Spotlight

Sapardi Djoko Damono Bawa Sastra Indonesia Menembus Zaman

Tia Agnes - detikHot
Selasa, 21 Jul 2020 15:38 WIB
Sapardi Djoko Damono
Sapardi Djoko Damono sukses mempengruhi sastra Indonesia Foto: Tia Agnes / detikHOT
Jakarta -

Lebih dari lima dekade, Sapardi Djoko Damono menjadi seorang penulis dan pengajar di kampus ternama. Kepenyairan Sapardi Djoko Damono mampu mempengaruhi karya penulis muda lainnya.

Sepeninggal Sapardi Djoko Damono, Gramedia Pustaka Utama (GPU) akan menjaga warisan karya sang penyair.

"Dengan seizin keluarga, kami akan meneruskan penerbitan buku-bukunya Pak Sapardi. Karena sastra Indonesia tanpa kehadiran Sapardi Djoko Damono tidak akan sampai ke tahap sekarang ini," ucap Editor Sastra GPU, Mirna Yulistianti, saat dihubungi detikcom, Selasa (21/7/2020).

Sapardi Djoko Damono, lanjut Mirna, sudah memberikan tradisi ke kepenulisan puisi. Banyak sekali penulis muda yang terpengaruh dengan cara kepenulisan dosen besar Universitas Indonesia tersebut.

Buku-buku Sapardi Djoko DamonoBuku-buku Sapardi Djoko Damono Foto: Tia Agnes/detikHOT

"Banyak juga yang meniru cara berpuisi Bapak. Karena Pak Sapardi berhasil meneruskan sebuah tradisi untuk sastra Indonesia. Untuk semangat itulah, GPU akan meneruskan dan menjaga buku-buku Pak Sapardi, termasuk yang belum terbit, terang Mirna.

Sejak 2013, buku-buku Sapardi Djoko Damono diterbitkan di bawah naungan Gramedia Pustaka Utama. Selama 7 tahun, sudah ada 25 buku yang terbit.

Buku-buku Sapardi yang diterbitkan oleh GPU di antaranya adalah Hujan Bulan Juni (hardcover), Melipat Jarak (hardcover), Babad Batu, duka-Mu Abadi, Ayat-ayat Api, Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?, Kolam, Namaku Sita, Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita, dan Perahu Kertas.

Buku-buku Sapardi Djoko DamonoBuku-buku Sapardi Djoko Damono Foto: Tia Agnes/detikHOT

Saat ini ada 3 warisan terakhir Sapardi Djoko Damono yang buku terbit yakni buku kumpulan puisi Mboel yang ditulis sebagai tribut untuk istri tercinta Sonya Sondakh, nonfiksi Sosiologi Sastra, dan novela Minuman Keras.


Cerita Lucu saat GPU Gaet Sapardi Djoko Damono

Editor Sastra GPU, Mirna Yulistianti, menceritakan kenangan sebelum tahun 2013 saat penerbitnya pertama kali menggandeng Sapardi Djoko Damono. Menurutnya, buku-bukunya terbit dengan berbagai penerbit lalu vakum lama.

"Kemudian rights buku-buku itu ditarik lagi oleh Pak Sapardi dan diterbitkan oleh penerbitnya sendiri yang bernama Editum. Ada masanya selama 14 tahun, Pak Sapardi menerbitkan sendiri, sampai di tahun 2013 dengan GPU," tuturnya.

Saat itu, Mirna menceritakan ia membuat kesalahan lucu yang mencantumkan puisi Aku Ingin milik Sapardi Djoko Damono di salah satu buku penulis lainnya. Ia salah mengutip frasa 'abu' menjadi 'debu'.

Sapardi Djoko Damono menerbitkan buku kumcer 'Sepasang Sepatu Tua'Sapardi Djoko Damono menerbitkan buku kumcer 'Sepasang Sepatu Tua' Foto: GPU/ Istimewa

Setelah buku itu dicetak, Mirna baru sadar lalu berusaha menyambangi rumah Sapardi dan meminta maaf. Ia berjanji mengganti kesalahan di cetakan sebelumnya.

"Karena memang orangnya baik banget, saya dibilang kamu gimana sih, ngaku murid saya tapi salah. Trus, ngobrol-ngobrol saya tanya kok Hujan Bulan Juni susah banget nyarinya, Pak Sapardi ngaku menerbitkan sesuai permintaan. Saya pulang, lalu saya kejar untuk menerbitkannya," kata Mirna.

Butuh waktu lama bagi GPU sampai mendapatkan izin merilis karya-karya Sapardi, dimulai dari versi hardcover untuk buku puisi Hujan Bulan Juni. Saat ini sudah cetak ulang sebanyak 15 kali.

Setelah buku puisi Hujan Bulan Juni rilis, dua bulan setelahnya laku keras. Akhirnya, Sapardi Djoko Damono mempercayakannya kepada GPU sampai sekarang.

"Dari situ alhamdulillah kerjasamanya lancar sekali, sudah 7 tahun dan 25 buku kami sudah terbitkan," pungkasnya.



Simak Video "Cerita Dewa Budjana yang Gagal Kolaborasi Bareng Sapardi Djoko Damono"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/doc)