Saparua dan Perkembangan Musik di Bandung Didokumentasikan dalam Film

Dyah Paramita Saraswati - detikHot
Selasa, 30 Mar 2021 20:42 WIB
DistorsiKERAS, Gelora Magnumentary: Saparua
Foto: dok. DistorsiKERAS
Jakarta -

Saparua menjadi salah satu tempat bersejarah bagi perjalanan musik Indonesia, khususnya kancah musik independen dan underground di Bandung, Jawa Barat. Sebab, Saparua menjadi tempat dimana pergerakan musik di Kota Kembang tersebut tumbuh sejak 1970-an hingga 1990-an.

Kisah dan sejarah pergerakan kancah musik di Bandung itu akan diangkat dalam film dokumenter berjudul Gelora Magnumentary: Saparua. Alvin Yunata, yang merupakan gitaris dari Teenage Death Star, menjadi sutradara dari proyek dokumenter tersebut.

Proyek dokumenter tersebut mulanya digagas oleh Cerahati, Arian13 dan Roni Pramaditia bekerja sama dengan Rich Music sebagai bagian dari program DistorsiKERAS.

Menurut Eddy Khemod selaku Creative Director dari Cerahati yang juga merupakan personel Seringai, ide untuk membuat film dokumenter tentang Saparua bermula dari kesadaran kurangnya arsip dan dokumentasi tentang perkembangan musik independen dan underground di masa terdahulu.

"Kami memang punya kesadaran bahwa dokumentasi, terutama musik keras dan independen itu kurang banget dulu. Penyebabnya dimulai dari keterbatasan alat, padahal yang terjadi pada saat itu sangat menarik, banyak pelajaran yang bisa diambil dan itu yang menarik buat kami," ujar Eddy Khemod dalam konferensi pers virtual, Selasa (30/3/2021).

Ketika hendak mendokumentasikan kancah musik underground dan independen di Bandung, pilihan fokus mereka pun jatuh pada kisah yang berporos di Saparua.

"Kenapa kamu fokus di Saparua karena di Bandung itu unik, dia punya public space yang bisa dikuasai anak-anak punk rock. Itu menarik banget," tutur Eddy Khemod.

Eddy Khemod menambahkan, pada masanya, Saparua pernah menjadi tempat dimana pecinta musik yang tinggal di Bandung berkumpul dan berbaur. "Saparua sebagai titik sentral di kota Bandung jadi melting pot akulturasi berbagai karakter anak Bandung. Itu yang bikin skena hidup," jelas dia.

Menurut Alvin Yunata, salah satu tantangan yang ia rasakan ketika membuat dokumenter tentang Saparua adalah sulitnya mencari arsip dan foto-foto dokumentasi yang menggambarkan tempat tersebut dari masa ke masa.

"Terus terang (kesulitannya) karena arsip. Untuk yang Gelora Magnumentary: Saparua ini paling susah nyari yang (tahun) 1980 sampai 1990-an. Walaupun saya sama Khemod ngalamin juga, tapi (mencari dokumentasi) susah. Nggak tahu kenapa justru 1980-an sampai 1990-an," ungkap Alvin.

Sedangkan di era sebelumnya, Saparua justru banyak didokumentasikan oleh media. "(Dokumentasi tahun) 1960-an sampai 1970-an saya dapat di Aktuil dan Pikiran Rakyat, yang 1980-an dan 1990-an, masa-masa sebelum scene underground justru susah," sambungnya.

Ada sejumlah narasumber yang dilibatkan dalam pembuatan dokumenter tersebut, yakni Sam Bimbo, Arian13 (vokalis Seringai), Dadan Ketu (manajer Burgerkill/Riotic Records), Eben (gitaris Burgerkill), Suar (mantan vokalis Pure Saturday), dan lain-lain.



Simak Video "'Comeback'! Media Pemutar Musik Winamp Siapkan Perubahan Besar"
[Gambas:Video 20detik]
(srs/dal)