Killing Eve: Kejar-Kejaran yang Sungguh Menggemaskan

Candra Aditya - detikHot
Sabtu, 17 Okt 2020 07:20 WIB
Killing Eve
Killing Eve / Foto: (official BBC America/Instagram)
Jakarta -

Kalau Anda menyukai cerita spionase dan bosan dengan cerita spionase yang gitu-gitu saja, mungkin saatnya Anda mencicipi serial Killing Eve yang diadaptasi dari novel seri berjudul Villanelle yang ditulis oleh Luke Jennings. Killing Eve dari awal sudah memberikan mood yang berbeda dari cerita spionase kebanyakan.

Yang satu ini lebih emosional, lebih gila dan seksi luar biasa. Ceritanya dibumbui dengan begitu paripurna sehingga Anda akan selalu ingin menonton episode selanjutnya.
Adalah Eve Polastri (Sandra Oh), seorang agen yang tinggal di Inggris. Hidupnya lumayan bahagia. Hubungannya dengan suaminya Niko Polastri (Owen McDonnell) juga lumayan tentram. Yang paling mengagumkan dari Eve sebenarnya adalah etos kerjanya yang baik.

Dia sangat serius dalam pekerjaannya. Orang mungkin akan menganggapnya dia penuh becandaan karena memang pembawaan Eve yang tidak serius. Tapi sebenarnya dia adalah orang yang memiliki insting yang sangat kuat. Intuisinya hampir selalu benar.

Killing EveKilling Eve Foto: (official BBC America/Instagram)

Muncullah Villanelle (Jodie Comer), seorang pembunuh yang sangat ahli yang sepertinya agak gila. Kelakuannya luar biasa nyentrik. Dididik untuk menjadi pembunuh, Villanelle memiliki berbagai jenis cara untuk menghabisi targetnya. Kadang-kadang dia ingin bermain-main dengan korbannya. Saking canggihnya, Villanelle tidak pernah terdeteksi. Dan karena iseng, dia suka meninggalkan tanda tangan di setiap aksi yang ia lakukan.

Hampir semua orang merasa bahwa pembunuhan yang akhir-akhir ini terjadi dilakukan oleh pria. Tidak dengan Eve. Eve merasa bahwa perempuanlah yang ada di balik aksi ini semua. Ketika akhirnya Eve bertemu dengan Villanelle, dunia keduanya langsung jungkir balik tidak karuan. Ini bukan lagi aksi kejar-kejaran tikus dan kucing. Aksi kejar-kejaran mereka dibumbui oleh obsesi dan... asmara? Apa yang sebenarnya terjadi?

Musim pertama Killing Eve di Mola TV adalah definisi tontonan sempurna televisi. Ketika pertama kali muncul, Killing Eve langsung menoleh perhatian. Tone yang sangat berbeda dengan serial sejenis dan dimainkan dengan sangat apik oleh kedua pemain utamanya, Killing Eve adalah sebuah obsesi yang tidak bisa dilupakan begitu saja. Tapi satu yang paling mentereng dari serial ini adalah humornya. Humornya sangat kering tapi bikin ketagihan.

Ditulis oleh Phoebe Waller-Bridge yang meledak melalui Fleabag, musim pertama Killing Eve memperkenalkan Eve dan Villanelle dengan sempurna. Musim keduanya, meskipun Waller-Bridge tidak kembali sebagai head-writer-nya dan digantikan oleh Emerald Fennell, tetap memberikan sensasi yang sama. Ia tetap menjadi pendobrak konvensi. Kalau biasanya kita menyaksikan tontonan spionase dengan laki-laki yang ada di depan, di sini kita menyaksikan perempuan ada di depan layar. Baik protagonis maupun antagonis semuanya perempuan.



Killing EveKilling Eve Foto: (official BBC America/Instagram)

Bahkan bos si agen yang kebanyakan dimainkan oleh pria di Killing Eve dimainkan dengan asyik oleh Fiona Shaw. Perbedaan antara musim pertama dan kedua adalah di musim kedua ini Fennell membuat Killing Eve menjadi lebih gory. Nuansanya lebih klasik. Rasanya seperti film noir. Musim ketiganya meskipun tidak seasyik musim pertama dan keduanya tetap memberikan suasana yang menegangkan. Terutama jika Anda penasaran dengan apa yang terjadi di akhir musim kedua yang sangat menggantung, musim ketiga ini harus ditonton. Dan di musim ketiga ini jelas sudah apa yang membuat Killing Eve begitu adiktif: kedua pemain utamanya.

Jodie Comer dan Sandra Oh memainkan Villanelle dan Eve dengan sangat baik. Comer mungkin pemain baru dibandingkan dengan Oh yang sudah malang melintang. Tapi Comer tidak gagap sama sekali untuk mengimbangi permainan Oh yang luar biasa. Oh memberikan suntikan emosi yang luar biasa terhadap eve yang sangat kompleks. Dan Comer mengimbanginya dengan keliaran yang tidak terkira.

Ketika mereka bertemu, Anda pasti tidak akan bisa mengira-ngira apa yang akan terjadi. Hubungan mereka berdua memang didesain untuk menjadi sangat aneh tapi Oh dan Comer membuat dinamika kedua karakter ini menjadi lebih meledak-ledak. Apakah mereka akan bersahabat, menjadi musuh, saling tembak atau bahkan berciuman? Semua alternatif itu terasa memungkinkan dan tidak ada satu pun jawaban yang salah.

Killing Eve menjadi tontonan yang asyik karena ia tidak hanya menjadi sebuah anti-thesis terhadap banyak karya spionase yang selalu menjadikan perempuan sebagai objek tapi ia juga menjadi penting karena ia adalah tontonan yang maha menghibur. Kalau Anda ingin santai sambil seru-seruan di rumah, Killing Eve lebih dari cukup untuk menjadi pilihan tersebut.

Siapkan cemilan dan minum yang banyak karena Anda tidak akan tahu kemana Eve dan Villanelle membawa Anda. Killing Eve dapat disaksikan di Mola TV.

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.



Simak Video "Haaland 2 Gol, Dortmund Bekuk Freiburg 4-0 "
[Gambas:Video 20detik]
(doc/doc)