Sapardi Djoko Damono Menginspirasi Penulis Indonesia

Tia Agnes - detikHot
Senin, 20 Jul 2020 13:24 WIB
Suasana rumah duka Sapardi Djoko Damono
Sapardi Djoko Damono meninggal dunia Foto: Febri/detikcom
Jakarta -

Sapardi Djoko Damono yang meninggal di usia 80 tahun meninggalkan jejak puisi dan novel yang fenomenal. Sebagian besar karya-karya Sapardi Djoko Damono mampu menginspirasi penulis Indonesia untuk menciptakan karya baru.

Tak ada yang tahu, puisi-puisi Sapardi Djoko Damono yang dibuat di dekade 1970 maupun 1980-an, masih dikenal pembacanya. Bahkan karya novelis kelahiran Solo itu menjadi bahan ajar jurusan Sastra Indonesia di kampus-kampus ternama.

Sepeninggal Sapardi Djoko Damono, penulis Indonesia mengapresiasi karya sang penyair dalam bentuk baru. Puisi-puisi Sapardi Djoko Damono menginspirasi para penulis, salah satunya adalah Intan Paramadhita.

Novelis Gentayangan Pilih Sendiri Petualanganmu itu menceritakan kalau puisi Mata Pisau ciptaan Sapardi Djoko Damono yang menginspirasinya membuat buku kumpulan cerpen Apel dan Pisau.

""Mata Pisau" adalah salah satu puisi Pak Sapardi yang paling tajam dan paling saya sukai. Puisinya menginspirasi saya menuliskan cerita pendek Apel dan Pisau, yang kemudian menjadi judul untuk buku kumpulan cerpen saya #ApplenandKnife," tulis Intan Paramaditha di akun Instagram @sihirperempuan, seperti dilihat detikcom, Senin (20/7/2020).

"Saya pernah mengatakan ini padanya, dan ia menjawab kalau "Apel dan Pisau" justru membuatnya menulis sebuah puisi. Saya yakin ini hanya bercanda," tuturnya.

[Gambas:Instagram]



Sosok Sapardi Djoko Damono juga menjadi pembaca bagi untuk novel Intan Paramaditha yang berjudul Gentayangan. Sapardi Djoko Damono juga mendukung teman-teman penulis muda, para pegiat teater, tim Makassar International Writers Festival, dan penulis Indonesia timur.

Sama halnya dengan penyair Joko Pinurbo yang merilis Srimenanti dan terinspirasi dari salah satu puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul Pada Suatu Pagi Hari. Ucapan terima kasih ditulis Joko Pinurbo di halaman awal bukunya.

[Gambas:Instagram]



"Terima kasih kepada Sapardi Djoko Damono yang puisinya Pada Suatu Pagi Hari telah menyebabkan saya melahirkan buku cerita ini. Buku cerita ini merupakan karya fiksi meskipun di dalamnya terdapat nama-nama yang dapat dijumpai di dunia nyata," tulis Jokpin di awal novel Srimenanti.

Bahkan di dalam buku pria yang akrab disapa Jokpin, ia juga memasukkan sajak Sapardi yang berjudul Gadis Kecil.



Agus Noor justru terinspirasi dari sajak Pada Suatu Hari Nanti yang digabungkan bersama sajak lainnya dalam konser musikal Cinta Tak Pernah Sederhana. Sebelum Sapardi Djoko Damono meninggal, Agus Noor merencanakan membuat musikal dari sajak-sajak sang penyair.

"Ini hutang saya pada Pak Sapardi Djoko Damono. Saya menyiapkannya sejak Desember tahun lalu. Bermaksud mementaskannya untuk menandai 80 tahun usianya," tulis Agus Noor di akun Twitter, seperti dilihat detikcom.

Agus Noor juga mempublikasikan poster musikal puisi-puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul Tuan di Taman.

Sastrawan Sapardi Djoko Damono menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Eka, BSD, Tangerang Selatan, pada Minggu (19/7/2020) pukul 09.17 WIB.



Simak Video "Cerita Dewa Budjana yang Gagal Kolaborasi Bareng Sapardi Djoko Damono"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/doc)