Jolt, Film Aksi yang Nyetrum

Candra Aditya - detikHot
Kamis, 29 Jul 2021 06:30 WIB
Kate Beckinsale di film Jolt.
(Foto: dok. Amazon Prime) Beckinsale, seperti yang ia tunjukkan dalam franchise Underworld, sudah tidak perlu membuktikan diri lagi kalau dia ahli dalam beraksi di depan kamera.
Jakarta -

Ada beberapa film yang eksekusinya biasa saja tapi terselamatkan oleh penampilan bintang utamanya. Entah karena memang si aktor tersebut mempunyai kualitas akting yang tidak usah diragukan lagi atau memang dia mempunyai kharisma yang luar biasa sehingga penonton fokus dengannya dan melupakan semua lubang-lubang yang ada di plotnya. Hal tersebut terjadi dalam Jolt.

Jolt merupakan sebuah film aksi komedi karya Tanya Wexler yang dibintangi oleh Kate Beckinsale. Di tangan yang salah film ini akan menjadi sebuah tontonan yang medioker tapi di tangan Beckinsale, Jolt menjadi hiburan yang lumayan asyik.

Premisnya sangat menarik. Lindy Lewis (Kate Beckinsale) adalah seorang perempuan yang punya penyakit langka yang dinamakan intermittent explosive disorder. Ketika dia sedang marah (dan ini sering terjadi) dia tidak akan bisa mengendalikan dirinya. Dia bisa langsung memukuli orang tersebut sampai babak belur atau seperti dalam fantasi-fantasinya, ia akan mencoba untuk membunuh orang-orang yang membuatnya kesal.

Lindy sudah menjalani banyak eksperimen. Negara mencoba menggunakan amarahnya sebagai senjata dan ini tidak berhasil. Untuk bisa tenang bergabung dengan masyarakat, dokter pribadi Lindy bernama Dr. Ivan Munchin (Stanley Tucci, selalu bisa diandalkan seberapa kecil pun perannya) memberinya sebuah alat untuk meredakan amarahnya. Tubuh Lindy dipenuhi dengan berbagai perangkat yang tersambung dengan sebuah tombol yang ia bawa kemana-mana. Jika amarah menguasainya, tombol tersebut akan menyetrumnya dan akhirnya dia akan kembali ke realita.

Tentu saja penyakit aneh ini membuatnya susah untuk mendapatkan kekasih. Banyak hal membuat Lindy kesal. Bayangan kencan dengan orang asing sering membuatnya bergidik. Ketika akhirnya dia bertemu dengan cowok sabar yang mau memberi toleransi semua keanehannya, Lindy langsung merayakan ini dengan bahagia.

Cowok bernama Justin (Jai Courtney) yang merupakan seorang akuntan ini membuat hidup Lindy punya tujuan. Tapi kebahagiaan ini tidak berlangsung lama karena sesuatu yang buruk terjadi kepada Justin dan Lindy pun akhirnya menggunakan amarahnya untuk menghukum para penjahat yang telah menyakiti cowok gemas tersebut.

Secara plot Jolt yang ditulis oleh Scott Wascha ini tidak menawarkan sesuatu yang revolusioner. Plotnya gampang diikuti. Tapi keputusannya untuk membubuhkan banyak elemen komedi membuat Jolt menjadi lebih asyik daripada film aksi sejenis. Humor yang ditawarkan pun beragam. Ada yang visual, banyak juga yang verbal.

Dan karena Jolt mempunyai elemen komedi yang lebih kental dibandingkan John Wick atau Atomic Blonde, maka keputusan Wexler untuk memilih Beckinsale sebagai pemeran utamanya pun patut diacungi jempol.

Beckinsale, seperti yang ia tunjukkan dalam franchise Underworld, sudah tidak perlu membuktikan diri lagi kalau dia ahli dalam beraksi di depan kamera. Tapi salah satu kekuatan Beckinsale yang tidak dimiliki banyak aktor lain adalah ia ahli dalam menyampaikan black humor. Beckinsale tidak hanya ahli dalam menyampaikan deretan one liner kocak, tapi juga sangat berhasil menjual premis yang extravaganza ini. Ditambah dengan screen presence-nya yang sangat besar, Jolt akhirnya menjadi asyik dinikmati karena penonton mendapatkan bintang film yang bisa membawa karakter utamanya jadi asyik dan relatable.

Yang juga membuat Beckinsale enak dilihat adalah kemampuannya untuk mencairkan suasana. Jai Courtney bukanlah aktor yang luar biasa. Tapi berhadapan dengan Beckinsale entah kenapa Courtney menjadi lebih luwes daripada aksi-aksinya di film lain. Courtney berhasil menampilkan sosok yang cupu dan menggemaskan. Ini penting karena adegan kemesraan mereka akan menjadi katalis bagi Lindy untuk beraksi. Selain Courtney, Beckinsale tentu saja berhasil membuat suasana menjadi lebih meriah dengan Bobby Cannavale dan Laverne Cox yang bertugas sebagai detektif yang menyusahkan hidupnya.

Jolt memang bisa ditebak dan banyak sekali plot point yang terlalu mudah. Untuk ukuran film aksi dia tidak sesensasional tetangga-tetangganya. Jalan Lindy untuk menemukan penjahatnya terlalu receh. Tapi dengan durasi yang bersahabat (hanya satu setengah jam) dan Beckinsale yang selalu asyik, Jolt menawarkan sebuah hiburan yang layak. Kalau memang Jolt direncanakan sebagai sebuah franchise baru (sesuai dengan endingnya), mudah-mudahan Lindy mendapatkan lawan yang lebih seru.

Jolt dapat disaksikan di Amazon Prime.

--

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

(aay/aay)