Review Thor: Love and Thunder, Cinta Tak Pernah Salah

Candra Aditya - detikHot
Kamis, 07 Jul 2022 21:43 WIB
Film Thor: Love and Thunder
(Foto: Instagram @marvel) Dibuka dengan adegan mirip sinetron religi, Thor: Love and Thunder menampilkan konklusi yang menyenangkan. Simak review Thor: Love and Thunder berikut ini.
Jakarta -

Adegan pembuka Thor: Love and Thunder mirip dengan sinetron religi. Di sebuah tempat yang kering kerontang kita melihat Gorr (Christian Bale yang terlalu berkomitmen) memeluk anak perempuannya yang sekarat. Sambil memohon kepada dewanya, Gorr meminta hujan. Ia meminta segala hal yang bisa membuat anaknya kembali bangkit dari pelukannya. Dewa tidak mendengarkan Gorr. Anaknya meninggal dan tak lama kemudian Gorr melihat sebuah surga di tengah tempat tersebut. Air, buah-buahan, dan warna-warna tropis menerpa penglihatannya. Dan di tengah-tengah semua keindahan ini adalah dewanya yang selama ini ternyata tidak pernah mendengarkannya. Gorr memutuskan memotong kepala dewa tersebut dan dimulailah film keempat Thor ini.

Setelah berhasil menyelamatkan Thor dari kegelapan melalui Thor: Ragnarok, Taika Waititi melakukan hal yang lumayan berbahaya. Dia membuat Thor (Chris Hemsworth) kebingungan dengan tujuan hidupnya. Seperti yang diceritakan dalam sebuah "previously on Thor" melalui narasi Korg (Taika Waititi), kita melihat semua perjalanan Thor sejauh ini: kedua orang tuanya meninggal dunia, berkali-kali dia ditinggal mati oleh Loki, dia kehilangan cinta sejatinya Jane Foster (Natalie Portman), saudarinya ternyata jahat sampai akhirnya Asgard harus pindah. Kita bahkan belum membahas kiprahnya menghadapi Thanos. Dengan semua itu, Thor sekarang menikmati hidupnya sebagai mas-mas yang "namaste" dengan meditasi di bawah pohon sambil mendengarkan Enya.

Setelah sebuah set pieces yang kocak, Thor akhirnya berpisah dengan geng Guardians of the Galaxy. Di momen perpisahannya, Star-Lord (Chris Pratt) mengatakan bahwa tidak ada salahnya bagi Thor untuk mencari lagi cintanya. Pada akhirnya, tatapan mata orang terkasihlah yang akan ia cari. Dan seperti sebuah takdir yang tertulis, tak lama lagi Thor akan reuni dengan cintanya yang pernah hilang. Hanya saja kali ini si pembunuh para dewa, Gorr, akan datang dan mengganggu semuanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT


"Jangan rusak resep yang sudah ada" sepertinya menjadi rumus Waititi saat menulis Thor: Love and Thunder. Ditulis barengan dengan Jennifer Kaitlyn Robinson, Thor: Love and Thunder memiliki semua elemen yang membuat Thor: Ragnarok begitu asyik. Jokes demi jokes bertebaran seperti oksigen di udara. Kalau Thor: Ragnarok menggunakan Led Zeppelin sebagai mood utamanya, di sini kita akan mendengar Guns N Roses. Tapi kalau resepnya sama persis, kenapa Thor: Love and Thunder agak lebih kurang nendang dibandingkan dengan pendahulunya?

Christian Bale as Gorr in Marvel Studios' THOR: LOVE AND THUNDER. Photo courtesy of Marvel Studios. ©Marvel Studios 2022. All Rights Reserved.Christian Bale sebagai Gorr. Foto: Marvel Studios/Courtesy of Marvel Studios

Humor yang ada di dalam Thor: Love and Thunder sebenarnya tidak jelek meskipun banyakan yang miss daripada yang hit. Kambing yang berteriak itu lumayan menghibur meskipun rasanya jadi anyep setelah diperah berkali-kali. Montage percintaan Thor dan Jane lumayan bisa membuat tersenyum meskipun gagal membuat penonton terbahak-bahak. Dan Thor rapat dengan para dewa harusnya bisa membuat lebih ngakak mengingat Waititi bahkan membuat Thor melepaskan semua busananya. Saya bahkan tidak perlu membahas speaker yang dibawa Valkyrie (Tessa Thompson) yang mengeluarkan lagu-lagu R&B. Masalahnya adalah ketika semua hal menjadi lucu, apakah ada yang benar-benar lucu lagi?

Bisa jadi keputusan Waititi untuk menyempilkan tone serius dalam filmnya membuat semua jokes itu menjadi aneh?

Thor: Ragnarok menjadi sebuah hiburan tidak hanya karena tone filmnya sungguh "heboh" tapi juga karena semua aspek lain membantu jokes-jokes itu untuk hidup. Antagonisnya sungguh mencuri perhatian dan ceritanya lumayan "santai". Thor: Love and Thunder menceritakan karakter yang sekarat dan juga seorang penjahat yang ingin membalas dendam kematian anaknya dengan membunuh para dewa. Dua vibe yang sangat berbeda ini ketika digabungkan ternyata memberikan rasa yang agak aneh.

Tapi tetap saja, bahkan dengan semua catatan tersebut, Thor: Love and Thunder tidak bisa dibilang entry MCU (Marvel Cinematic Universe) yang gagal. Waititi masih memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menghadirkan momen-momen yang mengejutkan. Di paruh kedua, Waititi mencoba untuk memberikan penonton momen jujur bagi karakter-karakternya meskipun usahanya agak bisa dibilang gagal karena perubahan mood yang drastis ini membuat filmnya seperti berubah genre. Yang membuat momen ini berhasil adalah para pemainnya lumayan berkomitmen untuk menjual intensi adegan yang diinginkan oleh Waititi.

Yang kedua adalah bagaimana Waititi mengolah visual Thor: Love and Thunder menjadi salah satu bentuk eksperimen yang sungguh berhasil. Thor: Love and Thunder adalah film MCU yang paling berwarna-warni dan bisa jadi paling eksperimental? Salah satu sekuens yang paling mengesankan justru ketika Thor dan kawan-kawan harus berhadapan di Gorr dimana semua warna menghilang. Hitam putih yang ditampilkan di layar membuat keputusasaan si penjahat begitu terasa. Hadir di tengah-tengah gempuran konten yang luar biasa, saya yakin Anda tidak akan bisa melupakan momen ini segera.

Dan yang terakhir, Waititi menutup filmnya dengan konklusi yang menyenangkan. Thor berhasil mendapatkan apa yang hilang dari hidupnya selama ini dan sekarang ia mempunyai tanggung jawab baru. Gambaran ini membuat saya senang karena dengan tempat yang sekarang sangat berbeda, Thor mempunyai bahan baru yang menarik untuk dibahas di film berikutnya.

Thor: Love and Thunder dapat disaksikan di seluruh jaringan bioskop di Indonesia.

---

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

(aay/aay)