10 Film Nasional yang Sukses di Pentas Internasional 2014

Hot Top Ten 2014

10 Film Nasional yang Sukses di Pentas Internasional 2014

- detikHot
Senin, 29 Des 2014 15:23 WIB
10 Film Nasional yang Sukses di Pentas Internasional 2014
Jakarta - Tahun 2014 punya makna sendiri bagi perfilman nasional. Alasannya, sejumlah film-film terbaik karya anak bangsa sukses menyajikan tontonan berkualitas. Bahkan setidaknya, 10 di antaranya sukses di pentas internasional.

Tidak melulu film box office, film dokumenter juga film pendek Indonesia dilirik dan mendapatkan tempat di berbagai negara. Terlebih lagi, mereka membawa pulang gelar-gelar terbaik.



SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


The Raid 2: Berandal

Dirilis pada bulan Maret 2014 di Indonesia, film 'The Raid 2: Berandal' justru lebih dulu diperkenalkan ke pentas internasional. Tepatnya Sundance Film Festival 2014, dua bulan sebelum tayang di Indonesia.

Film produksi Merantau Film arahan Gareth Evans tanpa ragu mendapatkan sambutan positif. Sejumlah media internasional, seperti Huffington Post dan Los Angeles Times menuliskan bahwa 'The Raid 2: Berandal' salah satu film laga terbaik yang pernah diproduksi. Alasannya adalah aksi bela diri tradisional, serta plot cerita berlapis yang sangat menegangkan.

Gareth Evans juga dianugerahi gelar 'greatest living action director' karena sukses membuat dua film 'The Raid' disambut dengan gegap gempita di kancah internasional. 'The Raid 2: Berandal' sendiri diisi puluhan petarung dan atlet bela diri nasional. Sedangkan para aktor yang membintanginya ada Iko Uwais, Yayan Ruhian, Julie Estelle, Oka Antara, Tio Pakusadewo dan Arifin Putra.

Killers

Sutradara thriller kenamaan Indonesia, Kimo Stamboel dan Timo Tjahjanto yang dikenal baik dengan nama The Mo Brothers juga sukses mendaftarkan filmnya di ajang internasional. Film yang dirilis Februari 2014 itu berjudul 'Killers'.

'Killers' lebih dulu diputar di Jepang dan Amerika Serikat. Hal tersebut dikarenakan karena 'Killers' memang merupakan film kerjasama antara Jepang dan Indonesia. Adalah produser Ushuyama Takuji dari rumah film Nikkatsu yang menjadi orang di balik kerjasama internasional itu.

Di Amerika Serikat sendiri, tepatnya Sundance Film Festival 2014, mendapatkan respon baik. Terutama akting dua aktor utamanya, Kazuki Kitamura dan Oka Antara. Bahkan, 'Killers' mendapatkan tempat istimewa karena menjadi topik diskusi.

Guardian

Masih dari ranah laga, kali ini film berjudul 'Guardian'. Diproduksi oleh rumah film Skylar Pictures, 'Guardian' mendapatkan tempat di Fantasia International Film Festival di Montreal, Kanada. Selain itu, 'Guardian' juga mempunyai hak edar internasional yang dipegang oleh Birch Tree Entertainment, sebuah kongsi film dari Las Vegas, Amerika Serikat.

'Guardian' sendiri menggandeng aktris Hollywood Sarah Carter sebagai salah satu pemeran utamanya. Sejumlah aktor nasional yang eksis di dalamnya antara lain Dominique Diyose, Belinda Camesi, Tio Pakusadewo, Nino Fernandez, Kimmy Jayanti, Ganindra Bimo, Claudia Soraya, dan Naomi Zaskia.

Jalanan

Film dokumenter yang paling banyak dibicarakan tahun ini, 'Jalanan' juga menambah panjang daftar film-film nasional di kancah internasional. Diprakarsai oleh Daniel Viz, 'Jalanan' mendapatkan tempat di 10 festival internasional sepanjang tahun 2014.

Sebut saja, Asia Pacific Screen Awards (Australia), Docaviv International Documentary Film Festival (Israel), Biografilm Festival (Italy), Vancouver International Film Festival (Kanada), Hawaii International Film Festival (Hawaii) dan banyak lainnya.

'Jalanan' menampilkan aksi tiga pengamen jalanan Jakarta bernama, Ho, Boni dan Titi. Bagaimana mereka menjalani hidup masing-masing dan pandangan mereka tentang sebuah negara, menjadi alur utama di film tersebut.

Selamat Pagi, Malam

Secara mengejutkan, film karya sutradara Lucky Kuswandi, 'Selamat Pagi, Malam' yang dalam versi internasional berjudul 'In The Absence Of The Sun', mendapat sorotan yang signifikan. Tidak cuma di dalam negeri, tapi juga di luar negeri.

Tiga negara berbeda, Singapura, Hong Kong dan Jepang memberikan apresiasi yang tinggi kepada 'Selamat Pagi, Malam'. Singapura memberikan tempat spesial bagi 'Selamat Pagi, Malam' untuk menutup ajang Singapore International Film Festival. Sedangkan Hong Kong dan Jepang, memberikan kesempatan bagi film tersebut untuk bersaing dengan film-film terbaik lainnya di Hongkong Asian Film Festival dan Asian Future di Tokyo International Film Festival.

