Day 2, Gank Al Azhar Latihan Ekstra Keras Sebelum ke Turki
Selasa, 31 Mei 2005 09:00 WIB
Jakarta - Gank tari SMU Al Azhar benar-benar dikejar waktu. Sebelum mereka sibuk belajar buat ulangan umum, latihan intensif jadi agenda wajib. Setiap hari dilewatin untuk nari, nari dan nari.Akhir Juni besok, gank tari tradisional SMU Al Azhar harus udah siap unjuk gigi di festival tari internasional. Nggak heran kalau sejak sebulan sebelum berangkat, latihan benar-benar dibuat maksimal. Apalagi pertengahan Juni ini, nggak ada waktu buat latihan karena mereka harus belajar untuk ulangan umum.Dulu, sebelum latihan setiap hari seperti sekarang, gank tari gabungan SMU Al Azhar dan Bakti Mulya 400 ini, latihan tiga kali dalam seminggu. Hari Selasa dan Sabtu, mereka latihan mulai dari jam 15.00 WIB sampai jam 18.00 WIB. Hari Minggu latihan juga dilakukan di tempat yang sama yaitu di ruang serba guna SMU Al Azhar lantai 8, dari jam 11.00-14.00 WIB."Waktu awal-awal latihan biasanya kita pemanasan dulu, stretching-stretching kecil sama lari dua putaran keliling ruangan. Tapi sekarang ini nggak ada pemanasan lagi," jelas Tasya, salah satu anggota gank tari asal SMU Al Azhar 1.Dari enam tarian yang akan ditampilkan di Turki, biasanya tari Yapong lah yang dilatih paling duluan. Tapi karena latihan di hari kedua My Zone ini juga sebagai ajang persiapan untuk pentas di sebuah turnamen golf internasional, latihan lebih difokuskan ke tari Saman dan Ngarojeng.Hampir sebagian besar anggota gank tari tradisional adalah penari Saman. Pertama-tama, Deno sang pelatih, meminta para penari saman untuk melakukan semua gerakan Saman dari awal hingga akhir. Kalau ada gerakan yang belum sempurna, gerakan itu diulang lagi sampai benar. Pengulangan gerakan ini nggak hanya berlaku di tari Saman. Untuk tarian lain, jika masih banyak kesalahan di sana-sini juga akan diulang terus-menerus."Kalau mereka kurang bagus, bisa habis nari saya suruh ulang lagi. Tapi tergantung waktunya juga. Kalau cuma dua jam, 2-3 kali diulang. Kalau latihannya empat jam, bisa 3-5 kali diulang," imbuh pelatih yang punya nama lengkap Lidia Deno Miasti.Menurut beberapa anggota gank tari tradisional, latihan ekstra keras demi hasil yang bagus, bukanlah suatu masalah buat mereka. Apalagi di Turki nanti, penari-penari yang akan tampil adalah penari-penari profesional yang sudah kaya akan asam-garam.Deno sendiri sang pelatih mengakui sebenarnya cukup sulit untuk membuat anak-anak Al Azhar dan BM 400 itu bisa nari dengan luwes seperti penari profesional. Apalagi mereka dikejar waktu, dalam beberapa bulan semua tarian itu harus hapal diluar kepala dan luwes pastinya."Makanya kita intesif latihan selama tiga bulan untuk menjadikan mereka penari. Di situ kita ekstra kerja kerasnya," ujar Deno lagi.Selain belajar nari, gank tari juga harus belajar main alat musik yang mengiringi tari-tarian mereka. Beberapa alat musik tradisional yang digunakan adalah saron, gendang, kenong dan ketimpring.Untuk bisa main alat musik di atas, gank tari nggak perlu belajar secara khusus. Selama beberapa bulan ini dengan melihat dan mendengar alat musik tersebut dimainkan mereka sudah bisa memainkannya juga. Latihan ekstra keras utuk sebuah hasil yang sempurna memang nggak ada salahnya dilakukan. Apalagi untuk nari di festival internasional nanti, performa harus sip dan keren. Sebagai ajang pemanasan sebelum ke Turki, gank tari SMU Al Azhar manggung dulu di turnamen golf internasional. Sebelum lihat penampilan mereka di hari H, kita lihat dulu gimana suasana gladi bersihnya di hari ketiga My Zone besok. See u. (eny/)











































