Review Ghostbusters Afterlife: Sebuah Warisan yang Legendaris

Candra Aditya - detikHot
Sabtu, 04 Des 2021 07:36 WIB
Ghostbusters Afterlife
(Foto: dok. Sony Pictures) Poster film Ghostbusters Afterlife. Filmnya kini sedang tayang di bioskop.
Jakarta -

Callie Spengler (Carrie Coon) tidak mengenal bapaknya. Yang ia tahu bapaknya tidak pernah hadir dalam hidupnya sehingga ketika ia mendengar bapaknya meninggal, yang membuatnya bersemangat justru kemungkinan warisan yang akan membuatnya keluar dari utang. Tadinya ia hanya akan menggunakan uang warisan tersebut untuk membayar sewa rumah. Tapi setelah ia diusir oleh si empu kontrakan, Callie bersama kedua anaknya, Trevor (Finn Wolfhard) dan Phoebe (Mckenna Grace), harus pindah ke Summerville, Oklahoma.

Bapak Callie sendiri terkenal di Summerville. Terkenal sebagai orang aneh karena dia lebih sibuk "bertani tanah". Bapak Callie tidak hanya tidak ramah tapi memang tidak bergaul dengan siapapun. Rumah yang diwariskannya kepada anak dan cucu-cucunya pun tidak kalah nyentrik. Jelek adalah kata yang sangat sopan untuk menggambarkan rumah ini.

Sementara Trevor sibuk untuk menjadi remaja dan jatuh cinta dengan gadis setempat (Celeste O'Connor sebagai Lucky), Phoebe lebih tertarik untuk menyelidiki rumah kakeknya. Seperti halnya sang kakek, Phoebe sangat tertarik dengan hal-hal yang berbau ilmiah. Ketika Phoebe menemukan laboratorium rahasia di bawah tanah, Phoebe mulai membayangkan siapa sebenarnya sang kakek. Yang ia tidak tahu, sebentar lagi ia dan kakaknya akan segera berhadapan dengan apapun yang membuat kakeknya mengasingkan diri.

Setelah proyek reboot Ghostbusters tahun 2016 yang membuat semua penggemar berat menyerang para pemain saking bencinya mereka dengan proyek tersebut, Sony menghentikan semua rencana yang berbau dengan sekuel proyek ini. Ghostbusters, meskipun kedengerannya sepele, adalah sebuah warisan 80-an yang sangat ikonik dan penggemarnya tidak kalah militan dengan film-film Star Wars atau apapun yang diproduksi oleh MCU.

Ghostbusters tahun 2016 sendiri sebenarnya bukan film yang jelek-jelek sekali meskipun dia memang tidak baik. Tapi memang jika dibandingkan dengan versi originalnya, maka banyak sekali hal-hal yang membuat film originalnya diminati, tapi tidak bisa Anda temukan di versi 2016. Jenis humornya pun sangat berbeda dengan versi aslinya. Tidak mengherankan para penggemar beratnya kecewa sekali dengan film tersebut.

Jason Reitman, sutradara Ghostbusters Afterlife (dan juga co-writer film ini bersama Gil Kenan), tahu bahwa apa yang dia kerjakan adalah sesuatu yang sangat sakral. Seperti halnya karakter yang diperankan dalam Carrie Coon di film ini, Jason Reitman adalah anak dari Ivan Reitman yang merupakan sutradara dua film original Ghostbusters. Di atas kertas proyek ini agak mengherankan mengingat Jason Reitman film-filmnya selalu edgy. Film blockbuster bukanlah zona nyamannya meskipun Juno berhasil melewati angka 100 juta dollar dari penonton di Amerika. Tapi ternyata Jason Reitman tahu benar bagaimana cara mempersembahkan kisah Ghostbusters yang berikutnya: menyenangkan fans film aslinya.

Jujur saja, kenikmatan menonton Ghostbusters Afterlife akan bergantung dengan seberapa familiar Anda dengan film aslinya. Meskipun Ghostbusters Afterlife bisa disaksikan tanpa Anda menonton film aslinya, tapi rasanya akan sangat jauh berbeda apabila Anda sudah menonton dua film sebelumnya. Setiap hal yang ada dalam film ini dipenuhi dengan berbagai referensi dari film aslinya. Baik secara visual maupun secara naratif Ghostbusters Afterlife berkali-kali mengingatkan penonton akan keseruan film aslinya. Over-correcting setelah kejadian remake Ghostbusters ini jelas hanya akan menyenangkan penggemar berat film aslinya. Kalau Anda sudah lupa dengan hal-hal kecil dari film aslinya, dijamin Anda tidak akan se-emosional itu.

Secara plot, Ghostbusters Afterlife sendiri sangat sederhana. Meskipun banyak hal yang membuat saya bingung (seperti fakta bahwa kenapa orang-orang ini tidak ada yang panik saat melihat hantu untuk pertama kalinya) tapi cara bertuturnya lumayan engaging dan di-edit dengan pas. Begitu Anda merasa bosan, Reitman akan memberikan kejutan untuk membuat filmnya menjadi seru lagi.

Dibungkus dalam sebuah film keluarga, Ghostbusters Afterlife menjadi make sense di menit-menit terakhir. Ternyata ada alasan kenapa Jason Reitman membuat film ini menjadi sangat sentimentil. Ini ternyata bukan hanya warisan bagi Reitman tapi juga warisan berharga bagi semua orang yang menonton film aslinya di dekade 80-an. Mau sekonyol apapun, Ghostbusters lebih dari sekedar hiburan. Dan di detik-detik terakhir itulah, Ghostbusters Afterlife berhasil membuat saya menangis bahagia.

Ghostbusters Afterlife dapat disaksikan di seluruh jaringan bioskop di Indonesia.

--

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

(aay/aay)