Dirilis bulan Juni 2014, 'Selamat Pagi, Malam' yang dibintangi Adinia Wirasti dan Marissa Anita itu menceritakan tentang pahit dan manisnya sebuah malam di Jakarta dari mata tiga perempuan yang merasa tidak lagi memiliki tempat di Jakarta. Koran kenamaan Singapura, The Straits Times, menyebut film ini sebagai surat cinta sekaligus tinju bagi Jakarta.

Toilet Blues

Belum sampai di Indonesia, film 'Toilet Blues' justru sudah melewati perhentian di sembilan festival internasional. Di antaranya adalah Busan International Film Festival, Goteborg International Film Festival, Deauville Asian Film Festival 2014 dan Amsterdam CinemAsia Film Festival 2014.

Setelah petualangannya di berbagai negara, 'Toilet Blues' akhirnya mendapat layar di Indonesia. Tepatnya bulan Juli 2014 kemarin.

Diproduksi sejak 2013 lalu, film arahan sutradara Dirmawan Hatta, 'Toilet Blues' bercerita tentang kepedihan Anggalih (Tim Matindas) yang sedang memasuki pendidikan untuk menjadi seorang pastur dan 'cinta monyet-nya' sewaktu SMP, Anjani (Shirley Anggraini) yang kabur dari rumahnya karena dituduh terlibat pencabulan. Tidak sengaja bertemu, keduanya kemudian memulai petualangan hidup secara fisik dan batin untuk mencari kebenaran.

Gunung Emas Almayer

Ditayangkan di Indonesia bulan November 2014, 'Gunung Emas Almayer' kemudian langsung bertolak ke Malaysia. Di tanah kelahiran sang sutradara, U Wei, 'Gunung Emas Almayer' diputar dengan namanya yang lain, 'Hanyut'.

Meski belum terlalu masiv, pergerakan film kolosal berlatar belakang Malaka abad 19, 'Gunung Emas Almayer' baru akan dirilis secara luas di luar negeri tahun depan. Rencananya, 'Gunung Emas Almayer' akan didistribusikan ke 50 negara di Benua Amerika dan Eropa dengan judul 'Gold Mountain'.

Merupakan film kerjasama antara Indonesia dan Malaysia, 'Gunung Emas Almayer' menampilkan aktor dari berbagai negara. Perwakilan Amerika Serikat ada Peter O'Brien, Indonesia ada Rahayu Saraswati, El Manik, Alex Komang, Sofia Jane, Adi Putra. Sedangkan Malaysia ada Diana Danielle, Khalid Salleh, Bront Palarae, dan Sabri Yunus.

A Lady Caddy Who Never Saw A Hole in One

Jika dari tadi berkutat dengan film panjang, maka ada juga beberapa judul film pendek yang menuai sukses di pentas internasional. Misalnya film pendek berjudul 'A Lady Caddy Who Never Saw A Hole in One' yang dalam bahasa Indonesia, 'Nona Kedi yang Tak Pernah Melihat Keajaiban'.

Ditulis dan disutradarai oleh Yosep Anggi Noen, film tersebut berhasil mendapatkan dua penghargaan tertinggi sekaligus di ShortShorts Film Festival and Asia 2014, Tokyo, Jepang. Pertama adalah gelar Grand Prix, kedua Best Short Film Asia International Competition. Wow!

Menariknya, dengan menyabet gelar di SSFF 2014, membuka gerbang menuju gelaran bergengsi Academy Awards. Sebab, SSFF kerap kali manjadi ajang kualifikasi film-film yang nantinya mendapat nominasi di Piala Oscar.

Sepatu Baru

Berlin International Film Festival alias Berlinale 2014 menjadi modal bagi film pendek berjudul 'Sepatu Baru'. Disutradarai oleh mahasiswa Institut Kesenian Makassar (IKM) Aditya Ahmad, 'Sepatu Baru' berhasil disambut positif.

'Sepatu Baru' membawa pulang gelar 'Special Mention' dari juri anak-anak untuk Film Pendek Terbaik kategori Generation KPlus. Tentu saja hal itu tak lepas dari alur ceritanya yang mengangkat unsur anak-anak.

Film tersebut menceritakan seorang anak perempuan (Isfira Febiana) yang bekerja keras dengan segala cara untuk menghentikan hujan melalui tradisi lama melemparkan celana dalam ke atap. Anak itu sampai berusaha mencuri celana dalam tetangga. Ternyata kerja kerasnya itu dilakukan, agar ia bisa mengenakan sepatu barunya.

Maryam

Daftar film-film nasional tahun 2014 yang mampu menoreh prestasi di pentas internasional ditutup oleh film pendek berjudul 'Maryam'. Tidak main-main, film karya sineas muda Sidi Saleh itu langsung membungkam festival film tertua di dunia, Venice International Film Festival 2014.

'Maryam' dianugerahi gelar The Orrizonti award for Best Shorts Film setelah membuat kagum lewat ceritanya yang apik. 'Maryam' bercerita tentang seorang pembantu rumah tangga Islam bernama Maryam (Meyke Verina) yang bekerja di keluarga Katholik. Konflik berdurasi 18 menit itu kemudian terjadi ketika majikannya yang menderita autis, meminta Maryam mengantarnya ke gereja untuk melakukan ibadah Natal.
Halaman 2 dari 11
(mif/ron)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads