Pelukis asal Tabanan, Bali, Made Wianta, meninggal dunia di usia 70 tahun. Kabar kepergiannya membawa duka yang mendalam bagi dunia seni Tanah Air.
Indonesia kembali kehilangan seniman besar hari ini. Lahir pada 1949, Made Wianta mempelajari seni lukis saat mengenyam pendidikan di Sekolah Seni Rupa Indonesia (kini ISI Yogyakarta) pada 1967.
Sekolah seni di Yogyakarta, Made Wianta kerap melukis menggunakan gaya surealisme. Karya-karyanya juga banyak menyisipkan simbol-simbol penuh makna, meski di masa itu sang maestro belum tahu apa itu surealisme.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Istri Made Wianta, Intan, saat berbincang dengan detikcom pada November 2017 menuturkan saat belajar di ISI Yogyakarta, suaminya rajin membaca berbagai buku seni.
"Simbolisme itu lahir di Eropa, simbolisme juga lahir di Eropa dan di situ Bapak belajar surealis. Pak Made menuangkannya seperti patra, huruf kawi, dan digabungkan simbol-simbol lainnya," tuturnya.
"Mungkin juga suami saya punya nightmare saat nonton Calon Arang atau Barong, meski sudah surealis dia masih hitam-putih," sambung Intan.
![]() |
Saat tinggal di Karangasem, Made Wianta melahirkan periode dot atau titik-titik, triangle, garis-garis, dan bentuk geometri lainnya.
Intan mengatakan lukisan yang digambarnya menjadi lebih bertekstur. Di periode berikutnya, nuansa gembira yang lebih berwarna pun semakin berkembang.
Sepanjang kariernya, Made Wianta membagi ke dalam 8 periode yakni Karangasem, titik, segi empat, segitiga, perakitan, kaligrafi, kalender, dan media campuran.
Salah satu puncak karier Made Wianta adalah saat ia berpameran di Venice Art Biennale pada 2003. Agenda itu menjadi terpenting bagi perupa tersebut.
Venice Art Biennale merupakan pameran seni rupa dua tahunan yang bergengsi di dunia seni rupa. Ia menjadi seniman Indonesia ketiga yang diundang untuk berpameran di sana setelah Affandi (1953) dan Heri Dono di tahun-tahun berikutnya.
(Lanjut ke halaman ke-2)
Simak Video "Menengok Lukisan Kaligrafi 'Berbisik' Karya Made Wianta"
[Gambas:Video 20detik]