ADVERTISEMENT

Review Hellbound: Manusia Adalah Makhluk yang Menyeramkan

Candra Aditya - detikHot
Kamis, 25 Nov 2021 12:03 WIB
Drama Korea Hellbound
Foto: dok. Netflix
Jakarta -

Diangkat dari webcomic berjudul sama dan ditulis serta disutradarai oleh sutradara Train To Busan, Yeon Sang-Ho, Hellbound sama sekali bukan penerus Squid Game. Kesamaan keduanya hanyalah dari sumber negaranya. Selain itu, hampir tidak ada.

Kalau Squid Game masih menyisakan keseruan meskipun ceritanya lumayan menyedihkan, Hellbound mengajak penonton untuk depresi bersama-sama. Monster yang muncul hanya cherry di atas sebuah ice cream penuh kesengsaraan.

Hellbound dibuka dengan penjelasan tentang sebuah kepercayaan (atau sekte) baru yang diketuai oleh Jeong Jin-soo (Yoo Ah-in) yang mengatakan bahwa orang-orang yang berdosa akan segera bertemu dengan penghukumnya. Tak lama kemudian kita melihat seorang pria yang begitu ketakutan dan terus-terusan melihat jam di ponselnya.

Sejenak dia merasa lega karena mimpi buruknya tidak muncul. Tapi perasaan itu tidak berlangsung lama karena kemudian muncul tiga makhluk misterius raksasa yang bentuknya seperti ape muncul dan berusaha menangkapnya.

HellboundHellbound Foto: Netflix/Jung Jaegu | Netflix

Si pria langsung berlari dan memasuki jalanan Seoul yang padat. Tapi tentu saja dia bukan tandingan si monster. Tiga monster ini menangkapnya dan memukulinya sampai dia tak bisa lagi kabur. Kemudian mereka mengeluarkan cahaya yang sangat terang dan membakar si pria sampai dia hangus menjadi arang. Mimpi buruk pun dimulai.

Dengan pembukaan yang sangat efektif, Hellbound dengan cepat langsung memusnahkan semua ekspektasi yang ada di kepala saya. Ini bukan serial tentang makhluk tersebut. Pembuatnya juga sama sekali tidak tertarik untuk menjelaskan ini semua. Apakah mereka kiriman dari Tuhan? Bagaimana mekanismenya? Apakah orang-orang ini memang layak untuk disiksa di depan publik kemudian diseret ke neraka? Semua pertanyaan ini penting tapi pembuatnya lebih tertarik untuk menggambarkan sesuatu yang lebih menarik: apa yang terjadi ketika manusia-manusia menelan semua hal yang tidak mereka mengerti dalam-dalam?

Penulis skripnya, Sang-ho dan Choi Kyu-Seok, membagi Hellbound menjadi dua bagian. Rasanya seperti sebuah film dengan sekuelnya. Bedanya, mereka saling mengisi satu sama lain sehingga ia menjadi sebuah kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Bagian pertamanya menceritakan tentang bagaimana Jin-soo, pemimpin sekte bernama New Truth 'mendoktrin' masyarakat tentang apa yang dia coba sebar. Bahwasannya Tuhan sedang menunjukkan kekuasaannya dan menghukum manusia-manusia yang berdosa. Di bagian ini ada Min Hye-jin (Kim Hyun-joo), seorang pengacara yang mau tak mau berhubungan dengan Jin-Soo.

Bagian paling menegangkan di bagian pertama ini tentu saja ketika Park Jeong-ja (Kim Shin-rok), seorang single mother dengan dua anak, mendapatkan 'peringatan' bahwa dia akan menemui ajalnya beberapa hari ke depan. Tentu saja sebagai single mother yang ia khawatirkan adalah anaknya. Ia setuju untuk tampil dan direkam saat monster-monster itu datang menemuinya demi sejumlah uang.
Saat inilah Hye-jin masuk dalam kehidupannya dan akhirnya terseret dalam sebuah aksi yang disebabkan oleh Jin-soo. Fanatisme penganut New Truth akan membuat Anda shock karena apa yang digambarkan oleh pembuatnya terasa sangat nyata.

Bagian kedua Hellbound menceritakan tentang apa yang terjadi beberapa tahun setelah bagian pertama. Kita hanya tahu bahwa sekarang New Truth menjadi besar dan menjadi sebuah kekuatan yang bahkan melebihi polisi. Kata-kata mereka adalah undang-undang. Konflik terjadi ketika anak Bae Young-jae (Park Jeong-min) dan Song So-hyun (Won Jin-ah) yang baru saja lahir mendapatkan peringatan bahwa ia akan menemui ajalnya beberapa hari lagi.

Kalau New Truth bilang bahwa hanya orang-orang berdosa yang akan dihukum, kenapa bayi yang baru saja lahir ini mendapatkan peringatan? Dosa apa yang kira-kira dia lakukan sampai dia mendapatkan penalti ini?

HellboundHellbound Foto: Netflix/Jung Jaegu | Netflix

Kalau babak pertama menaruh pondasi tentang rasa keputusasaan, babak kedua menunjukkan dengan baik bahwa tidak ada yang lebih kuat daripada rasa takut. Kalau Anda menonton Train To Busan, Anda pasti tahu bahwa Sang-ho tahu sekali bagaimana cara mengatur ketegangan.

Dengan cara yang sangat unik, Sang-ho sanggup membuat film zombie menjadi fresh kembali. Di Hellbound, bagian yang paling biasa justru adalah adegan-adegan ketika monsternya muncul. Meskipun adegannya dibuat dengan baik, adegan-adegan tersebut terasa biasa saja jika dibandingkan dengan kepiawaian Sang-ho mengatur tone.

Tone Hellbound yang sangat depresif terasa sekali dari episode pertama dan ia terus mengikat saya hingga episode terakhir. Biasanya ketika keasyikan menonton serial Netflix, saya dengan senang untuk loncat ke episode berikutnya.

Dalam kasus Hellbound, saya terpaksa harus rehat sejenak supaya saya bisa 'kuat' untuk menonton episode berikutnya. Selain visualnya sangat grafis dalam menggambarkan kekerasan, Sang-ho sangat ahli dalam melukis realita yang sangat kelam. Hellbound bisa jadi sebuah fiksi. Tapi gambaran orang-orang yang menjadi brutal karena fanatisme adalah sebuah visual yang sudah sering kita lihat sehari-hari di dunia nyata.

Dibandingkan dengan monster-monsternya, manusia-manusia dalam Hellbound jauh lebih mengerikan. Ditambah dengan ending yang sangat cemerlang, saya tidak sabar menunggu apa yang akan dieksplor oleh Sang-ho di musim berikutnya.

Hellbound dapat disaksikan di Netflix

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.



Simak Video "K-Talk: 'Hellbound' Hadirkan Kritik Sosial Berbalut Fantasi"
[Gambas:Video 20detik]
(dal/dal)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT