Spotlight

Nh Dini Sukses Tulis Karakter Perempuan Mandiri di Karya Sastra

Tia Agnes - detikHot
Selasa, 08 Mar 2022 19:44 WIB
Galeri Foto Ulang Tahun Nh Dini ke80
Foto: Silvia Galikano/CNN
Jakarta -

Bicara soal penulis perempuan di industri buku tidak terlepas dari karya-karya Nh Dini. Novelis yang bernama lengkap Nurhayati Sri Hardini dianggap sukses menampilkan berbagai karakter perempuan mandiri di berbagai karya sastra.

La Barka adalah salah satu novel terbaik Nh Dini. Buku setebal 205 halaman yang terbit di tahun 1975 oleh Dunia Pustaka Jaya menjadi mengisahkan tentang para istri yang telah bercerai.

Mereka menerima kisah cinta yang tulus atau hidup bebas ntara laki-laki dan perempuan dalam status apa saja. Serta hidup dalam kedewasaan yang mapan.

Dengan La Barka (1975), Nh Dini mengungkapkan perasaan-perasaan perempuan. Menurut Nh Dini tak ada rahasia antara perempuan dan laki-laki.

Keduanya diciptakan untuk saling melengkapi. Dikutip dari Ensiklopedia Kemendikbud, Jakod Sumardjo (1979) menyebut 'La Barka' merupakan lambang dan rasa trauma dari perkawinan yang hancur.

Sebagai sastrawan, Nh Dini kerap menyuarakan keseteraan gender. Karya-karyanya menyuarakan kritik sosial termasuk perlawanan perempuan terhadap tradisi patriarki.

Di novel Pada Sebuah Kapal (1972), Nh Dini mendobrak stereotip tentang sosok perempuan dan istri ideal. Lewat karakter bernama Sri, Nh Dini menggambarkan perempuan yang sering direpresi masyarakat berusaha menentukan jalannya sendiri.

Nh Dini juga melawan anggapan perempuan tidak perempuan dan tidak bersuami bukanlah perempuan suci.

Dalam novel Keberangkatan mengisahkan tokoh utama bernama Elisa, seorang peranakan Indonesia-Belanda yang terombang-ambing dalam asmara.

Di dalam novel yang bergaya cerita akrobatik, ada konflik batin hingga sosial dialami para karakter antara Elisa dan Sukoharjito, Elisa dengan Talib, juga Elisa dengan Lansih.

Nh Dini populer dikenal lewat novelnya Pada Sebuah Kapal (1973), La Barka (1975), Keberangkatan (1977), serta Namaku Hiroko (1977). Pada 1981, Nh Dini menulis biografi Amir Hamzah Pangeran dari Negeri Seberang (1981) dan Dharma Seorang Bhikku (1997).

Sebelum aktif menulis, Nh Dini dipersunting diplomat Prancis di Jepang pada 1960 silam, Yves Coffin. Dari pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai dua anak Marie-Claire Lintang (lahir pada 1961) dan Pierre Louis Padang (lahir pada 1967).

Setelah berpisah dengan Yves Coffin dan membawa pulang hanya 10 ribu dollar AS, ia bertekad hidup menjadi seorang penulis. Mantan pramugari dan penyiar radio itu memang hidup dari karya-karyanya.

Alih-alih memiliki aset pribadi, ia memilih tinggal di panti lansia dan mendirikan pondok baca yang diberi nama Sekayu, Semarang pada 1986.



Simak Video "Jelang Sidang Putusan, Ibunda Adam Deni Pesimistis Anaknya Bebas"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/dal)