Fear Street Part 3: 1666, Konklusi yang Memuaskan

Candra Aditya - detikHot
Sabtu, 17 Jul 2021 14:38 WIB
Fear Street Part 3: 1666
Foto: dok. Netflix
Jakarta -

Membuat sekuel yang bisa menandingi film originalnya tidak mudah. Cek saja kebanyakan sekuel. Tidak hancur lebur saja sudah bagus hitungannya. Alasan inilah yang menjadikan trilogi Fear Street menjadi udara yang sangat segar.

Dua film sebelumnya, 1994 dan 1978, tidak hanya menjadi sebuah adaptasi buku yang baik tapi juga menyajikan teror yang bermutu. Mungkin karena dari awal didesain sebagai trilogi (kabarnya sebelum Fear Street dipegang Netflix film ini rencananya akan dirilis di bioskop dengan jeda satu bulan) sehingga trilogi ini benar-benar berhubungan satu sama lain. Dalam artian, jika yang satu tidak ada, maka ceritanya akan bolong.

Bagian pertama Fear Street menceritakan tentang sekumpulan remaja yang berjuang menyelamatkan diri dari kutukan penyihir bernama Sarah Fier (Elizabeth Scopel) yang sepertinya mengutuk semua penduduk Shadyside. Yang tersisa di bagian kedua Fear Street adalah Deena (Kiana Madeira) bersama adiknya Josh (Benjamin Flores Jr.) dan pacarnya Sam (Olivia Scott Welch) yang masih kesurupan.

Di bagian keduanya kita diajak untuk melihat bagaimana caranya Ziggy (Gillian Jacobs sebagai Ziggy dewasa dan Sadie Sink sebagai Ziggy remaja) selamat dari teror yang merenggut nyawa saudarinya. Karena sampai akhir Fear Street 1978 kita masih belum tahu bagaimana Deena dan kawan-kawan menyelesaikan teror ini, maka Fear Street 1666 adalah konklusi sekaligus sebuah flashback tentang tragedi Sarah Fier yang sesungguhnya.

Di bagian ketiga Fear Street ini kita diajak masuk ke dunia Sarah Fier melalui mata Deena. Seperti halnya film horor yang baik, semuanya baik-baik saja. Sarah Fier adalah gadis yang baik dan putri yang berbakti. Hubungannya dengan penduduk sekitar juga baik. Satu-satunya rahasia yang ia tutupi adalah perasaannya kepada Hannah Miller (yang juga diperankan oleh Olivia Scott Welch). Rahasia ini mereka tutup rapat-rapat karena tidak ada celah untuk hubungan sesama jenis di era itu.

Kemudian Sarah Fier menemukan buku penyihir dan tentu saja keesokannya kejadian aneh mulai melanda desa. Babi peliharaannya memakan bayi-bayinya sendiri. Apel tiba-tiba busuk. Korban nyawa berjatuhan. Sumber mata air tercemar bangkai anjing. Sarah Fier menemukan kenyataan pahit ketika salah seorang yang ia pedulikan ternyata adalah dalang dibalik teror ini. Ia tidak bisa berkutik ketika orang-orang mulai mengancam akan menggantung Hannah Miller. Maka Sarah Fier merelakan dirinya untuk digantung sebelum akhirnya bersumpah bahwa dia akan mengganggu hidup si penyihir yang sesungguhnya.

Fear Street 1666 dibagi menjadi dua bagian dan meskipun kedua bagian ini sangat berbeda satu sama lain tapi keduanya sangat memuaskan dengan porsi masing-masing. Bagian pertamanya mungkin minim gore tapi atmosfernya sangat mencekam. Mungkin ini adalah bagian paling seram dari trilogi Fear Street. Suasana tidak enak terasa sangat pekat. Semakin lama teror di desa ini berlangsung, suasananya semakin tidak nyaman. Sementara itu bagian keduanya, alias bagian konklusi dari Fear Street 1994, sangat gory dan penuh dengan kejutan. Kalau Anda menyukai film pertamanya, bagian ini pasti akan menyenangkan Anda.

Yang keren dari Fear Street 1666 adalah ia hadir tidak hanya untuk mengisi lubang-lubang di dua film sebelumnya tapi ia juga membuat semua konteks tidak penting di film sebelumnya jadi make sense.

Fear Street Part 3: 1666Fear Street Part 3: 1666 Foto: dok. Netflix

Di film pertamanya, saya menulis bahwa hubungan antara Deena dan Sam terasa terlalu mencuri perhatian. Saya merasa bahwa bagian romansanya terlalu mencuri porsi filmnya. Tapi ternyata hubungan mereka menjadi callback yang krusial karena romansa juga menjadi katalis yang penting bagi Sarah Fier dan Hannah Miller. Dua romansa ini saling berhubungan yang akhirnya membuat konteksnya menjadi kuat. Penjahat yang rela melakukan apa saja dan mengorbankan karakter LGBT untuk kesuksesannya? Sangat relevan mau di tahun 1666 atau jaman sekarang.

Leigh Janiak sebagai sutradara dan penulis (menulisnya dibantu oleh Phil Graziadei dan Kate Trefry) sudah membuktikan ia ahli membuat teror (adegan kepala dan mesin pemotong roti di film pertamanya tetap yang terbaik) tapi dalam film ini ia membuktikan bahwa ia sangat versatil. Janiak bisa membuat horor yang atmosferik, thriller yang seru, dan juga sebuah petualangan dengan unsur komedi. Kerennya, tidak ada satu pun yang gagal. Bahkan permainan aktornya pun terjaga stabil.

Hadirnya trilogi Fear Street membuktikan bahwa horor yang baik tidak harus artsy. Horor yang accessible pun bisa menjadi seru kalau dibuat dengan niat. Fear Street: 1666 tidak hanya menjadi penutup yang oke tapi ia berhasil membuat saya menginginkan lebih.

Fear Street Part 3: 1666 dapat disaksikan di Netflix.

--

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

(aay/aay)