Cerita Lala Bohang Riset soal Syair Kuno Kaili di Palu

Tia Agnes - detikHot
Rabu, 03 Nov 2021 19:25 WIB
Lala Bohang
Lala Bohang menceritakan tentang alasan meriset syair kuno suku Kaili di Palu, Sulawesi Tengah. Foto: Courtesy Lala Bohang
Jakarta -

Perupa sekaligus penulis buku Lala Bohang tak melupakan akar sejarah para leluhurnya. Lahir di Makassar, keluarga besar Lala Bohang juga dikenal berasal dari kota Palu, Sulawesi Tengah.

Palu dikenal sebagai bumi Tadulako dan beberapa waktu lalu peristiwa bencana alam tsunami meluluhlantahkan kota tersebut. Ternyata itu bukan pertama kalinya Palu dihantam oleh bencana alam.

Dalam sebuah wawancara kepada detikcom, Lala Bohang menceritakan Palu menjadi rumah bagi keluarga besarnya dari pihak ibu.

"Traumatic experience pasti ada buat keluarga kami. Bencana yang terjadi di Palu itu berulang-ulang terjadi, sama halnya dengan likuifaksi dan tanah terbelah yang sebenarnya pernah terjadi saat gue masih kecil," kata Lala Bohang secara virtual, belum lama.

Bencana berulang itu, lanjut dia, seakan ada pengetahuan yang terputus. Pelajaran mengenai bahaya bencana alam yang melibatkan nyawa manusia itu seharusnya ada peringatan.

Lala Bohang mencoba kembali ke masa lalu dan menelisik kembali kepada akar budaya di kota Palu. Setelah dipelajari, sebenarnya ada syair kuno Kaili yang menjadi cara untuk masyarakat bercerita dan bertutur.

"Di dalam budaya masyarakat Kaili, mereka ada syair yang membahas tentang bencana alam untuk dipakai sebagai mitigasi bencana, rawan likuifaksi, desa yang ditelan laut, dan lain-lain," sambung Lala Bohang.

"Syair kuno itu masih ada dan berlangsung sampai saat ini. Jadi gue waktu itu setidaknya mencoba melakukan apa yang bisa dilakukan dengan kemampuan gue. Berupaya supaya bencana alam itu ada peringatan kepada kami," lanjutnya.

Dari hasil riset di tahun 2020 itu, Lala Bohang dan penulis asal Makassar Ibe S Palogai menggarapnya menjadi sebuah buku yang diterbitkan oleh penerbit Basa Basi.

Sementara itu, akhir bulan lalu Lala Bohang baru saja menerbitkan buku kumpulan cerpen berbahasa Inggris yang dirilis oleh penerbit Simpul Group. Buku yang menjadi karya kesembilan itu berjudul Waking Up for the First Time ditulisnya saat pandemi.



Simak Video "Keren! 3 Seniman Video Mapping Indonesia Lolos Tokyo Light Festival"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/dal)