ADVERTISEMENT

Cara F4 Thailand: Boys Over Flowers Tampilkan Cerita Kekinian

Atmi Ahsani Yusron - detikHot
Selasa, 21 Des 2021 08:25 WIB
Poster resmi F4 Thailand: Boys Over Flowers.
(Foto: dok. GMMTV) Meski material ceritanya berasal dari komik 24 tahun lalu, F4 Thailand: Boys Over Flowers menampilkan cerita dan permasalahan yang masih tetap kekinian.
Jakarta -

Cerita Hana Yori Dango dirilis pertama kali tahun 1997 dan sejak itu komik ini telah diadaptasi ke berbagai versi mulai dari anime, serial TV live action, hingga film layar lebar. Yang terbaru, cerita karangan Yoko Kamio ini dibuat serial TV Thailand berjudul F4 Thailand: Boys Over Flowers.

Sepanjang sejarah adaptasi ke layar kaca, Hana Yori Dango selalu populer. Di era tahun 2000-an Indonesia pernah diserang demam F4 dari Meteor Garden (Taiwan), disusul Jepang bikin versi live action di tahun 2005. Di tahun 2009 Korea Selatan merilis versi drakor berjudul Kkotboda Namja (kalau diterjemahkan berarti Boys Over Flowers) yang juga jadi salah satu drama Korea populer pada masanya. Kemudian 2018 China membuat Meteor Garden generasi baru dengan wajah-wajah yang lebih muda.

23 tahun berselang sejak perilisan komiknya, sutradara Patha Thongpan (yang juga menjabat sebagai penulis skenario buat F4 Thailand) berusaha untuk menampilkan cerita yang kekinian. Hal ini tentu saja agar versi baru ini terasa lebih segar dan berbeda dengan apa yang dihadirkan dalam versi terdahulu.

Dari episode 1 F4 Thailand: Boys Over Flowers yang sudah tayang, kita bisa melihat usaha Patha Thongpan dalam menghadirkan visual yang berbeda. Beberapa hal dari cerita yang terasa sangat relevan dengan kejadian dan isu-isu masa kini. Berikut ini di antaranya:

1. Pencitraan

F4 ThailandWin Metawin (kiri) dan Nani Hirunkit (kanan) di F4 Thailand: Boys Over Flowers Foto: dok. GMMTV

"Aku mencarinya dan yang kulihat hanya hal-hal baik." - Gawao.

Semua orang berusaha menampilkan wajah terbaik mereka di media sosial saat ini. Hal-hal yang ditampilkan ke hadapan publik adalah yang ingin mereka perlihatkan dan mengubur sisi gelap mereka sedalam mungkin hingga tak terdeteksi. Hal ini dilakukan juga oleh F4.

Di luar SMA Köcher, F4 adalah idola yang sempurna. Sebuah geng cowok-cowok ganteng dan kaya dari kalangan atas. Tapi buat mereka yang ada di lingkungan SMA Köcher tahu bahwa F4 juga sosok yang kejam dan doyan mem-bully orang-orang yang bermasalah dengan mereka.

Gawao, bos Gorya (Tu Tontawan) di toko bunga, dalam sebuah adegan mencoba mencari nama F4 di internet. Dan dia hanya menemukan hal-hal baik tentang F4 tanpa sedikitpun mendapat informasi soal kejelekan mereka.

2. Akun anonim

F4 ThailandBright Vachirawit di F4 Thailand Foto: dok. GMMTV

Kita tidak pernah tahu siapa yang ada di balik akun Twitter atau Instagram yang menjelek-jelekan seseorang di internet. Mereka muncul di media sosial dengan akun anonim dan mengeluarkan sumpah serapah dan amarah di ruang publik. Tidak jarang pesohor Indonesia jadi sasaran akun-akun ini seperti yang belum lama ini menyerang Ayu Ting Ting dan anaknya, Bilqis.

F4 membawa isu ini ke level yang berbeda. Di SMA Köcher, ketika F4 sudah menabuh genderang perang dengan mengirimkan kartu merah ke seseorang, itu berarti semua siswa berhak buat menyerang orang tersebut.

"Mereka ingin melakukan yang tidak bisa mereka lakukan, seperti semua akun anonim itu. Kami F4 tidak melakukan apapun. Kami hanya membiarkan mereka memiliki akun anonim di kehidupan nyata," kata Thyme (Bright Vachirawit).

3. Tetap kuat, apapun yang terjadi!

F4 Thailand: Boys Over FlowersTu Tontawan di F4 Thailand: Boys Over Flowers Foto: dok. GMMTV

Hidup selalu memberikan kejutan dan itu termasuk hal-hal buruk. Gorya mengalami perundungan di sekolah karena berani menantang F4. Dia pun sempat merasakan keterpurukan selama beberapa saat karena hal ini. Di momen itu, Gorya berusaha menenangkan diri di tengah chat-chat yang masuk ke media sosialnya berisi caci maki. Di titik terendahnya, Gorya mendapat semangat dari orang tuanya bahwa dia harus tetap melangkah dan jadi pemberani.

Dalam ceritanya Hana Yori Dango memang kental dengan adegan bully yang dilakukan F4 dan antek-anteknya. Di versi Thailand ini ditekankan juga soal cyberbullying yang tidak hanya terjadi di Thailand saja, tapi juga di Indonesia. Dalam sebuah riset yang dilakukan Sartana & Afriyeni (2017) di kota Padang yang melibatkan 253 remaja awal (157 laki-laki, 196 perempuan) misalnya, ditemukan bahwa 49% responden (172 orang) pernah menjadi korban dan 99 orang dari korban adalah perempuan.

4. Uang adalah segalanya

F4 Thailand: Boys Over FlowersF4 Thailand: Boys Over Flowers Foto: dok. GMMTV

"Di negara ini saat ini, status keuangan adalah segalanya." - Ayah Gorya.

Dalam usahanya buat menenangkan Gorya, sang Ayah memberi petuah bagaimana dunia di sekitar mereka (yang dalam cerita adalah orang miskin) dikendalikan oleh orang-orang kaya. Gorya tertindas di sekolah bukan hanya karena dia cari masalah dengan F4, tapi juga karena dia datang dari status sosial yang dinilai lebih rendah dari anak-anak lain di SMA Köcher.

Dari masa ke masa, cerita soal uang yang memberikan privilege buat orang-orang kaya selalu muncul dalam cerita drama. Karena pada kenyataannya, hal ini pun terjadi di dunia nyata.

5. Sesuatu yang layak diperjuangkan

F4 Thailand: Boys Over FlowersF4 Thailand: Boys Over Flowers Foto: dok. GMMTV

Dengan tekanan dan perundungan yang diterimanya, Gorya bangkit karena menurutnya dia masih punya sesuatu yang diperjuangkan: harga diri. Ketika Thyme merusak sepatu pemberian orang tuanya yang buat Gorya adalah kado yang tidak ternilai, keberanian buat melawan pun tumbuh.

Adegan ini memberikan penegasan buat penonton bahwa semenyakitkan apapun hidup, selama kita masih punya sesuatu yang layak diperjuangkan, kita harus berusaha sampai titik darah penghabisan. Semangat seperti tentu saja akan selalu relevan hingga kapan pun.

(aay/pus)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT