Saat yang Ngepop Icip-icip Jazz
Senin, 06 Mar 2006 08:59 WIB
Jakarta - Windy (19) adalah mahasiswi tingkat pertama salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Bersama dua temannya, ia mendatangi Java Jazz Festival 2006 yang berlangsung 3-5 Maret kemarin di Jakarta Convention Center, Senayan.Windy mengaku bukan penggemar jazz. Meski demikian, ia merasa wajib datang ke acara yang diprakarsai Peter F. Gontha itu."Ya soalnya gue suka musik. Lagipula Java Jazz gitu lho, masa' nggak dateng sih?" cetusnya kepada detikhot saat ditemui di lokasi acara. Dari pemantauan detikhot selama tiga hari pertunjukan, orang-orang seperti Windy sangat banyak. Dengan memegang teguh prinsip "musik adalah bahasa universal", Berbondong-bondonglah Windy-Windy lain ke lokasi acara. Begitu melangkah masuk ke area Java Jazz, rasa bingung menyergap. Bagaimana tidak, ada 16 pilihan panggung yang bisa dituju dengan penampil-penampil yang diklaim penyelenggara berjumlah 1500-an orang. Untuk mengatasi rasa bingung itu, 'Music' pun dibeli. Majalah resmi Java Jazz Festival 2006 dengan harga Rp 10.000 itu berisi jadwal lengkap pertunjukan. Informasi singkat seputar musisi penampil juga ada di sana. Windy yang hadir di hari pertama mulai meneliti jadwal. "Aduh, yang gue tahu cuma Ello sama Glenn. Ada Eric Benet juga sih. Tapi nonton siapa lagi nih?" ujarnya. Windy berusaha keras mengenali nama-nama lainnya. Dengan Rp 350 ribu yang dikeluarkan untuk membeli tiket, Windy tak rela jika hanya dipuaskan oleh Glenn, Ello dan Eric Benet. Ya, bagi non-jazzer (bukan penggemar jazz -red) nama Ello dan Glenn yang notabene penyanyi pop relatif lebih mudah dikenali. Sedangkan Eric Benet, Windy mengenalnya lebih karena ia mantan suami bintang Hollywood peraih Oscar, Halle Berry.Maka, ramailah panggung-panggung yang menampilkan musisi sepopuler Glenn, Ello dan Eric Benet.Sedikit gambaran situasi, di hari kedua pukul 18.30 - 22.00 WIB, penampil yang dijadwalkan pasang aksi adalah Michael Lington (Plenary Hall - 18.30), Michael Paulo (Exhibition Hall 1 - 19.00), Tompi (Cendrawasih 2 - 19.30) dan Maliq n D'Essentials(Exhibition Hall 2 - 20.30 WIB). Michael Lington adalah musisi asal Denmark yang albumnya menempati posisi top 5 di tangga musik jazz dunia. Sedangkan Michael Paulo, ia pemain saxophone yang pernah mengiringi James Ingram, Kenny Logins, Patty Austin, David Benoit, sampai Bobby Caldwell. Bukan mengecilkan nama Maliq n D'Essentials atau Tompi, tapi dengan pertimbangan mereka adalah musisi Indonesia yang lebih mudah 'dijumpai', para maniak jazz akan lebih memilih menyaksikan kedua Michael itu dibanding Maliq dan Tompi.Tapi nyatanya, panggung Maliq dan Tompi lebih banyak dipadati pengunjung. Bahkan khusus Tompi, penonton membludak sampai ke luar ruangan. Musisi yang 'ditanggap' penyelenggara Java Jazz Festival bermain secara maraton. Kala musisi satu sudah selesai tampil, musisi yang lain langsung naik panggung dan menghibur pengunjung. Nyaris tak ada jeda. Bagi jazz mania, pastinya sumringah dapat hiburan non-stop sehari penuh. Tapi bagi yang tidak terlalu menikmati jazz, rasa bosan pun menyeruak. Akhirnya, kegiatan non-musik di sebuah festival musik pun dilakoni. Booth penjual merchandise seperti poster, mug, topi, kaos dan jacket bertuliskan Java Jazz diserbu. Tak sedikit yang tak kebagian. "Yah, kaosnya tinggal yang gede-gede semua," ujar seorang pengunjung yang kebetulan bertubuh mungil. Tempat pijak refleksi juga ramai dikunjungi. Dan yang tak kalah seru, berfoto ala musisi jazz zaman dulu. 1..2..3.. Say, Jazz! (ine/)











































