Setelah itu, ia didapuk memerankan Mystique versi terbaru dalam proyek reboot 'X-Men', menjadi pemenang Oscar sebelum berumur 25 tahun dan sisanya adalah sejarah. Dan, sebagai Katniss, ia meneguhkan kematangan aktingnya, dan kembali berhasil menunjukkan ketangguhan, keberanian dan juga keraguan pada diri sendiri pada saat yang bersamaan.
Setelah kejadian dalam 'Hunger Games', Katniss kini mencoba untuk hidup normal. Agak susah memang, mengingat dia dan Peeta (Josh Hutcherson) harus tetap tur ke semua distrik untuk menunjukkan bahwa mereka memang pasangan. Lebih susah lagi bagi Katniss karena harus pura-pura jatuh cinta, padahal sebenarnya ia lebih naksir Gale (Liam Hemsworth). Namun, semuanya harus dilakukan dengan sempurna. Presiden Snow (Donald Sutherland) mengawasinya dengan seksama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gary Ross mundur dari proyek ini dan kursi sutradara pun diambil alih oleh Francis Lawrence ('Constantine', 'Water For Elephants'). Dengan modal skrip yang bagus dari Simon Beaufoy ('Slumdog Millionaire') dan Michael deBuryn (nama alias Michael Arndt, penulis 'Little Miss Sunshine' dan 'Toy Story 3'), 'Catching Fire' adalah sebuah sekuel sekaligus blockbuster yang memuaskan.
Dipimpin oleh Jennifer Lawrence yang memerankan Katniss dengan penuh energi, pemain-pemain lainnya pun tidak mengecewakan. Hemsworth kebagian lebih banyak porsi daripada film pertamanya, menunjukkan sosok Gale yang bagi pembaca bukunya sangat kharismatik. Hutcherson juga semakin oke, terutama karena karakternya akan menjadi semakin gelap seiring dengan berjalannya film.
Sementara itu para senior seperti Woody Harrelson sebagai Haymitch, Elizabeth Banks sebagai Effie, Lennny Kravitz sebagai Cinna dan Stanley Tucci sebagai Caesar Fickerman tetap menghentak seperti biasa. Donald Sutherland yang kebagian peran villain benar-benar menikmati sosoknya sebagai Presiden Snow yang bengis dan berhasil membuat penonton benci kepadanya. Munculnya Phillip Seymor Hofman sebagai Plutarch Heavensbee menjadi salah satu bukti bahwa serial ini memang mengutamakan kualitas pemain untuk memerankan karakter-karakter nyentriknya. Jena Malone dan Sam Clafin βberturut-turut sebagai Johanna dan Finnickβ juga tidak kaku mengimbangi pemain seniornya.
Keahlian Francis Lawrence ternyata bukan hanya dalam mengarahkan aktor-aktornya, melainkan juga dalam mengatur emosi dan tempo filmnya. Dengan durasi hampir dua setengah jam, 'Catching Fire' tidak membiarkan penontonnya untuk merasa bosan. Pada bagian awal film kita diajak untuk melihat apa yang terjadi dalam perubahan hidup Katniss setelah dia menjadi pemenang. Bagian ini penuh dengan drama dan sebuah katalis penting baginya untuk mengambil keputusan di bagian selanjutnya.
Sementara itu, bagian kedua film adalah saat bagi penggemar aksi dan kebrutalan dimanjakan tanpa jeda. Berbeda dengan film pertamanya yang penuh dengan hand-held camera movement, Francis Lawrence βdengan bantuan sinematografer Jo Willemsβ menampilkan pertandingan dengan mulus dan lebih classy tanpa mengurangi ketegangannya. Set dan visual effect-nya pun jauh lebih massive ketimbang film pertama, menunjukkan production value yang jauh lebih meyakinkan.
'Catching Fire' membuktikan bahwa tidak selamanya film blockbuster βdan sekuelβ akan terjerembab dalam rumus lama Hollywood. Dengan ending yang sangat bikin penasaran, penonton harus lebih bersabar untuk menyaksikan kelanjutan petualangan revolusioner Katniss tahun depan. Untuk sementara, film ini lebih dari memuaskan untuk mengobati kerinduan para penggemarnya atas sosok gadis bersimbol mockingjay itu.
Candra Aditya penulis, pecinta film. Kini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Film, Binus International, Jakarta.
(mmu/mmu)











































