detikHot

Spotlight

Ngomik Maksa Bikin Komik Politik yang Buat Orang Gerah

Selasa, 14 Jul 2020 13:24 WIB Tia Agnes - detikHot
Ngomik Maksa Ngomik Maksa menjadi Spotlight Culture detikcom hari ini Foto: @ngomikmaksa/ istimewa
Jakarta -

Komik digital @ngomikmaksa yang diciptakan pria asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan, tak sekadar karya yang menjamur di media sosial.

Abdi Rahman, 28 tahun, menciptakan Ngomik Maksa sejak tahun 2015. Satu dekade belakangan, perkembangan komik digital sedang pesat-pesatnya. Ia pun tak ingin ketinggalan momen tersebut.

Lulusan SMA Negeri 3 Banjarmasin itu mengaku tidak belajar dunia komik secara khusus, hanya otodidak dan bermodalkan nekat saja.

"Saya awalnya cuma suka bikin meme di medsos. Suka gambar komik tapi nggak pernah belajar. Gambar biasa aja dan kaget saat menang juara 2 tingkat nasional di Yogyakarta saat itu," cerita Abdi kepada detikcom.

Lambat laun, Abdi percaya diri membuat akun Instagram @ngomikmaksa. Bahkan karya komiknya kerap membuat orang 'gerah' dan 'panas' ketika membacanya.

Ada followers yang sampai menyebutnya sebagai komikus bayaran dan buzzer suatu partai politik serta pendukung lainnya. Tapi Abdi tak pernah mengambil pusing hal tersebut.

[Gambas:Instagram]



"Saya selalu ambil kritikan tapi santai, apa yang lagi ramai atau mau dibahas tentang isu-isu politik dan sosial yang mungkin kurang diangkat tapi itu penting," cerita Abdi.

Konten-konten politik yang diunggah dan paling banyak dikomentari, lanjut Abdi, adalah soal pendukung partai politik tertentu. Saat masa Pilpres beberapa waktu lalu, akun Instagram @ngomikmaksa ramai dihampiri para pendukung partai atau capres tertentu.

Baru-baru ini, Ngomik Maksa membuat komik obrolan soal dua pria yang paling dirindukan sebelum masa pandemi. Satu pria mengatakan ingin touring motor sambil kulineran, tapi yang lainnya malah rindu silaturahmi dengan wakil rakyat.

[Gambas:Instagram]




Bebas Berpendapat

Abdi menuturkan lewat @ngomikmaksa, ia ingin menyampaikan pesan siapapun bebas untuk punya opini.

"Kita jangan takut menyampaikan pendapat. Kalau kadang nyengol-nyenggol, ya namanya juga menyampaikan dengan cara yang santai dan bijak," tutur Abdi.

Ada banyak cara untuk mengkritik berbagai isu sosial, politik, dan budaya lewat cara yang elegan. Abdi pun kerap membuat gambar politik dengan mengganti ke simbol atau metafora tertentu.

Ia menyebutkan contoh, misalnya saja Ngomik Maksa ingin menyentil kepolisian atau wakil rakyat. Atributnya bisa diganti tapi konteks dan pesannya masih sampai kepada pembaca.

"Makna dan pesannya bisa sampai kepada followers dengan cara yang lebih oke," tukasnya.

Simak artikel berikutnya ya.




Simak Video "Komik Digital yang Mendidik, Semarang"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/dar)

Photo Gallery
FOKUS BERITA: Spotlight Culture
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com