Spotlight

Komunitas Hysteria Kumpulkan Poster Acara Selama 16 Tahun, Buat Apa?

Devy Octaviany - detikHot
Selasa, 24 Nov 2020 14:28 WIB
Komunitas Hysteria Asal Semarang, Jawa Tengah
Karya Komunitas Hysteria di Media Art Globale 2020 Foto: Media Art Globale/ Komunitas Hysteria
Jakarta -

Komunitas Hysteria menjadi line up menarik dalam festival seni dan teknologi, Media Art Globale 2020. Dalam pameran virtual, kolektif yang berada di Semarang, Jawa Tengah, itu memamerkan beragam poster acara selama 16 tahun belakangan. Mengapa?

Direktur Hysteria, Adin, menuturkan karya Kota yang Tak Pernah Histeris, poster-poster acara itu digabung menjadi zine Propaganda Hysteria yang memasuki edisi ke-100.

"Kami memulai pengarsipan dari poster kami sendiri, 16 tahun sejak kami pertama kali bikin zine. Dahulu zine-nya bisa terbit 2 mingguan, sebulan, atau tiga bulan sekali. Di Asia Tenggara, ini mungkin zine yang terpanjang karena biasanya zine mentok di angka 40 atau 50," tutur Adin, ketika diwawancarai detikcom.

Di edisi spesialnya, Adin menghadirkan zine yang tebalnya mencapai 2.130 halaman yakni mencakup 1.866 file berupa sampul 77, kliping koran 824, dan poster acara 966.

"Ini semua merupakan data aktivitas Kolektif Hysteria selama 16 tahun dalam ranah seni, anak muda, komunitas, dan isu kota. Data ini bisa digunakan melihat kota dan strategi kebudayaan dalam perspektif anak muda dan komunitas," lanjutnya.

Komunitas Hysteria Asal Semarang, Jawa TengahKomunitas Hysteria Asal Semarang, Jawa Tengah Foto: Media Art Globale/ Komunitas Hysteria

Menurut Adin, poster menjadi dokumentasi penting untuk diarsipkan. Nantinya, poster acara yang memuat berbagai informasi itu bisa dibaca oleh generasi yang lebih muda.

Dari poster-poster itu, lanjut Adin, penikmat seni bisa membaca sebaran venue, aktivisme, komunitas yang pernah terlibat, isu, dan tema yang diusung.

"Orang misalnya mau riset tentang dinamika kota melalui pergerakan kota atau anak muda bisa mulai mengerucut dari poster acara. Kita mengerti orang Semarang nggak banyak yang melakukan pengarsipan. Kalau kebijakan yang tepat berdasarkan basis data bisa untuk mengadvokasi kebijakan," kata Dosen Antropologi di Universitas Diponegoro, Semarang.

"Kami ingin menyelamatkan sejarah kita sendiri. Kalau bukan kita, siapa lagi. Semarang kan tidak gampang dibaca oleh media nasional atau internasional. Tidak seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta di skena seni Indonesia," sambungnya.

Hysteria pun sampai sekarang menjadi satu-satunya kolektif atau kelompok seniman multidisplin yang masih eksis di Semarang, Jawa Tengah.

Simak artikel berikutnya ya!



Simak Video "Sambut Kepulangan Wamil D.O EXO, EXO-L Ramaikan Twitter"
[Gambas:Video 20detik]
(doc/tia)