The Devil All The Time, Taburan Bintang dalam Kisah Kelam yang Mengusik

Daniel Irawan - detikHot
Kamis, 05 Nov 2020 10:08 WIB
The Devil All the Time
Tom Holland dalam The Devil All The Time / Foto: Dok. Netflix
Jakarta -

Ketimbang materi aslinya - novel berjudul sama karya Donald Ray Pollock yang dirilis tahun 2011 dan berstatus acclaimed, ataupun nama Jake Gyllenhaal sebagai salah satu produsernya, hal yang lebih dulu menarik perhatian buat rata-rata pemirsa The Devil All the Time tentulah deretan cast-nya.

Ada dua bintang dari MCU (Marvel Cinematic Universe) - pemeran Spider-Man, Tom Holland dan Bucky, The Winter Soldier, Sebastian Stan, lantas ada pemeran Batman mendatang yang juga naik daun lewat waralaba film Twilight, Robert Pattinson. Belum cukup? Masih ada Jason Clarke (Trilogi Planet of the Apes versi Matt Reeves), Bill Skarsgard (Pennywise di It), Haley Bennett (Music & Lyrics), Riley Keough (Mad Max: Fury Road) dan Mia Wasikowska (Alice in Wonderland) menambah barisan ansambel itu.

Tapi jangan salah. Dengan deretan bintang sebanyak itu, The Devil All the Time sama sekali bukan sebuah blockbuster Hollywood ingar-bingar yang menjual pesona fisik pemainnya. Sebagai adaptasi novel Ray Pollock, ia memang merupakan sebuah thriller kriminal psikologis super-kelam yang tak semudah itu diikuti terutama buat para penonton pencari hiburan. Disutradari Antonio Campos, sutradara yang membesut film biopic 'Christine' tahun 2016, skripnya langsung ditulis oleh Ray Pollock bersama saudara Antonio, Paulo Campos. 5 hari setelah rilis terbatas di sejumlah jaringan bioskop 11 September lalu, The Devil All the Time tayang di Netflix 16 September 2020.

Menggelar kisah lintas generasi dari sejumlah keluarga di daerah deep south Amerika, semua karakter dalam The Devil All the Time memang digagas dari abu-abu ke hitam kelam untuk terhubung lewat tragedi demi tragedi atas sisi gelap yang bercampur-baur antara trauma dan harapan-harapan reliji buta. Dari generasi Sersan Willard Russell (Skarsgard) yang menderita PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) setelah perang atas penyisksaan rekannya oleh tentara Jepang dan kemudian menikahi pelayan kafe, Charlotte (Bennett) yang memberinya seorang anak, Arvin (dewasanya diperankan Holland), Helen (Wasikowska), gadis relijius yang menikahi seorang penginjil radikal, Roy (Harry Melling) dan pasutri pembunuh berantai Carl (Clarke) dan Sandy (Keough) ke generasi selanjutnya; Arvin dewasa, putri Helen - Lenora (Eliza Scanlen), pendeta cabul Preston (Pattinson) dan Sheriff korup Lee Bodecker (Stan), semua karakter-karakter yang seakan mewarisi keburukan jiwa ini akhirnya bersinggungan di sebuah persimpangan tak berujung tanpa jalan keluar.

The Devil All the TimeThe Devil All the Time Foto: Dok. Netflix

Tak mudah mungkin menerjemahkan 7 bagian novel asli Pollock - prolog dan 6 chapter-nya, ke dalam visualisasi film dengan pola intertwined antar karakter dan konflik berlapis yang juga mau tak mau terhalang oleh keterbatasan durasi. Namun begitu, Pollock dan Paulo Campos rasanya cukup berhasil membangun penceritaannya meski lewat alur maju mundur. Skrip mereka bisa jadi membuat The Devil All the Time terasa sekali bergerak pelan tanpa tergesa sepanjang durasi yang cukup panjang melewati 2 jam, namun interkoneksinya hampir tak pernah terasa bolong-bolong serta terbata-bata. Benar bahwa pilihan ansambel ini memang sangat membantu, selain pendekatan tanpa kompromi dalam menyelami kekelaman jiwa para karakternya yang sangat mengusik.

Ada banyak sekali mungkin thriller-thriller kriminal dengan kapasitas sejenis, namun harus diakui, tak semua bisa berhasil membuat kita - pemirsanya, benar-benar merasa tak tenang seakan tengah diintai oleh sesosok monster dari atmosfer yang dibangun dengan baik oleh Antonio Campos. Sedikit banyak, pencapaian The Devil All the Time dalam banyak aspek yang sama sangat mengingatkan pada film Nocturnal Animals tahun 2016 yang kebetulan juga dibintangi Jake Gyllenhaal.

Memerankan Arvin yang mengemban trauma sang ayah dalam tiap gesturnya, Tom Holland bertransformasi baik sekali dari sosoknya yang selama ini melekat lewat peranan Peter Parker yang ngocol di Spider-Man MCU, selagi MVP (Most Valuable Player) lain rasanya layak sekali disematkan ke Robert Pattinson sebagai Preston dan segala kegilaan performanya. Meski bermain komikal hingga ke dialek - tak hanya dialek Selatan sesuai set-nya, ini mungkin jadi salah satu performa terbaik Pattinson pasca Twilight yang terus mengeksplor idealisme aktingnya. Begitu pula Eliza Scanlen yang mendapat porsi sentral di tengah-tengah mereka.

Sebastian Stan, Mia Wasikowska, Haley Bennett terutama Jason Clarke dan Riley Keough juga mengimbangi Holland, Scanlen dan Pattinson tak kalah baik. Mungkin tahu benar tak mudah mengemas The Devil All the Time sebagai thriller psikologis serba kelam dengan lapis serta rentang panjang penceritaannya untuk bisa benar-benar bisa diikuti sepanjang 138 menit, Campos benar-benar fokus untuk mengeksplorasi performa para pendukungnya.

Tak jarang, bahkan berkali-kali membuat kita terusik sampai bergidik tanpa perlu menampilkan kesadisan kelewat vulgar, The Devil All the Time berhasil membawa esensi materi aslinya saat bicara soal benang merah kelam, tekanan, kegilaan hingga kriminalitas sebagai sebuah ekses harapan-harapan buta terhadap sebuah kepercayaan. Benturan-benturan trauma dan dampak mengerikan terhadap kebutaan iman yang ditampilkan dalam The Devil All the Time pun jadi terasa relevan sekali dengan apa yang sering kita lihat di sekitar kita sekarang ini.

The Devil All the TimeThe Devil All the Time Foto: Dok. Netflix

Mengingat pendekatan genre-nya bukanlah sesuatu yang mungkin terasa akrab bagi penonton awam kebanyakan, atau jelas bukan tipe film yang walau bertabur bintang namun semudah itu lancar-lancar saja diimpor oleh distributor lokal, mungkin ada baiknya juga sekarang kita punya pilihan untuk menyaksikan film-film seperti ini lewat platform OTT walaupun pengalaman sinematisnya tetap tak akan sama. Terlebih, The Devil All the Time memang disyut menggunakan seluloid. Paling tidak, coba nikmati pengalamannya di medium sebesar mungkin buat bisa benar-benar merasakan detil-detil warna, tekstur dan aspek audio-visual lainnya.



Simak Video "Kompaknya Gisella Anastasia dan Gading Marten Rayakan Ultah Gempi"
[Gambas:Video 20detik]
(doc/doc)