Presenter Ini Meninggal Dunia Usai Divaksin AstraZeneca

Asep Syaifullah - detikHot
Jumat, 28 Mei 2021 14:36 WIB
Foto kolase dari ilustrasi masker dan vaksin pfizer
Presenter Ini Meninggal Dunia Usai Divaksin AstraZeneca (Foto: AP Photo)
Jakarta -

Presenter dan penyiar BBC Radio bernama Lisa Shaw meninggal dunia usai mengalami pembekuan darah setelah mendapatkan vaksin AstraZaneca belum lama ini.

Wanita berusia 44 tahun itu awalnya merasakan sakit kepala yang dahsyat usai mendapatkan vaksin. Tak lama setelahnya ia pun jatuh sakit dan dilarikan ke rumah sakit.

Dokter pun mendiagnosa jika Lisa mengalami pembekuan darah (blood clot) dan meninggal dunia setelah mengalami pendarahan hebat pada Jumat (28/5) di Royal Victoria Infirmary di Newcastle, Inggris.

Hingga saat ini masih dalam penyelidikan apakah vaksin tersebut yang memicu terjadinya pembekuan darah tersebut atau bukan. Pasalnya menurut The Medicine and Healthcare product Regulatory Agency (MHRA) tak ada bukti jika vaksin yang memicu hal tersebut meskipun korban yang jatuh makin banyak.

"Lisa mengalami sakit kepala seminggu usai vaksin AstraZanece dan jatuh sakit beberapa hari setelahnya," tutur sang ibu pada BBC.

"Sedikit melegakan melihat betapa banyak orang yang menyayanginya. Namun kami meminta waktu secara pribadi untuk berduka atas kepergiaannya," tambahnya.

Lisa Shaw sebelumnya menjadi salah satu pengisi di radio komersial dan memenangkan Sony Gold Awards pada 2012 lalu untuk acara pagi yang dibawakannya bersama Gary Philipson di Real Radio.

Berdasarkan data medis tercatat jika peluang untuk mengalami pembekuan darah bagi orang berusia di atas 40 tahun sebesar satu banding seratus ribu, sementara resiko kematian jika mengalami pembekuan darah sebesar satu banding satu juta.

Vaksin AstraZaneca juga sempat menjadi perbincangan di Tanah Air. Bahkan vaksin dengan nomor batch CTMAV547 sempat dihentikan sementara terkait dugaan KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi). Hasil uji toksisitas dan sterilitas pun telah diumumkan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sekaligus memastikan batch tersebut aman.

Uji sterilitas dan toksisitas abnormal dilakukan di Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPPOMN) Badan POM. Tujuannya untuk mengetahui adanya keterkaitan antara mutu produk dengan KIPI yang dilaporkan, terutama terkait konsistensi mutu saat distribusi dan penyimpanan.

"Berdasarkan hasil pengujian tersebut, dapat disimpulkan bahwa tidak ada keterkaitan antara mutu Vaksin COVID-19 Astrazeneca nomor bets CTMAV547 dengan KIPI yang dilaporkan," tulis BPOM dalam rilisnya, dikutip pada Jumat (28/5/2021).

"Untuk itu, Vaksin COVID-19 AstraZeneca nomor bets CTMAV 547 dapat digunakan kembali," pungkasnya.

Sebelumnya Komnas KIPI dalam rapat dengan Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI menyebut sejauh ini ada 30 laporan KIPI serius yang mematikan. Dari jumlah tersebut, 27 kasus terjadi pada penerima vaksin Sinovac dan 3 kasus pada penerima vaksin AstraZeneca.

(ass/dar)