Salman Rushdie Berangsur Sehat, tapi Salah Satu Matanya Kini Buta

ADVERTISEMENT

Salman Rushdie Berangsur Sehat, tapi Salah Satu Matanya Kini Buta

Tia Agnes Astuti - detikHot
Rabu, 26 Okt 2022 08:25 WIB
British author Salman Rushdie poses with his book Quichotte during the photo call for the authors shortlisted for the 2019 Booker Prize for Fiction at Southbank Centre in London on October 13, 2019. (Photo by Tolga AKMEN / AFP) (Photo by TOLGA AKMEN/AFP via Getty Images)
Foto: (Tolga Akmen/AFP/Getty Images)
Jakarta -

Peristiwa penikaman dan percobaan pembunuhan yang menimpa novelis Salman Rushdie pada 12 Agustus menjadi sorotan internasional. Kini kesehatannya kembali pulih dan berangsur sehat.

Agen Salman Rushdie, Andrew Wylie, mengatakan sang novelis kehilangan salah satu mata dan tangannya tidak bisa lagi digunakan. Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Spanyol, El Paris, Salman Rushdie menderita 3 luka serius di leher dan 15 luka di bagian dada dalam serangan tersebut.

"Tak hanya salah satu penglihatannya yang buta, tapi salah satu tangannya juga lumpuh," ungkap Andrew Wylie, dilansir dari berbagai sumber.

Setelah serangan yang terjadi dalam acara diskusi sastra di New York, Salman Rushdie dirawat di rumah sakit Pennsylvania. Dia dipasangi ventilator sebentar selama masa pemulihan.

Andrew Wylie mengatakan peristiwa itu merupakan 'serangan yang brutal' dan memotong saraf di satu lengan milik sang novelis tersebut.

"Sekarang yang terpenting, dia hidup. Itu yang penting," tegasnya.

"Tapi sampai sekarang kami masih belum tahu apakah Salman Rushdie tetap berada di rumah sakit atau mendiskusikan keberadannya," sambung Andrew Wylie lagi.

Menurut Andrew Wylie yang mewakili Salman Rushdie, peristiwa itu adalah bahaya utama yang terjadi dalam dunia kreatif. "Orang acak entah dari mana datang dan menyerang. Jadi Anda tidak bisa melindungi diri karena itu sama sekali tidak terduga dan tak logis," tegasnya.

Dia mengumpamakannya seperti pembunuhan vokalis The Beatles, John Lennon, yang ditembak mati oleh Mark David Chapman di luar gedung apartemennya di Manhattan pada 8 Desember 1980. Atau beberapa jam setelah penyanyi itu memberikan tanda tangan kepada penggemarnya tersebut.

Salman Rushdie, 75 tahun, menghabiskan waktu selama bertahun-tahun hidup dalam persembunyian setelah Ayatollah Ruhollah Khomeini atau pemimpin Iran mengeluarkan fatwa menyerukan kematiannya pada 1989. Saat itu, Salman Rushdie baru saja menerbitkan novel The Satanic Verses yang sebagian besar dianggap umat Muslim menghujat Nabi Muhammad.



Simak Video "Tampang Hadi Matar, Pelaku Penusukan Salman Rushdie"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/dal)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT