Mengunjungi Kembali Saparua yang Kini Tak Lagi Bising dalam Dokumenter

Dyah Paramita Saraswati - detikHot
Senin, 10 Mei 2021 16:10 WIB
BTS GELORA: Magnumentary of Saparua
Foto: BTS GELORA: Magnumentary of Saparua/ dok. Rich Music
Jakarta -

Pada Mei 1994 di Gedung Saparua, Pure Saturday -- yang kelak menjadi salah satu band penting di kancah musik independen Indonesia -- diumumkan menang sebagai juara pertama di sebuah lomba bernama Festival Unplugged. Kala itu, mereka memainkan lagu One milik U2 dan lagu ciptaan mereka sendiri yang berjudul Enough. Konon, kemenangan mereka adalah karena mereka membawakan lagu milik mereka sendiri.

Kisah itu hanya sepenggal cerita yang dituliskan Idhar Resmadi dalam buku biografi Pure Saturday yang berjudul Based On A True Story: Pure Saturday. Dalam buku itu, Idhar juga sekilas menyebutkan pengaruh Gedung Saparua yang terbilang besar bagi perkembangan musik di kota Bandung, terutama metal, punk, hardcore, hingga independen.

Hingga era awal dekade 2000-an, gedung yang sebenarnya didirikan untuk aktivitas olah raga itu, di akhir pekan kerap digunakan sebagai tempat berlangsungnya pertunjukan musik alternatif dan underground.

Bagi Edy Khemod, personel Seringai yang juga creative director Cerahati, Saparua di masa kejayaannya memberikan ruang bagi sejumlah musisi dan komunitas untuk berekspresi. Dia bercerita, di masa 1980-an hingga 1990-an, para musisi di Bandung biasanya unjuk gigi melalui pentas seni (di Bandung disebut bazaar) dan perlombaan.

Sedangkan, baginya, tidak semua genre musik terwadahi dari dua ajang tersebut. Musik metal, punk, hardcore, dan lain-lain kerap dianggap terlalu keras untuk tampil di pentas seni sekolah dan tidak pula bebas berekspresi dalam perlombaan. Di sana lah Saparua menjadi 'rumah'.

"Anak-anak yang mendengarkan punk rock kebanyakan nggak belajar musik. Mereka otodidak, musik punk rock juga bukan musik skill. Di pensi-pensi ditolak karena terlalu keras, festival juga ditolak karena kurang skill. Akhirnya mereka mengorganisir diri nyewa di Gedung Saparua, karena Saparua ini nyewanya murah," kisah Edy Khemod dalam wawancara dengan detikcom, baru-baru ini.

BTS GELORA: Magnumentary of SaparuaArian13 dalam GELORA: Magnumentary of Saparua Foto: BTS GELORA: Magnumentary of Saparua/ dok. Rich Music

Sayangnya, kini gedung itu tidak lagi digunakan sebagai tempat berlangsungnya pertunjukan musik. Oleh karena itu, menurut Edy Khemod ada kekosongan yang membuat anak muda di generasi masa kini kehilangan konteks sejarah betapa berpengaruhnya Saparua terhadap perkembangan musik di Kota Bandung.

Berangkat dari hal itu, Rich Music berupaya mengajak untuk kembali mengunjungi memori kolektif tentang Saparua pada mereka yang hidup di masa-masa ketika gedung itu masih digunakan sebagai tempat pertunjukan musik, sekaligus berupaya untuk memperkenalkan Saparua pada generasi sekarang lewat sebuah film dokumenter bertajuk GELORA: Magnumentary of Saparua.

Alvin Yunata yang merupakan personel Teenage Death Star dan Harapan Jaya didapuk sebagai sutradara dari proyek dokumenter tersebut.

"(Gedung Saparua) berpengaruh banget (bagi musik underground dan independen), lahirnya di situ musik-musik kayak gini yang nggak terekspos, yang benar-benar bawah tanah banget. Mereka bisa berekspresi tuh di gedung ini, nyewa gedung ini ya maksudnya. Jadi gedung ini mempercepat meledaknya scene underground di Bandung," tutur Alvin.

Edy Khemod, yang juga terlibat dalam penggarapan film tersebut mengatakan ketika tawaran bekerja sama untuk tentang skena musik metal dari Rich Music datang, ide untuk mengisahkan kembali skena musik yang berlangsung di Saparua pun tercetus.

BTS GELORA: Magnumentary of SaparuaLukman Laksmana dalam GELORA: Magnumentary of Saparua. Foto: BTS GELORA: Magnumentary of Saparua/ dok. Rich Music

"Kami muncul dengan ide untuk membuat dokumenter tentang Gedung Saparua ini. Mungkin kalau generasi sekarang banyak yang nggak tahu kalau Gedung Saparua ini tuh dari dulu ternyata, dari tahun 1960-an sampai ketika kita tumbuh besar di tahun 1990-an itu selalu jadi tempat pertunjukan skena independen, band-band hardcore yang merekam albumnya sendiri, yang mana sekarang jadi band-band semacam Burgerkill dan band-band kayak gitu, nah, mereka itu tumbuh besar dari Saparua ini," urai Edy Khemod.

Ada sejumlah narasumber yang dilibatkan dalam pembuatan dokumenter tersebut, yakni Sam Bimbo, Arian13 (vokalis Seringai), Dadan Ketu (manajer Burgerkill/Riotic Records), Eben (gitaris Burgerkill), Suar (mantan vokalis Pure Saturday), dan lain-lain.

Rencananya film itu akan melakukan penayangan secara terbatas terlebih dahulu di berbagai kota, yakni Jakarta pada 6 Juni 2021, Bandung di 7 Juni 2021, dan Medan pada 8 Juni 2021. Barulah setelahnya, film GELORA: Magnumentary of Saparua akan dapat disaksikan di layanan pemutar film digital.

Selain itu, menyambut rilisnya film tersebut, akan ada pula konser virtual yang terdiri dari Distorsi Keras Extreme Moshpit Stage dan Distorsi Keras Virtual Concert Magnumentary yang dibagi dalam empat babak. Konser virtual itu akan berlangsung pada 29 Mei hingga 2 Juni 2021.



Simak Video "Berolahraga di Saparua, Bandung"
[Gambas:Video 20detik]
(srs/doc)