HUMANS: Memasyarakatkan Robot, Merobotkan Masyarakat

Cenayang Film - detikHot
Kamis, 15 Okt 2020 17:21 WIB
HUMANS
Foto: HUMANS
Jakarta -

Meminjam kalimat teman saya yang akhir-akhir ini rajin menulis soal kebucinannya, "Kita hanya butuh dicintai, bukan dilayani," katanya.

Konteksnya adalah menyikapi keributan abadi khalayak netizen soal pentingnya nikah dan nggak nikah. Kenapa disebut keributan abadi? Ya karena memang perdebatan soal ini seakan nggak ada habisnya. Nikah muda, telat nikah, memilih nggak nikah, lalu soal siapa yang dilayani dan siapa yang melayani, ini tugas siapa, itu tanggung jawab siapa, dan lain-lainnya.

Semua jadi bahan ribut nggak kelar-kelar. Masing-masing dengan opininya tanpa mau mendengar opini lawan bicara. Keributan yang selalu penuh kosakata ajaib dan bikin geleng-geleng kepala. Padahal kata teman saya lagi, - masih orang yang sama dengan yang akhir-akhir ini rajin menulis soal kebucinannya itu - hal paling percuma di dunia adalah meladeni semua opini di internet.

Sampai di sini kita sudah punya dua statemen.
1. Kita semua hanya butuh dicintai, bukan dilayani.
2. Hal paling percuma di dunia ini adalah meladeni semua opini di internet.

Yang akan kita bahas kali ini adalah poin pertama. Bahwa manusia memang sebenarnya cuma butuh dicintai, bukan dilayani. Itulah premis utama dari HUMANS, series taun 2015 yang baru diakuisisi Mola TV.

Cerita HUMANS berawal ketika sebuah keluarga memutuskan membeli "Synth" buat dijadikan pelayan dan asisten rumah tangga. Di dalam universe HUMANS, Synth adalah robot pelayan yang didesain mirip sekali dengan manusia. Beneran mirip. Lengkap sama emosi dan kelabilannya. Yang kerjanya nggak cuma "Yes, Sir!" atau he eh he eh doang, tapi juga bisa berargumen, ngebantah, sedih, marah, bahkan ngambek.

Intinya, robot tapi manusia. Manusia tapi robot. Memasyarakatkan robot, merobotkan masyarakat, kalau kata almarhum Kasino Warkop.

Synth milik keluarga Joe Hawkins adalah Anita a.k.a Mia. Kenapa Anita dipanggil Mia atau kenapa Anita bisa dipanggil Mia nggak usah kita bahas karena bisa jadi spoiler. Anita atau Mia diperankan dengan manis sekali oleh Gemma Chan. Kebayang kan? Di rumah yang berantakan karena penghuninya pada sibuk dan anak-anaknya pada males semua, ada robot pelayan bentukannya kayak Gemma Chan? Anyway, HUMANS ini series taun 2015 ya. Jadi 3 tahun sebelum Gemma jadi jadi Astrid Leong dengan quote memorablenya "It's not my job to make you feel like a man!" yang memenya bertebaran di internet itu.

Sementara di tempat lain, ada Leo (Collin Morgan) dan Synth bernama Max (Ivanno Jeremiah) yang sedang mencari teman-teman Synth lainnya yang kabarnya diculik sebuah kelompok. Cerita kemudian makin bergulir makin ke mana-mana. Kita diperkenalkan dengan banyak lagi Synth-Synth lain dengan macem-macem profesi. Meski judulnya HUMANS, series ini ternyata lebih banyak bercerita soal robot. Kalau mau disambung-sambungin, ini kayak kebalikan dari series judulnya Mr Robot tapi ceritanya malah soal manusia.

Cerita robot yang berbaur sama manusia memang bukan hal baru. Pernah ada Ex Machina, AI Rising, Blade Runner (yang ada Ana De Armas rambut biru guede banget selayar itu), dan masih banyak lagi. Cerita "robot pelayan" yang problematik juga sudah ada sejak zaman cerita Franskenstein. Cerita-cerita seperti itulah yang nggak pernah mati dimakan zaman. HUMANS masih memakai formula yang sama. Ada saat kita simpati sama para protagonis, di waktu lain kita bisa simpati sama antagonisnya. Karena hidup memang berubah. Semuanya berubah. Hidup nggak akan pernah hitam putih. Manusia nggak selalu lebih baik dari robot. Begitu juga sebaliknya. Ada robot baik, ada yang awalnya disangka baik tapi ujug-ujug jadi jahat. Manusia-manusianya pun kurang lebih sama. Nggak semua Gemini itu jahat, nggak semua Cancer baperan, nggak semua Pisces doyan selingkuh, dan nggak semua Sagitarius brengsek.

Meski genrenya scifi, HUMANS tetap menampilkan karakter-karakter manusiawi dan drama yang manusiawi juga. Synth adalah robot-robot yang dirancang untuk memiliki emosi. Mereka punya keinginan, harapan, dan tujuan. Bahkan Synth yang "villain" juga punya latar belakang dan alasan jelas kenapa mereka seperti itu.

Interaksi Synth dengan manusia tampil menyenangkan. Synth bisa memutuskan mau merekam kenangan yang mana. Kenangan baik atau buruk? Ya sebenarnya sama kayak kita semua. Kita bisa memilih. Mau mengisi memori dengan hal buruk atau cuma yang baik-baik saja. Bedanya dengan Synth, kita bisa memilih sesuka kita, Sementara Synth enggak. Karena bagaimana pun para Synth ini bukan manusia. Synth selalu diprogram agar patuh pada kontrak dan janji dengan pemilik utamanya. Meskipun yang namanya janji seringkali lemah. Sumpah saja bisa dilanggar, apalagi cuma janji. Ya kan?

Nggak deng. Di Humans, Synth beneran awalnya diprogram biar nurut. Tapi khittah-nya juga robot. Selalu ada cara buat nge-reset ulang, ngehapus memorinya, di-upgrade, bahkan bisa juga di-downgrade. Di HUMANS, para Synth tingkat upgrade inilah yang jadi sumber masalah. Mereka berserikat, berkumpul, dan merencanakan pemberontakan. Mereka punya kompas moral dan ego sendiri. Synth yang tingkatannya jauh di atas Synth lainnya, bahkan sering merasa lebih sempurna dari manusia.

HUMANS pasti mengingatkan kita sama Black Mirror. Premis klasik tentang teknologi dan bahayanya, ketakutan manusia, kontrol yang pelan-pelan diambil alih mesin, "pembantu" yang akhirnya jadi "pengganggu", dan semacam itu. Bedanya dengan Black Mirror, HUMANS adalah cerita berkelanjutan dengan kadar drama lumayan kental. Alur agak lambat karena lumayan banyaknya karakter, konflik nggak simpel tapi juga nggak ribet, dan beberapa plot twist yang lumayan. Mengagetkan sih enggak, tapi ya lumayan.

Ada banyak cerita tentang persahabatan di sini. Juga tentang keluarga dan pengorbanan. Dan tentang pentingnya kita tahu batas dan "nggak melangkahi garis". HUMANS adalah cara para robot mengajari kita-kita yang manusia. Hampir sama kayak kata almarhum Kasino Warkop di paragraf-paragraf awal tadi. Memanusiakan robot. Merobotkan manusia.

Dibintangi Gemma Chan, Emily Benington, Tom Goodman-Hill, Colin Morgan, Ivano Jeremiah, Katherine Parkinson, Lucy Carless. 3 Season, masing-masing sekitar 40 menit. Sedang tayang di Mola TV.



Simak Video "Haaland 2 Gol, Dortmund Bekuk Freiburg 4-0 "
[Gambas:Video 20detik]
(dar/dar)