Review Till Death: Cinta Sampai Akhir Hayat

ADVERTISEMENT

Review Till Death: Cinta Sampai Akhir Hayat

Candra Aditya - detikHot
Selasa, 20 Sep 2022 10:44 WIB
Till Death
Foto: Till Death (Dok. ist)
Jakarta -

Jangan tertipu dengan pembukaannya yang agak mirip telenovela, Till Death adalah sebuah thriller jempolan yang sanggup membuat saya memegang kursi dengan erat. Film ini bahkan melakukan hal yang lumayan susah untuk dilakukan: ia berhasil memberikan kejutan yang baru dalam genre film home invasion.

Dan kalau Anda kangen dengan aksi Megan Fox, film ini jelas tidak bisa dilewatkan. Emma (Megan Fox) tidak bahagia dengan pernikahannya. Mark (Eoin Macken) adalah laki-laki yang lumayan mengontrol dan kelak, Emma akan tahu seberapa sakit jiwa orang ini. Yang membuat sedikit telenovela adalah kenyataan bahwa Emma selingkuh dengan bawahan Mark, Tom (Aml Ameen).

Meskipun akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri perselingkuhannya (yang menjadi pembukaan film ini) tapi tetap saja harusnya Emma bisa memilih selingkuh dengan orang lain. Tapi drama film ini bukan dari sini. Drama film ini dimulai ketika Mark mendadak baik dan mengajak Emma untuk mengembalikan lagi cinta mereka yang mungkin hilang dengan makan malam romantis.

Mark mengajak Emma untuk bermalam di sebuah rumah antah berantah yang sepi agar mereka tidak diganggu. Ternyata ini hanya satu bagian dari rencana gila Mark. Keesokan harinya Emma terbangun dengan tangan terborgol tangan suaminya kemudian Mark bunuh diri.

Till Death melancarkan aksinya ketika Emma kedatangan dua orang perampok yang akan melakukan apa saja demi mendapatkan apa yang mereka mau. Agak susah untuk bisa bersembunyi dengan damai ketika Anda terbelenggu dengan mayat yang terikat dengan tangan Anda. Bagaimana cara Emma bisa selamat dari ini semua?

Ditulis oleh Jason Carvey dan disutradarai oleh S. K. Dale, Till Death sepertinya memang sengaja mau menipu penonton dengan melodrama di awal film agar penonton lebih shock ketika melihat teror yang akan ditawarkan sepanjang film. Usaha mereka berhasil karena drama yang ada di awal film tidak hanya menjadi pondasi yang menarik tapi juga membuat film ini terasa lebih beringas daripada film sejenis.

Till Death mungkin tidak akan terasa seseru itu kalau Carvey tidak mempersembahkan karakter utama yang layak untuk didukung. Megan Fox adalah aktor yang baik meskipun dia jarang mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan karakter yang ditulis dengan baik. Dengan Emma, Megan Fox berhasil melakukan berbagai hal. Ia bisa mengunyah adegan drama dengan baik dan ketika Till Death menunjukkan aslinya, Fox membuat Emma menjadi seorang heroine yang tangguh.

Sangat menyenangkan sekali melihat bagaimana keputusan-keputusan Emma untuk mempertahankan diri terlihat cerdas. Emma bukan damsels in distress. Kecepatannya untuk mengambil keputusan adalah alasan kenapa film ini sangat menarik untuk diikuti.

Bagian terbaik Till Death adalah ketika ia membuat perangkap untuk membuat penonton mulas. Saat karakter-karakternya bermain kucing-kucingan (lengkap dengan Emma yang masih 'tersambung' dengan jasad suaminya), ketegangan Till Death berada di puncak tertinggi. Meskipun pada akhirnya karakter penjahat di film ini cukup generik, tapi menyaksikan konfrontasi antara Emma dan penjahat-penjahatnya tetap seru untuk disaksikan.

Secara presentasi, Till Death memang terlihat 'murah'. Production value-nya hanya setingkat lebih tinggi dari film-film kelas B. Tapi itu tidak mengurangi kenikmatan film ini. Till Death mempunyai amunisi yang lumayan untuk membuat Anda tegang sepanjang film.

Till Death dapat disaksikan di seluruh jaringan bioskop di Indonesia

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.



Simak Video "'The Invisible Man', Menegangkan dan Penuh Kejutan"
[Gambas:Video 20detik]
(dal/dal)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT