Art Basel Kembali Berjaya

Tia Agnes - detikHot
Senin, 27 Sep 2021 17:03 WIB
BASEL, SWITZERLAND - JUNE 13:  A general view during the press preview for Art Basel at Basel Messe on June 13, 2018 in Basel, Switzerland. Art Basel is one of the most prestigious art fair in the world showcasing the work of more than 4,000 artists selected by 300 leading art galleries.  (Photo by Harold Cunningham/Getty Images)
Art Basel kembali berjaya Foto: Getty Images/Harold Cunningham
Jakarta -

Pameran seni kontemporer ternama dunia, Art Basel kembali berjaya usai vakum setahun karena pembatasan pandemi. Pasar seni yang sempat terhenti kini kembali bangkit.

Sepanjang akhir pekan lalu, sekitar 272 galeri seni dari 33 negara kembali menampilkan karya para seniman kontemporer. Di antaranya ada David Hockney, Frank Bowling sampai Olafur Eliasson.

Meski Art Basel kembali digelar akhir pekan lalu, namun kabarnya tidak adanya kolektor seni asal Amerika Serikat yang datang ke Swiss.

Direktur Global Art Basel, Marc Spielger, dilansir dari AFP mengatakan sejak pandemi mewabah industri seni turun drastis dan situasi dunia menjadi tegang.

"Namun kami mencoba menghilangkan semua jejak pandemi di dalam aula sehingga pengunjung dapat fokus kepada para seniman. Ketika pintu ruang pamer dibuka, suasana di dalam menjadi berbeda," katanya.

"Orang-orang bersemangat untuk bertemu lagi, untuk melihat karya seni hebat di depan mereka dan bukan melalui layar," sambungnya.

Art Basel dibuka khusus untuk VIP atau kolektor maupun undangan papan atas yang hadir. Beberapa galeri besar mengantre untuk jumlah pencapaian yang fantastis.

Seperti lukisan minyak di atas kanvas karya Phillip Guston di galeri Hauser and Wirth senilai Rp 92,6 miliar. Ada juga lukisan Keith Haring yang laku terjual Rp 74,5 miliar, dan karya seni instalasi Dan Flavin Rp 42,7 miliar.

Di tengah meningkatnya minat kolektor seni asal Eropa, tiga perempat karya yang dipamerkan sudah terjual di hari pertama.

Pendiri Galeri Perrotin Paris, Emmanuel Perrotin, mengatakan Art Basel berjalan dengan baik dan melebihi harapan dari para pemilik galeri seni.

Pada 2020 saat pandemi mewabah di penjuru dunia, sebuah studi dari spesialis pasar seni Clare McAndrew, pasar seni turun sebanyak 22 persen. Art Basel tahun lalu terpaksa dibatalkan secara fisik.

Karya-karya seni yang dipamerkan pun dijual secara online. Pameran seni di seluruh dunia termasuk di Indonesia juga digelar secara virtual.



Simak Video "Karya-karya Memikat di Pameran Nandur Srawung #8 Yogyakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/srs)