Suara Lantang Hana Madness soal Kesehatan Mental

ADVERTISEMENT

Spotlight

Suara Lantang Hana Madness soal Kesehatan Mental

Tia Agnes Astuti - detikHot
Selasa, 23 Agu 2022 13:05 WIB
Seniman Visual Hana Madness
Hana Madness, seniman disabilitas mental yang bersuara sejak tahun 2012. Foto: Courtesy of Hana Madness
Jakarta -

Isu mengenai kesadaran mental kian lantang terdengar sejak pandemi mewabah di Indonesia. Sebelum pandemi, sudah banyak bermunculan tokoh atau orang-orang yang memiliki masalah, salah satunya adalah Hana Madness.

Hana Madness bukan sembarang orang yang punya pengalaman dengan kesehatan mental namun juga berkarya terinspirasi dari berbagai kejadian dalam hidupnya. Dia membuat doodle penuh warna yang diibaratkan sebagai 'monster'.

Kepada detikcom, perempuan yang bernama asli Hana Alfikih menceritakan sejak tahun 2012 sudah bersuara lantang mengenai isu mentah health. Mengapa ia tetap bersuara sampai sekarang?

"Karena aku merasa ada sesuatu yang harus disampaikan, untuk mengubah persepsi publik dengan orang-orang yang memiliki ODGJ atau orang yang punya pengalaman hidup dengan itu, penyintas, atau mad people atau orang gila," ungkapnya ketika diwawancarai di kawasan Cipedak, Jakarta Selatan.

Menurut penuturan Hana, seni bisa menciptakan perubahan dan terus menciptakan sudut pandang dari para pelaku seni.

"Aku nggak berharap bisa menyebarkan tapi sangat bersyukur bisa membawa perubahan yang positif," sambungnya.

Sejak 2012, Hana Madness aktif menjadi pembicara dan terbuka mengenai perjalanan hidupnya sejak remaja. Awalnya ia didiagnosa dengan skizofrenia sampai gangguan bipolar, baru-baru ini ia juga berobat untuk mengatasi adiktif dengan obat pencahar.

Sekarang ini, lanjut Hana, kita menghadapi orang yang menghadapi stigma dan menormalisasi isu tersebut.

"Yang bisa aku lakukan ketika butuh pengalaman, aku menceritakannya. Tapi ingat diagnosa itu harus mendapatkan pertolongan dari profesional," sambungnya.

Hana pun merasa suara lantang yang diperjuangkan saat ini adalah 'perjuangan seumur hidup'.

"Aku telah menjadikan disabilitas mental dari seorang Hana Madness, sudah sepatutnya dirayakan. Yang bisa dirayakan adalah memang gangguan ini jadi bagian dari diriku secara medis tapi tidak mendefinisikan diriku sepenuhnya. Aku berhak merayakan kemampuan yang dimiliki, berhak merayakan eksistensiku sebagai manusia bahkan berhak bersuara, dapat dilihat atau didengar, berkarya, dan menjadi diriku sendiri," pungkasnya.

Kali ini, spotlight culture detikHOT bakal membahas mengenai kiprah Hana Madness sebagai seorang seniman disabilitas mental. Simak artikel berikutnya!



Simak Video "Keren! 3 Seniman Video Mapping Indonesia Lolos Tokyo Light Festival"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/nu2)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT