Review The Menu: Nikmati Sajiannya, Tunggu Kejutannya

ADVERTISEMENT

Review The Menu: Nikmati Sajiannya, Tunggu Kejutannya

Candra Aditya - detikHot
Senin, 21 Nov 2022 21:04 WIB
The Menu (2022)
Foto: dok. Seacrhlight Pictures
Jakarta -

Ada beberapa film yang paling enak dinikmati kalau Anda tidak tahu apa-apa soal isi filmnya. Semakin sedikit info yang Anda tahu tentang film tersebut, semakin seru pengalaman menonton Anda. The Menu adalah salah satu contoh dari jenis film tersebut. Bagian ternikmat dari film ini adalah ketika Anda merasakan kejutan-kejutan yang ditawarkan, untuk pertama kalinya di kegelapan bioskop.

Ditulis oleh Seth Reiss dan Will Tracy, The Menu adalah sebuah komedi satir dahsyat dengan sentuhan thriller yang membuatnya menjadi tontonan yang sangat nikmat. Bayangkan Triangle of Sadness (atau Parasite) dan gabungkan dengan kebrutalan Squid Game (meskipun tidak se-gory Squid Game). Tokoh-tokohnya adalah orang-orang satu persen yang malam itu tidak menyangka akan menjadi bagian dari sajian tidak biasa dari chef Julian Slowik (Ralph Fiennes, luar biasa sempurna).

Di The Menu, kita diajak untuk menyantap hidangan sebuah restoran khusus orang kaya bernama Hawthorne yang perginya saja harus naik kapal. Harga per orangnya 1.250 dollar (sekitar 19 juta kalau dikurskan ke rupiah). Hari itu tamu-tamunya beragam. Dari kritikus makanan yang terkenal kejam (bisa membuat banyak restoran tutup), business bros yang dari cara ngobrolnya saja Anda bisa membayangkan betapa menyebalkannya mereka, miliarder ternama sampai seorang selebriti yang sudah tidak terkenal.

Diantara semua tamu yang datang ada Tyler (Nicholas Hoult, sangat meyakinkan untuk menjadi menyebalkan) yang terlihat seperti groupies-nya Slowik dan Margot (Anya Taylor-Joy, tidak bisa terlihat membosankan). Kalau Tyler sangat antusias dengan jamuan yang akan ia nikmati, Margot tidak ragu-ragu untuk memutar bola matanya setiap kali ia mendengar Tyler mendeskripsikan makanan seperti dewa.

Dari awal The Menu mulai, ia sudah sadar diri dengan tone-nya yang tidak biasa. Keanehan sudah muncul dari cara Elsa (Hong Chau, tahu bagaimana menyampaikan dialog tanpa ekspresi dengan paten), kapten restoran, memberi tour kepada tamu. Semua tamu tetap bisa menikmati hidangan chef sampai akhirnya mereka tahu bahwa mereka bukan sekedar tamu tapi mereka juga bagian dari menu.

Sebagai sebuah satir, The Menu tidak pernah sekalipun subtle. Dari awal ia meneriakkan apa yang ia ingin katakan. Meskipun begitu, The Menu tetap menggigit dari awal sampai konklusi yang gila karena ia berhasil mengikat penonton dengan tone yang spesifik dan senjata rahasianya: humor yang sangat baik.

Tidak ada satu pun komedian di film ini. Semua karakter bersikap serius. Tapi tunggu sampai Anda melihat bagaimana sutradara Mark Mylod (yang bertanggung jawab atas beberapa episode serial Succession yang sungguh luar biasa apik) menertawakan budaya cuisine yang hiperbola dan tingkah laku orang kaya yang menyebalkan. Dengan ekspresi serius, karakter-karakter ini akan mengucapkan dialog-dialog yang akan menggelitik perut Anda. Percayalah, Anda akan tertawa lebih banyak dari yang Anda duga.

Meskipun The Menu tidak menampilkan banyak darah atau teror, tapi film ini berhasil membuat saya duduk dengan tenang karena Mylod sangat berhasil membuat film yang sangat menegangkan. Bahkan sebelum adegan katalis yang membuat tone film berubah, The Menu sudah terasa tegang. Anda bisa merasakan sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Fakta bahwa Mylod bisa membuat film ini setegang roller coaster meskipun tanpa darah membuat saya semakin kagum dengan kemampuannya menyutradarai.

The Menu mungkin mengambil setting di satu ruangan, restoran Hawthorne, tapi film ini jauh dari kata membosankan. Secara visual, film ini indah dipandang (lengkap dengan shot-shot makanan yang sengaja dibuat estetik untuk membuat humornya semakin berkelas). Gerakan kameranya juga halus dan lincah. Production design-nya detil sementara editingnya mengalir dengan gemulai. Penonton bisa pindah ke satu meja ke meja lain tanpa terganggu. Tempo film ini ditata dengan sangat baik sehingga ketika filmnya ingin mengejutkan penonton, Anda akan menemukan diri Anda melongo menatap layar.

Semua aktor dalam The Menu tampil dengan baik tapi mungkin dua nama yang paling mencuri perhatian. Anya Taylor-Joy tahu bagaimana menjadi panduan penonton (karena seperti penonton, karakternya adalah outsider yang merasakan pengalaman ini untuk pertama kalinya). Ia tahu bagaimana menahan layar dan menjadi fokus. Ia tahu bagaimana menjadi idola. Margot di atas kertas mungkin hanya sekedar karakter biasa tapi di tangan Anya Taylor-Joy, Margot menjadi sosok yang sangat magnetik.

Ralph Fiennes di sisi lain tahu benar tone dan film apa yang sedang dibuat Mylod. Ia tahu membuat karakter ini menjadi protagonis dan antagonis pada saat yang bersamaan. Anda mungkin tidak setuju dengan caranya tapi siapapun pasti memahami alasan karakternya. Dalam salah satu dialog, Fiennes berhasil mengucapkan dialog terlucu yang saya tonton di bioskop tahun ini. Dan ia melakukannya seperti tanpa usaha.

The Menu mungkin bukan film terbaik yang saya tonton tahun ini tapi ini adalah salah satu film favorit saya tahun ini. Film ini luar biasa menghibur, luar biasa lucu, sangat menegangkan dan yang terakhir, membuat saya ingin merasakannya sekali lagi. Ajak teman Anda dan silahkan nikmati sajian yang sungguh tak terlupakan.

The Menu dapat disaksikan di seluruh jaringan bioskop di Indonesia.

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.



Simak Video "'The Invisible Man', Menegangkan dan Penuh Kejutan"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/tia)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT