Lukisan Farhan Siki dan Etza Meisyara Curi Perhatian, Seperti Apa Ceritanya?

Tia Agnes - detikHot
Kamis, 19 Nov 2020 19:54 WIB
Kompetisi seni lukis tahunan/ UOB Painting of the Year 2020
Lukisan karya Farhan Siki di kompetisi seni lukis tahunan UOB Painting of the Year Foto: UOB Painting of the Year/ Istimewa
Jakarta -

Ada dua lukisan karya seniman Indonesia Farhan Siki dan Etza Meisyara yang mencuri perhatian tim dewan juri kompetisi seni tahunan UOB. Seperti apa ceritanya?

Kedua karya seniman itu menjadi pemenang di kategori established atau seniman profesional Tanah Air. Etza Meisyara menampilkan lukisan Eternal Duality yang dibuatnya tahun ini.

Tim dewan juri, Asikin Hasan, menuturkan karya Etza terbilang eksperimental ketimbang seniman lainnya yang mengirimkan karya.

"Kita melihat Etza menggunakan medium yang tidak biasa, lembar kuningan lalu medium aspal. Menggoreskannya dengan jarum, karya ini menjadi menaik karena eksperimental," katanya saat jumpa pers virtual, Kamis (19/11/2020).

Dalam lukisan Eternal Duality, Eitza menggambarkan kekuataan dan kesuburan yang dikenal sebagai Lingga dan Yoni. Dua hal yang saling melengkapi seperti langit dan bumi, kematian dan kehidupan, serta bencana dan harapan.

Kompetisi seni lukis tahunan/ UOB Painting of the Year 2020Lukisan karya Etza Meisyara yang berjudul Eternal Duality di kompetisi seni lukis tahunan/ UOB Painting of the Year 2020 Foto: UOB Painting of the Year/ Istimewa

Sedangkan seniman asal Yogyakarta Farhan Siki dinilai salah satu tim dewan juri, Christine Ay Tjoe, mampu menghadirkan karya berjudul On the Way. Ia menyemprotkan cat semprot ke atas permukaan kanvas.

Menurut Christine Ay Tjoe, Farhan Siki punya bahasa yang berbeda dan menampilkan simbol-simbol di atas lukisannya.

"Karena simbol bisa dimengerti oleh banyak orang, punya kekuataan sendiri dengan bahasa simbol yang menularkan sesuatu dengan cepat. Saya pikir karya Farhan Siki adalah dampak dari solidaritas, saling terhubung antara satu individu dengan individu lainnya," ungkapnya.

"Karyanya sangat terbuka lewat simbol-simbol tadi. Memang kami akui karya Farhan Siki terlihat cukup penuh kalau dilihat tapi itulah keunikan Farhan Siki," sambung Christine.

Ia menyebutkan karya Farhan Siki cukup menganggu tapi di situlah letak kekuatannya. "Sangat pantas, karyanya masuk dan mendapatkan penghargaan," tukasnya.

Farhan Siki telah melanglang buana di berbagai pameran seni internasional. DI antaranya pameran tunggal di Bancxa Generali, Piazza Sant'Alessandro, Milan, Italia (2016), pameran tunggal di Galeri Primae Noctis, Lugano, Swiss (2013), Korea Tomorrow, Museum Seni Hangaram di Seoul, Korea Selatan (2012), Indonesian Eye, Saatchi Gallery di London, Inggris (2011), sampai memenangkan juara 3 Jakarta Art Award di 2010.



Simak Video "Netizen Korsel Lebih Pilih Han Ji Pyeong Dibanding Nam Do San"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/dar)