ADVERTISEMENT

Spotlight

Perjuangan Syaura Asal Yogyakarta Melaju ke Penghargaan Seni Bergengsi

Tia Agnes Astuti - detikHot
Selasa, 13 Sep 2022 15:37 WIB
Syaura Qotrunadha
Seniman asal Yogyakarta, Syaura Qotrunadha. Foto: Courtesy of Museum MACAN
Jakarta -

Syaura Qotrunadha menjadi satu-satunya seniman Indonesia yang masuk dalam nominasi penghargaan seni media baru bergengsi di Asia bernama VH Award. Dari Yogyakarta, Syaura melaju ke skena seni Asia sampai Eropa.

Karya video art berjudul Fluidity of Future Machines atau dalam bahasa Indonesia berarti Ketidakstabilan Mesin Masa Depan (2021) menceritakan tentang video kolase arsip visual yang ditampilkan secara performatif. Bagaimana cerita perjuangan Syaura sampai lolos seleksi penghargaan seni media bergengsi tersebut?

Syaura menceritakan karya yang kini sedang mejeng di Museum MACAN itu disebutnya sebagai trilogi. Dua karya sebelumnya sudah dipamerkan dengan konsep, material, serta medium berkarya yang berbeda.

"Sebenarnya apa sih yang terjadi di masa depan, setelah mengetahui dari masa lalu, dan dibentuk dari masa sekarang, saya merisetnya mengalir saja. Selama 6 bulan mencoba mengetes-ngetes pakai mikroskrop sambil mengumpulkan elemen air dan tanah," buka Syaura ketika mengobrol dengan detikcom di Museum MACAN Jakarta, belum lama ini.

Sejak awal, dia sudah terpikir mengenai konsep waktu seperti masa lalu, sekarang, dan masa depan. Syaura pun mulai membentuk karakter untuk karyanya.

"Ketika VH Award buka lowongan, saya daftar lalu masuk nominasi," katanya.

Tak disangka, empat nominator seniman lainnya adalah mereka yang sudah berkecimpung dalam skena seni dan termasuk jajaran seniman profesioanl. Salah satunya adalah Lawrence Lek yang kini menjadi pemenang utama VH Award.

"Kagetlah. Aku jadi seniman yang paling muda," ungkap seniman berusia 30 tahun tersebut.

Awal melihat pengumuman di surel, lanjut Syaura, dia sangat terkejut. "Wah kayak serius nih. Tujuan awalnya bukan menang ward, lebih ke pengalaman. Bisa bantu banyak orang menang juga, karena pas pandemi dapat (dana) untuk berkarya wah lumayan yah," katanya.

Syaura yang segera mengenyam pendidikan Master Fine Art di Universitas Goldsmith, London, Inggris itu menceritakan sebelumnya kuliah jurusan Fotografi di ISI Yogyakarta. Dari fotografi, ia mengeksplorasi berbagai medium untuk berkarya.

"Awalnya saya tertarik dengan underwater photography dan journalism, tapi setelah sempat kerja di media, kayaknya bukan itu deh passion saya. Saya ingin mengerjakan banyak hal dan nggak sabar untuk kuliah Fine Art buat eksplorasi banyak hal itu," pungkasnya.

Bagaimana proses penciptaan Syaura dalam berkarya? Simak artikel berikutnya ya.

[Gambas:Instagram]





Simak Video "Keren! 3 Seniman Video Mapping Indonesia Lolos Tokyo Light Festival"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/pus)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT