ADVERTISEMENT

Review Peacemaker: Metal, Liar dan Luar Biasa Lucu

Candra Aditya - detikHot
Kamis, 24 Feb 2022 19:36 WIB
Peacemaker
(Foto: dok. WarnerMedia) Peacemaker tidak hanya berhasil menjadi warisan The Suicide Squad yang baik, tapi juga tontonan yang ditunggu-tunggu.
Jakarta -

Kalau Suicide Squad tidak memberikan warisan apa-apa kecuali kekecewaan, The Suicide Squad versi James Gunn tidak hanya berhasil menyelamatkan para pahlawan DC yang nyentrik tapi juga mengenalkan kita terhadap Peacemaker (John Cena), pahlawan yang sungguh aneh karena dia bisa mengucapkan bahwa dia rela membunuh siapa saja (termasuk perempuan dan balita) demi kedamaian. Kostum yang dipakai Peacemaker memang sengaja terlihat kekanak-kanakan karena seperti yang kita lihat di The Suicide Squad, kelakuannya pun demikian. Christopher Smith alias Peacemaker seperti seorang remaja akil balig yang terjebak di tubuh laki-laki dewasa.

Kalau Anda menonton The Suicide Squad, Anda pasti tahu bahwa Peacemaker ternyata masih hidup dan ditahan oleh Amanda Waller (Viola Davis). Kali ini dia mendapatkan hukuman untuk melaksanakan sebuah misi rahasia bersama bosnya Clemson Murn (Chukwudi Iwuji), si Emilia Harcourt (Jennifer Holland) yang sungguh tangguh, si anak baru Leota Adebayo (Danielle Brooks), si kuper John Economos (Steve Agee) dan orang yang ngaku-ngaku sidekick-nya yang mengaku bernama Vigilante (Freddie Stroma). Walaupun mereka tidak memakai kostum superhero (cuman dua yang pakai) tapi jangan khawatir, mereka tidak lebih aneh dari geng Suicide Squad.

Tadinya Smith/Peacemaker merasa bahwa misi ini terlihat mudah. Sampai akhirnya dia baru tahu kalau ada alien bernama Butterfly (yang memang bentuknya seperti kupu-kupu), masuk ke dalam manusia dan mencoba untuk menguasai Bumi. Ini belum termasuk bapaknya, August Smith (Robert Patrick), yang tidak hanya keras tapi juga seorang Nazi dan luka masa lalunya. Seperti halnya sebuah serial yang baik, James Gunn mengajak kita untuk meneliti lebih lanjut kenapa pahlawan yang satu ini selalu mencoba ngelucu dan kenapa dia tidak bisa move on dari traumanya.

Kalau Anda menginginkan sesuatu yang jauh lebih fresh dari serial Marvel Cinematic Universe (WandaVision, Loki, The Falcon and the Winter Soldier, Hawkeye) dan jauh lebih edgy, Peacemaker adalah jawabannya. Bahkan dari opening credits-nya (yang kalau bisa dibilang adalah salah satu opening credits terbaik yang pernah saya lihat akhir-akhir ini), Peacemaker sudah mengenalkan tone yang akan dia bawa dengan sempurna. Menggunakan lagu Wig Wam berjudul "Do Ya Wanna Taste It", Peacemaker terasa sekali seperti barisan aktornya yang menari dengan kocak di opening credits-nya: penuh warna, liar, energetik, dan tidak terlalu serius memandang dirinya sendiri. Ketika Anda sampai di judul dan si burung rajawali (Eagly yang merupakan sahabat Peacemaker), Anda akan tahu bahwa Anda diundang ke sebuah universe yang lain.

Delapan episode yang ditulis oleh James Gunn (dia menyutradarai lima dari delapan episode) penuh dengan tanda tangan Gunn yang selalu berhasil menyeimbangkan drama dan komedi. Gunn selalu bisa membuat karakter-karakternya mengucapkan dialog-dialog nyeleneh di tengah peristiwa genting dan di Peacemaker Anda akan menemukan banyak sekali momen seperti ini. Yang membuat adegan-adegan ini terasa menyenangkan adalah semua aktor yang ada di layar mati-matian menjual tone yang diusung oleh Gunn. Hasilnya adalah hiburan tanpa henti.

Dengan durasi yang optimal (episode paling panjang 46 menit), Peacemaker berhasil tidak hanya menawarkan ketegangan khas serial aksi tapi juga mengenalkan lebih lanjut karakter utama kita. Adegan-adegan yang ada mungkin tidak ada yang semahal The Suicide Squad, tapi berkat totalitas James Gunn untuk membuat serial ini sebagai tontonan orang dewasa, Ada keseruan menyaksikan darah beneran ketika karakternya saling baku hantam atau bunuh-bunuhan. Sebagai sebuah drama, Peacemaker lebih dari berhasil tidak hanya untuk mengenalkan ulang Peacemaker tapi juga memberi tahu penonton siapa sebenarnya Christopher Smith dan kenapa dia bisa menjadi seperti itu.

Serial ini memang bukan drama yang berat tapi bukan berarti ceritanya cetek. John Cena di Peacemaker berhasil meyakinkan saya bahwa dia adalah seorang aktor. Semua aktor dalam Peacemaker memang bermain dengan apik dan mendapatkan spotlight sendiri-sendiri sesuai porsinya tapi John Cena berhasil memberikan gambar Peacemaker yang sangat tiga dimensional. Dalam adegan laga kita tidak perlu meragukan lagi kemampuannya mengingat latar belakangnya. Bagian komedinya juga sudah tidak perlu dipertanyakan lagi karena sebelum The Suicide Squad pun Cena sudah mencicipi satu dua komedi dan berhasil mencuri perhatian. Tapi di bagian emosional, Peacemaker mungkin pertama kalinya Cena dituntut untuk memberikan kedalaman yang lebih. Dan dia sama sekali tidak mengecewakan, terutama di dua episode terakhir.

Dengan konklusi yang memuaskan (sekaligus mengharukan) dan set-up yang baik, Peacemaker akhirnya berhasil tidak hanya menjadi warisan The Suicide Squad yang baik tapi juga menjadi salah satu tontonan yang saya tunggu-tunggu. Kalau Anda mencari tontonan gila khusus untuk penonton dewasa yang penuh dengan berbagai emosi, Peacemaker sangat saya rekomendasikan untuk menemani hari-hari Anda. Di akhir episode, saya yakin Anda akan menemukan teman-teman baru yang ngangenin.

Peacemaker dapat disaksikan di HBO GO.

---

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

(aay/aay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT