'Ger13ang': Memotret Brutalnya Dunia Narkoba
Rabu, 18 Mei 2005 12:00 WIB
Jakarta - Film "Ger13ang" merupakan karya perdana dari Nanda J. Umbara. Sutradara muda itu sebenarnya ingin mengangkat bahaya narkoba. Namun sayangnya yang ditangkap dari film ini justru hanya kebrutalan dan kekejaman dari dunia hitam tersebut.Sejak adegan awal, kebrutalan ala gangster sudah diperlihatkan Nanda. Transaksi narkoba di sebuah kafe dihebohkan dengan kedatangan beberapa gank narkoba lain. Gank brutal tersebut dipimpin Afman (Erwin Moron) atas suruhan bos narkoba di Indonesia, Rico Gollapagos. Afman menuduh seseorang bernama Elang menyembunyikan ribuan gram obat-obatan terlarang yang sudah dibeli bosnya dari bandar Thailand bernama Anwar Sukhoi.Jawaban tidak didapat, Afman pun menghabisi seluruh orang yang ada di kafe tersebut. Tembak-menembak serta tusuk-menusuk membuat penonton langsung dibawa ke suasana tegang.Adegan beralih ke seorang inspektur polisi cantik AKP Bunga Restu Audini (Lia Chandra). Bersama timnya, Bunga mencoba menguak kasus yang menggemparkan itu. Anak dari purnawirawan polisi ini akhirnya membuat sebuah tim undercover agar jaringan narkoba di Indonesia bisa dibongkar habis.Tim buatan Bunga bukanlah tim biasa. Bunga merekrut orang-orang yang justru mengenal seluk-beluk dunia narkoba secara mendalam. Di antaranya Varra (Donna Agnesia), mantan model yang juga hacker. Gadis tinggi semampai itu dulunya pernah kecanduan berat pada narkoba karena dunia glamour yang digelutinya. Selain Varra, ada juga penjahat kelas teri bernama Renno yang selalu lolos dari tangakapan polisi karena kemampuan indera keenamnnya. AKP Bunga semakin terbantu akan kehadiran Elang yang ternyata selamat dari pembantaian yang dilakukan Afman. Bersama-sama, mereka berhasil menangkap Anwar Sukhoi dan Rico Gollapagos. Afman sang pembunuh kejam, akhirnya tewas ditembak karena perlawanan yang dilakukannya ketika hendak ditangkap."Ger13ang" (dibaca: Gerbang 13) merupakan film pertama Nanda yang berhasil masuk ke jaringan bioskop 21. Film yang juga dibiayai oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) ini sebenarnya sudah dibuat sejak tahun 2001. Namun saat itu baru berupa pilot project."Setelah pilot projectnya selesai, saya sempat tawarin film ini ke mana-mana. Tapi nggak ada yang nerima karena over ekstrim," cerita Nanda.Anak dari sutradara senior Danu Umbara ini mengakui filmnya memang berbeda dari film-film Indonesia yang belakangan ini keluar di bioskop. Kekerasan dan kebrutalan sengaja ditonjolkannya untuk menarik perhatian anak muda yang jadi target utama penonton filmnya."Film tentang narkoba harus brutal seperti ini. Kalau nggak nanti filmnya jadi ngebosenin," imbuhnya.Bicara soal aksi kekerasan di film tentunya tidak mungkin dilepaskan dari yang namanya Lembaga Sensor Film. Nanda mengakui filmnya banyak diedit karena sensor dari lembaga tersebut."Film ini sangat banyak disensor. Salah satunya pada waktu adegan di kafe yang seharusnya banyak darah-darah muncrat. Untuk ngilangin darah-darah muncrat itu banyak efek yang gue pakai," ujar pria yang juga pernah menyutradarai beberapa film independen seperti "Generasi Bunga" dan "Police Love Story" itu.Nanda sangat berharap layar lebar yang diproduksinya bersama Revol Film ini bisa diterima masyarakat. Apalagi sederet bintang seperti Donna Agnesia, Lia Chandra, Erwin Moron, Andi dan Jikun /rif ikut mendukung aksi brutal di "Ger13ang." (eny/)











































