Review Being The Ricardos: Kala Nicole Kidman Jadi Komedian Legendaris

Candra Aditya - detikHot
Kamis, 23 Des 2021 08:57 WIB
Dipersembahkan dalam format mockumentary, Being The Ricardos menjadi karya Aaron Sorkin yang sangat ambisius, tapi hasilnya kurang memberi kesan mendalam. (Candra Aditya)
(Foto: dok. Amazon Prime/imdb) Dipersembahkan dalam format mockumentary, Being The Ricardos menjadi karya Aaron Sorkin yang sangat ambisius, tapi hasilnya kurang memberi kesan mendalam. (Candra Aditya)
Jakarta -

Tidak banyak penulis skenario yang dikenal karena "tanda tangannya" yang jelas di setiap karya yang ia hasilkan. Tarantino mungkin adalah salah satu penulis yang sangat dikenal dengan trademark-nya. Selain dia, Aaron Sorkin bisa jadi adalah "wajah" dari fenomena ini. Hampir semua karya yang ia hasilkan, baik untuk teater, TV atau film, semuanya mempunyai benang merah yang sama. Karakter yang sangat kuat dengan prinsip dan dialog yang sangat cepat dan catchy. Kedua hal itu kemudian sering ia benturkan dengan kejadian larger than life yang membuat karya-karyanya selalu menarik untuk ditonton.

Setelah ketagihan menyutradarai Molly's Game dan juga The Trial of the Chicago Seven yang dirilis tahun lalu, Sorkin kembali lagi menulis dan menyutradarai biopik komedian yang sangat terkenal, Lucille Ball, yang diberi tajuk Being The Ricardos. Dan seperti The Social Network atau Steve Jobs, kita diajak untuk melihat satu minggu produksi sitkom terkenal I Love Lucy ketika si aktor berhadapan dengan gosip yang bisa menghancurkan kariernya dalam sekejap: dituduh menjadi seorang komunis.

Dipersembahkan dalam format mockumentary, kita bertemu dengan orang-orang di balik layar I love Lucy yang mengemukakan fakta ini: sitkom ini ditonton 60 juta orang. Semua orang yang memiliki televisi di Amerika pada tahun itu sudah pasti mengenal siap Lucille (Nicole Kidman) dan Desi Arnaz (Javier Bardem). Minggu itu, ketika Lucy dan Desi bersiap untuk taping episode terbaru sitkom mereka, seorang penyiar radio menyiarkan gosip miring tersebut.

Tentu saja berita bahwa Lucy "mungkin" adalah seorang komunis membuat semua orang yang terlibat I Love Lucy, terutama stasiun televisi dan sponsor utamanya ketar-ketir. Tapi Lucy dengan santainya mengatakan bahwa ini semua hanyalah rumor. Dia bukan komunis. Kakeknyalah yang seorang komunis. Dan dia mencentang kotak tersebut karena kakeknya. Lucy sendiri sebenarnya lumayan apolitis.

Meskipun konflik soal ini menjadi frame Being The Ricardos, film ini membicarakan banyak hal mulai dari hubungan Lucille dengan para pemainnya, sutradara dan penulis, dan tentu saja dengan pernikahannya yang seperti berada di ujung tanduk. Tentu saja seperti biopik-biopik yang ditulis oleh Sorkin, kita juga mendapatkan gambaran kenapa Lucille tidak menjadi bintang film terkenal, bagaimana dia bisa mendapatkan kontrak dengan stasiun TV dan lain sebagainya.

Sebagai pemeran utama, Nicole Kidman dan Javier Bardem memerankan karakter mereka dengan baik meskipun sepertinya tidak bisa dibandingkan dengan karakter aslinya di dunia nyata. Kidman mungkin tidak bisa mengubah dirinya 100% menjadi Lucille Ball (ngomong-ngomong, peran ini tadinya milik Cate Blanchett) tapi setidaknya dia bisa mengucapkan semua dialog khas Sorkin dengan lancar. Dan ketika film menuntutnya untuk menjadi dramatis, Kidman melaksanakan tugasnya dengan mudah.

Peran Bardem mungkin tidak selezat peran Kidman tapi ia menjadi tangan kanan Kidman dengan baik. Selain mereka berdua, yang juga mencuri perhatian adalah J. K. Simmons yang memerankan William Frawley dan Nina Arianda yang memerankan Vivian Vance. Simmons memang seperti ditakdirkan memuntahkan dialog Sorkin karena ia sangat luwes seperti tanpa usaha. Sementara itu Arianda membuat saya terkesan karena ia mungkin salah satu aktor yang rasanya seperti beneran ada di era tersebut. Aktor-aktor lain seperti Tony Hale (berperan sebagai Jess Oppenheimer), Alia Shawkat (berperan sebgai Madelyn Pugh), Jake Lacy (berperan sebagai Bob Carroll Jr.) dan Clark Gregg (Howard Wenke) bermain dengan cukupan sesuai dengan porsinya masing-masing.

Secara sekilas, Being The Ricardos mirip dengan semua yang sudah Aaron Sorkin buat. Film ini sangat menghibur dan akan menjadi lebih mengesankan kalau misalnya Anda mempunyai pengetahuan soal Lucille Ball dan sitkom I Love Lucy. Semua yang Anda harapkan dari seorang Sorkin ada disini. Tapi sayangnya, ia tidak tampil semenggelegar The Social Network atau Steve Jobs. Sorkin mungkin tahu bagaimana cara mengarahkan aktor tapi ia masih belum fasih dalam mengatur tempo dan tone film.

Sebagai biopik, Being The Ricardos cukup berhasil untuk mengenalkan penonton tentang Lucille Ball dan betapa besarnya sitkom yang ia bintangi. Tapi ia tidak memberikan kesan yang mendalam. Tidak ada sesuatu yang baru yang ia tawarkan. Tone-nya agak berantakan (apakah ini komedi? Apakah ini drama? Atau ini gabungan keduanya?) dan temponya kurang asyik. The Social Network dan Steve Jobs tahu cara mempersembahkan skrip Sorkin karena baik David Fincher atau Danny Boyle tahu cara menjaga konsistensi tone dan pengaturan tempo. Hasilnya adalah biopik yang menggelegar.

Being The Ricardos memang bukan film yang buruk. Tapi ia bisa saja menjadi sebuah film yang diperbincangkan kalau saja Aaron Sorkin mau menahan ambisinya sedikit saja.

Being The Ricardos dapat disaksikan di Amazon Prime.

--

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

(aay/aay)