Raised By Wolves: Perang Agama dan Sains di Planet Antah Berantah

Hafilova - detikHot
Minggu, 04 Okt 2020 20:28 WIB
Abubakar Salim dan Amanda Collin
Raised by Wolves Foto: (dok.imdb.)
Jakarta -

Terbang tinggi dari penjara yang kejam menuju ke ratusan tahun cahaya ke Kepler-22b yang asing dan misterius, Aaron Guzikowski, penulis di balik kesuksesan serial Prison Break 2013 silam kini mencoba menghadirkan sesuatu dengan taruhan lebih menantang dari sekedar cerita tentang dua bersaudara yang berusaha kabur dari penjara dalam serial fiksi ilmiah terbaru HBO; Raised by Wolves yang tayang perdana awal September lalu.

Premis Raised by Wolves sendiri secara garis besar punya konsep fiksi ilmiah yang menarik dan mungkin bisa dibilang ambisius. Narasi tentang sepasang android , "Father" (Abubakar Salim) dan "Mother" (Amanda Collin), (ya, begitu mereka menyebut diri mereka) yang ditugaskan untuk merawat anak-anak manusia di planet antah berantah Kepler-22b setelah bumi yang kita tinggali hancur akibat perang besar antar manusia sendiri.

Yang menarik dari sekedar nama seorang Aaron Guzikowski adalah kehadiran sutradara gaek Ridley Scott yang tidak hanya bertindak sebagai produser eksekutif saja namun juga langsung turun tangan membidani dua episode awal Raised by Wolves. Ya, kita tahu Scott bukan nama asing lagi di ranah sinema fiksi ilmiah, dari Alien, Blade Runner , Prometheus sampai The Martian, Scott jelas adalah jaminan mutu buat para sci-fi geeks.

Episode pilot tak pelak menjadi bagian paling krusial dari sebuah serial. Jika memulainya dengan buruk maka bakal susah meyakinkan penontonnya untuk terus maju. Beruntung Raised by Wolves memulai segalanya dengan baik, tentu saja semuanya tidak lepas dari jasa Scott yang membentuk dua seri awalnya dengan solid. Set planet Kepler-22b yang atmosfernya mengingatkan kita pada planet LV-223 di Prometheus yang gersang lengkap dengan segala kemisteriusannya yang menantang dan berbahaya untuk dijelajahi tersaji apik berkat dukungan CGI yang mumpuni. Bagaimana efektifnya pilot episode berjalan cepat dan kemudian diakhiri dengan momen berdarah membuat kesan pertama Raised by Wolves terasa begitu menggoda.

Sementara untuk narasinya pun tak kalah menggoda. Guzikowski tak hanya bercerita soal bagaimana kolonisasi dan proses bertahan hidup di sebuah planet baru nan asing yang dilakukan oleh para android dengan membesarkan anak-anak manusia, tapi dalam perjalannya Guzikowski membawa Raised by Wolves lebih dalam lagi ketika ia mulai bermain-main membenturkan eksistensi manusia, android sampai tema kontroversial agama dan sains, para religius dan atheis yang menjadi alasan perang besar yang membuat bumi tak lagi bisa ditempati , ya, ini adalah konsep fiksi ilmiah yang menantang meski dalam pergerakannya di setiap episode terasa terseok-seok, Guzikowski masih punya amunisi untuk membuat penontonnya punya alasan untuk terus bergerak sampai ujung episode.

Seperti yang saya katakan di atas, memulai dengan meyakinkan namun perjalanan Raised By Wolves setelah dua atau tiga episode pertamanya mungkin tak lagi mulus, alurnya melambat dan tertatih-tatih seiring dengan lebih banyak karakter yang mulai masuk untuk meramaikan Kepler-22b. Cerita tak lagi berpusat pada Mother dan Father serta Campion (Winta McGrath), anak mereka satu-satunya yang bertahan hidup, ada Marcus (Travis Fimmel) dan istrinya, Sue (Niamh Algar), dua tentara atheis yang menyusup ke bahtera kaum Mithraic untuk bertahan hidup bersama putra mereka, Paul (Felix Jamieson). Ya, alasan mengapa Raised by Wolves masih bisa membuat penontonnya terikat selain rasa penasaran untuk mencari jawaban dari misteri Kepler-22b, siapa sebenarnya Sol yang dipuja para Mithraic dan kejutan-kejutan kecil yang muncul di setiap episodenya, ya karena karakter Mother yang dibawakan luar biasa oleh Amanda Collin. Mother bukan hanya sekedar android yang diprogram sebagai ibu yang menjaga dan merawat anak-anak manusia, dalam perjalanannya, setelah sebuah pengungkapan siapa sebenarnya dia, Mother menjadi karakter kompleks yang bisa disukai sekaligus dibenci sama kuatnya. Sementara di sisi lain Marcus pun menjadi tokoh yang sama menariknya dengan Mother. Berangkat dari pasukan elit ateis yang tentu saja tak percaya dengan Tuhan dan segala keyakinan Mithraic yang dianggapnya sebagai omong kosong, Marcus kemudian menemukan dirinya terjebak di Kepler-22b dengan kekuatan misterius dari planet asing yang tak pernah ia temukan sebelumnya, membawanya ke dalam sebuah perjalanan spiritual yang mengubah cara pandangnya.

Jadi kesimpulannya, Raised by Wolves musim pertama yang saat ini sedang tayang di Mola TV ini punya banyak amunisi kuat untuk membuatnya dilirik oleh para penonton sci-fi geeks yang mungkin bakal rela untuk menghabiskan kurang lebih 10 jam waktu berharga mereka. Dari konsep perang religi dan sains yang menantang, bertahan hidup di planet yang mengancam serta pengembangan karakter yang kuat, Raised by Wolves patut kamu masukkan sebagai salah satu series sci-fi terbaik tahun ini.



Simak Video "Ternyata Sophia Latjuba dan Iwan Fals Orangnya Cemburuan!"
[Gambas:Video 20detik]
(dar/dar)