Mengusung tema 'Diversity!', persoalan keberagaman terinspirasi dari kayanya negeri ini. Serta makin kompleksnya persoalan kebangsaan yang muncul untuk merawat kebhinekaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca Juga: Menelisik Tren Wattpad di Hari Buku Nasional 2017
Perayaan MIWF edisi ketujuh berlangsung lebih panjang yakni 9 hari di sejumlah lokasi di Makassar dengan pusat pelaksanaan festival di Fort Rotterdam. Mitra utama untuk tanggal 13-14 Mei adalah Pesta Pendidikan β sebuah gerakan komunitas pendidik yang melakukan berbagai aksi publik di berbagai kota Indonesia; 14-16 Mei hadir Taman Sinema.
Serta ada juga Master Class Series bersama Papermoon Puppet Theatre Yogyakarta, Tobucil Bandung, Kelas Penulisan Skenario oleh Wahana Penulis Jakarta dan penulisan kreatif dalam bahasa Inggris bersama The Jakarta Post Writing Centre. Pameran Manoeskrip Sadjak Sapardi Djoko Damono di Rumata' Artspace di buka sejak 16 Mei.
Setiap tahun, MIWF selalu menghadirkan program-program spesial. Tahun ini, kami memperkenalkan konsep pop-up park, sebuah proyek kolaborasi yang menawarkan ruang piknik, kuliner, musik, layar tancap, dan perpustakaan terbuka. Taman ini sudah terbuka sejak 13 Mei sampai 20 Mei 2017 sehingga membuat perayaan MIWF dan rangkaian kegiatannya menjadi lebih panjang. Seluruh rangkaian acara ditutup dengan Konser Reformasi pada 21 Mei yang akan diramaikan oleh duo legendaris Ari Reda.
Seluruh program pada festival ini melalui proses kurasi dengan teliti oleh tim MIWF. Dalam tujuh tahun terakhir, festival ini telah berkembang sebagai festival yang melibatkan para penulis, pembaca, pembuat perubahan, orang-orang dengan ide yang luar biasa serta masyarakat luas.
Baca Juga: Rayakan Hari Buku Nasional 2017, Baca Dulu Novel Populer 'Dear Nathan' (tia/doc)











































