'Carrie': Horor Klasik Versi Gula-gula Kapas

'Carrie': Horor Klasik Versi Gula-gula Kapas

Candra Aditya - detikHot
Senin, 11 Nov 2013 13:15 WIB
Carrie: Horor Klasik Versi Gula-gula Kapas
Jakarta - Bukan berita baru lagi kalau Hollywood kekurangan ide dan sedang melakukan proyek besar "Me-remake Semua Film yang Pernah Ada". Kita sebagai penonton hanya bisa berharap agar mereka tidak mengacaukan versi aslinya. Sampai kemudian muncullah berita bahwa 'Carrie', film horor klasik buatan Brian De Palma yang dirilis pada 1976 akan dibuat ulang. Kita tidak mempunyai kekuatan sebesar itu untuk marah dan berusaha memboikot filmnya. Seperti yang saya bilang, sebagai penikmat film, kita hanya bisa berharap agar filmnya tidak mengecewakan.

Muncullah nama Kimbery Peirce yang didapuk menjadi sutradara. Peirce yang berjasa atas Oscar pertama Hillary Swank dalam 'Boys Don't Cry' tentu saja adalah pilihan yang menarik untuk proyek remake ini. Tambahkan nama Julianne Moore dan Chloe G. Moretz, maka penggemar 'Carrie' versi aslinya akan bernapas lega karena mereka pasti akan berusaha keras untuk membuat 'Carrie' era Twitter ini menjadi yang terbaik. Tapi, apakah mereka berhasil?

'Carrie' versi terbaru ini memulai kisahnya dengan sosok Margaret (Julianne Moore) yang sedang terbaring di ranjang dengan darah di mana-mana. Ia terus berteriak-teriak, menyebut nama Tuhan dan memohon ampun. Tak lama kemudian, bayi perempuan keluar dari perutnya. Ada momen menyeramkan ketika Margaret mengambil gunting dan bersiap untuk menusuk bayi tak berdosa yang baru lahir tersebut. Namun, Margaret mengubah pikirannya dan memutuskan untuk memeluknya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Loncat beberapa tahun kemudian anak Margaret tumbuh dewasa menjadi sosok yang freak. Carrie (Chloe Grace Moretz) bukanlah sosok yang memiliki teman yang banyak, apalagi disebut populer. Ia duduk di pojokan di kelasnya, makan siang sendirian, dan ketika kelas olahraga dia akan berada di barisan paling belakang.

Seakan keanehannya belum lengkap, Carrie yang baru saja mengalami menstruasi pertamanya berteriak-teriak panik di kamar mandi yang langsung membuatnya jadi bulan-bulanan teman-temannya. Dipimpin oleh Chris (Portia Doubleday), mereka "menyiksa" Carrie sampai akhirnya sang guru olahraga, Rita (Judy Greer) menyelamatkannya.

Mereka tidak tahu: Carrie baru saja mengetahui bahwa dirinnya memiliki kekuatan telekinetis yang semakin lama semakin kuat. Chris, yang dihukum oleh Rita, memutuskan untuk membalas dendam pada Carrie dengan menyiapkan seember darah babi untuk acara prom. Sayang, tidak ada yang memberi tahu Chris apa yang bisa dilakukan Carrie, dan apapun yang terjadi selanjutnya pasti akan berakhir dengan darah.

Kimberly Peirce dan timnya kelihatan sekali berusaha keras untuk membuat 'Carrie' versi baru ini menjadi tontonan yang menyeramkan. Musik dan sinematografinya cukup membantu untuk membuat atmosfer yang kelam dan claustrophobic. Julianne Moore pun sudah mengerahkan kemampuannya untuk menjadi sosok Margaret yang benar-benar "gila" karena kepercayaannya –walaupun terasa hanya dua dimensi saja. Namun, memang susah untuk membuat sesuatu yang mencekam jika film aslinya sudah melakukan hal tersebut. Dengan sangat sukses, kalau boleh ditambahkan.

Berbeda dengan versi Brian De Palma yang ketegangannya benar-benar diatur hingga saat Carrie menggila di adegan akhir penonton akan meringkuk di kursi, versi Peirce ini tidak bisa mengatur mood filmnya menjadi menegangkan. Malah, dalam beberapa adegan versi baru ini terasa terlalu "unyu". Hal yang disayangkan mengingat apa yang bisa dilakukan oleh film ini harusnya akan membuat orang-orang lari terkencing-kencing.

Dan, tentu saja, masalah terbesar film ini adalah pemeran utamanya. Salah satu faktor utama yang membuat 'Carrie' versi Brian De Palma adalah nama Sissy Spacek yang memerankan Carrie. Berusia 27 tahun saat memerankan Carrie, Spacek benar-benar merasuk menjadi sosok ciptaan Stephen King tersebut. Dia freak, gerak-gerik tubuhnya menunjukkan bahwa dia tidak diterima di mana pun dia berada, dan kondisi fisiknya membuat Anda memaklumi jika dia menjadi objek bully satu sekolahan. Kemudian, datanglah sequence dramatis ketika dia menghajar seluruh teman-temannya di aula. Anda bisa merasakan kemarahannya lewat tatapan matanya.

Chloe Grace Moretz, di sisi lain, adalah aktor yang berbakat. Bermain dalam film-film keren seperti 'Kick-Ass' (lupakan yang kedua) sampai 'Hugo'-nya Martin Scorsese, Moretz selalu menampilkan akting yang prima. Sayangnya kebrilianan Moretz kurang begitu terpancar dalam film ini.

Dibandingkan dengan Sissy Spacek, Moretz terasa terlalu cantik untuk bisa di-bully oleh seluruh orang di sekolah. Dalam keadaan rapuh, Moretz tidak berhasil mendapatkan kerapuhan yang benar-benar tidak bisa ditolong lagi. Dan, saat menggila, seperti di akhir film, Moretz kurang seliar yang diharapkan.

Sejujurnya, dibandingkan dengan film-film remake lain seperti 'Friday the 13th', 'Halloween' dan horor-horor klasik lainnya, 'Carrie' bukanlah remake horor yang buruk-buruk amat. Adegan finalnya masih cukup menggigit. Namun, tetap saja, bagi Anda yang sudah telanjur mencintai versi Brian De Palma, 'Carrie' yang satu ini lebih terasa seperti gula-gula kapas dibandingkan bakso malang yang pedas.

Candra Aditya penulis, pecinta film. Kini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Film, Binus International, Jakarta.

(mmu/mmu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads