Tantangan Alvin Yunata dan Edy Khemod Garap Dokumenter Saparua

Dyah Paramita Saraswati - detikHot
Senin, 10 Mei 2021 18:02 WIB
BTS GELORA: Magnumentary of Saparua
Foto: BTS GELORA: Magnumentary of Saparua/ dok. Rich Music
Jakarta -

Dokumenter mengenai Gedung Saparua berjudul GELORA: Magnumentary of Saparua akan segera dirilis pada Juni 2021. Film tersebut digarap oleh personel Teenage Death Star dan Harapan Jaya, Alvin Yunata sebagai sutradara.

Ide penggarapan dokumenter itu muncul pada akhir Februari 2021. Bagi Alvin Yunata, penggarapan film itu terbilang tidak memakan waktu lama. Dia mengaku tidak mengalami terlalu banyak kesulitan, sebab dia dan sejumlah orang yang terlibat adalah pelaku dari skena musik yang bertumbuh di Saparua.

"Kebetulan sih nggak lama, karena gue dan Khemod dulu di situ jadi kami sudah tahu siapa saja orang yang harus kami wawancara atau kami angkat. Jadi memetakannya di situ. Yang lama risetnya tapi riset nggak terlalu lama sih, kami ngejalanin sejak Februari akhir. Intinya karena kami tahu sih sama medannya," ungkap Alvin dalam wawancara dengan detikcom, baru-baru ini.

Salah satu kesulitan yang dihadapi oleh penggarap GELORA: Magnumentary of Saparua adalah mencari dokumentasi terkait skena musik di Bandung pada era 1980 hingga 1990-an.

Menurut Alvin Yunata, hal itu sedikit banyak disebabkan oleh absennya kesadaran mengenai pentingnya dokumentasi. Selain itu, Edy Khemod drummer Seringai sekaligus Creative Director Cerahati yang juga terlibat dalam penggarapan film tersebut menyebutkan di era itu, kamera masih menjadi barang mahal yang hanya dimiliki segelintir orang saja.

"Kalau skena underground kami berhasil dapat malah tahun 1960-an,1970-an sampai tahun 1920-an aja ada fotonya, tapi yang tahun pensi 1980-an, 1990 awal masih nyari," jelas Edy Khemod.

Dalam wawancara tersebut, Alvin Yunata dan Edy Khemod sepakat bahwa dokumenter mengenai tumbuhnya skena musik underground dan alternatif di Saparua perlu dibuat. Sebab, bagi mereka, nyaris tidak ada tempat pertunjukan yang bercorak seperti Saparua di Indonesia.

Di era keemasannya, Saparua pun menjadi 'rumah' bagi musik metal, punk, hardcore, hingga independen.

"Gimana gedung Saparua ini bisa menampung 3000 orang. Si Gedung ini yang tadinya diperuntukkan untuk kegiatan fisik, entah kenapa sama anak mudanya dipakai jadi tempat kebudayaan," kata Edy Khemod.

Hal itu, menurutnya jarang terjadi di kota lain, termasuk Jakarta. "Di Jakarta nggak ada, karena Jakarta skenanya tumbuh dari kafe ke kafe, di Poster (kafe yang tempat tampilnya band alternatif dan independen pada era 1990-an) cuman 200-300. Ini memang tempat tumbuhnya skena independen jatuhnya," tutur Edy.

Rencananya film itu akan melakukan penayangan secara terbatas terlebih dahulu di berbagai kota, yakni Jakarta pada 6 Juni 2021, Bandung di 7 Juni 2021, dan Medan pada 8 Juni 2021. Barulah setelahnya, film GELORA: Magnumentary of Saparua akan dapat disaksikan di layanan pemutar film digital.

Selain itu, menyambut rilisnya film tersebut, akan ada pula konser virtual yang terdiri dari Distorsi Keras Extreme Moshpit Stage dan Distorsi Keras Virtual Concert Magnumentary yang dibagi dalam empat babak. Konser virtual itu akan berlangsung pada 29 Mei hingga 2 Juni 2021.



Simak Video "Berolahraga di Saparua, Bandung"
[Gambas:Video 20detik]
(srs/doc)