Spotlight

Butterfly Hug Bukan Buku Menggurui tapi dari Pengalaman Pribadi Penyintas

Tia Agnes - detikHot
Selasa, 23 Nov 2021 15:32 WIB
Penulis Tenni Purwanti
Tenni Purwanti menceritakan pengalaman pribadi sebagai penyintas mental breakdown dalam buku Butterfly Hug. Foto: @sylvietanaga/ Istimewa
Jakarta -

Di akhir 2017, Tenni Purwanti mengalami mental breakdown sampai membuatnya berobat ke psikolog. Dia mengaku mengalami gangguan kecemasan.

Sadar dengan isu kesehatan mental itulah yang membuat salah satu penulis pendatang baru di Ubud Writers and Readers Festival 2015 berobat. Ketika menjalani terapi, ia diajarkan untuk melakukan metode butterfly hug.

"Butterfly Hug adalah salah satu metode yang diberikan oleh psikolog saya untuk membantu meredakan kecemasan saya secara instan tanpa obat," tuturnya kepada detikcom.

Metode butterfly hug, diakui Tenni, sering dilakukannya karena terbilang mudah dan ada hasilnya. Butterfly Hug inilah yang membuat dirinya memutuskan untuk menjadi judul buku yang diterbitkan oleh penerbit buku Mojok.

Menurut Tenni, memilih kata Butterfly Hug menjadi sebuah judul buku merupakan simbol dari pesannya kepada pembaca.

"Peluklah dirimu sendiri sebelum ingin dipeluk orang lain. Itu kalimat yang merangkum isi buku saya. Jadi harus baca keseluruhan bukunya baru paham kenapa saya pilih judul tersebut.

Di masa pandemi, isu kesehatan mental sering dibahas belakangan ini. Berbagai hal tentang tema tersebut bisa dengan mudah viral dan digaungkan oleh orang-orang yang tinggal di kota besar.

Tenny mengatakan isu kesehatan mental ini penting untuk terus digaungkan karena akan tersebar kesadaran dari kota besar ke kota-kota kecil.

"Sehingga kesadaran akan pentingnya kesehatan mental bisa tersebar merata. Jika demand-nya tinggi, bukan tidak mungkin supply-nya juga tinggi (SDM dan obat-obatan) ke kota kecil," katanya.

Sebagai seorang penyintas, Tenni berharap agar pembaca bukunya mencari informasi sebanyak-banyaknya terhadap gejala yang dirasakan di dalam diri. Dia pun menegaskan agar jangan melakukan diagnosa sendiri.

"Jika gejala dirasakan lebih dari 3 minggu berturut-turut, sebaiknya menemui psikolog atau psikiater. Cara yang paling mudah biasanya terasa di kondisi fisik seperti masalah lambung, sakit kepala, yang tidak kunjung sembuh dan ketika diperiksa ternyata tidak ada penyakit. Biasanya itu tanda-tanda ada masalah kesehatan mental," sambung Tenni.

"Atau kalau bukan terasa di tubuh, mungkin mulai terasa hilang semangat, tidak bisa lagi menikmati hal-hal yang biasanya disukai, mudah tersinggung, mudah marah, hal-hal yang sudah di luar kendali dan terasa lebih dari tiga minggu berturut-turut (maksimal enam minggu), sebaiknya diperiksakan ke psikolog atau psikiater," tukasnya.

Di dalam buku Butterfly Hug, Tenni menuliskan pengalaman pribadinya ke dalam enam bab. Ia menjelaskan bagaimana semua hal tentang mental breakdown itu bermula, perjalanan menuju masa pemulihan, berdamai dengan masa lalu sampai akhirnya ia menjadi seorang penyintas.



Simak Video "Sosok Mendiang Idang Rasjidi di Mata Anak"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/dal)