Rilis Gendhing Mardika, Sultan HB X Acungkan Jempol

Jauh Hari Wawan S - detikHot
Senin, 17 Agu 2020 19:04 WIB
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat rilis album. (Foto: Jauh Hari)
Yogyakarta -

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat merilis album Gendhing Gati Volume 1. Album ini berisi 17 judul gendhing gati, terdiri dari 16 gendhing rekaman lama serta 1 gendhing baru berjudul Gendhing Gati Mardika.

Sri Sultan Hamengku Buwono X bersama GKR Hemas dan putrinya yang turut hadir menyaksikan peluncuran album di Kagungan Dalem Bangsal Mandalasana Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Mereka nampak begitu menikmati alunan gendhing. Bahkan Ngarsa Dalem sempat meminta untuk mengulang kembali repertoar Gendhing Gati Mardika.

Sebelum beranjak, Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat itu memberikan apresiasi. Nampak Sultan mengacungkan jempolnya dan mengatakan alunan gendhing yang dimainkan sangat bagus.

"Matur nuwun. Sae (terima kasih, bagus sekali)," ucap Sultan, Senin (17/8/2020).

Gendhing Gati Mardika ini menjadi unggulan dari album Gendhing Gati volume 1. Abdi Dalem Wiyaga yang bertugas memainkan gamelan dengan Abdi Dalem Musikan yang memainkan instrumen musik barat berkolaborasi dalam memainkan Gendhing Gati Mardika.

"Gendhing Gati Mardika ini merupakan gendhing baru, Yasan Dalem atau ciptaan di masa Sri Sultan Hamengku Buwono X ini. Sengaja dibuat untuk memperingati Hari Ulang Tahun ke-75 Republik Indonesia," kata Penghageng KHP Kridhomardowo, KPH Notonegoro, seusai acara.

"Bisa dilihat dari nama gendhing-nya yaitu Mardika. Mardika sendiri kan berarti merdeka atau bebas," lanjutnya.

Berbeda dengan gendhing gati lainnya, Gendhing Gati Mardika ini bersifat mligi (khusus). Menurut KPH Notonegoro, keunikan gendhing ini ditandai dengan adanya penambahan instrumen berupa piatti atu cymbal dan digarap dengan konsep poliyhonic pada lagu instrumen tiupnya.

"Konsep ini merupakan perkembangan baru dalam pembuatan Gendhing Gati Mardika yang tentunya masih terinspirasi dari Yasan Dalem sebelumnya," urainya.

"Ada irama poliyhonic juga, di mana melodi pada alat tiup itu tidak melulu balung atau sesuai dengan apa yang dimainkan oleh melodi pada gamelan," kata dia menambahkan.

Keunikan lain, lanjutnya, terdapat pada adanya kalimat lagu yang mencerminkan ketiga konsep pathet dalam laras pelog. Yakni enem, lima, dan barang. Selain itu, nada yang dipakai dalam merangkai melodi balungan gendhing-nya juga lengkap, mulai dari nada 1 sampai dengan 7.

Album ini pun dirilis bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Republik Indonesia. Acara ini digelar secara virtual di mana masyarakat bisa menyaksikannya di Youtube Channel Kraton Jogja.

Selain itu, dia menuturkan ke depan akan merilis Gendhing Gati volume 2. Rencananya bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda.

"Rencananya kalau Tuhan mengizinkan kami akan launching volume kedua dengan 15 gendhing lagi. Masih gendhing gati juga, yang akan dilaunching pada 28 Oktober bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda," ucapnya.

"Pada saat itu kita juga akan melaunching 2 gendhing baru, yang sudah didhawuhkan oleh Ngarso Dalem, yaitu gati taruno. Taruno itu artinya pemuda, dan gati bhineko."

Sementara itu judul gendhing di Album Gendhing Gati Volume 1 yaitu: Gati Bali, Gati Brangta, Gati Harjuna Mangsah, Gati Helmus, Gati Hendrakusuma, Gati Kridha, Gati Kumencar, Gati Lumaksana, Gati Main-Main, Gati Mardawa, Gati Mares, Gati Mrak Ati, Gati Padhasih, Gati Raja, Gati Sangaskara, dan Gati Wiwaha, yang merupakan rekaman dan aransemen lama di Keraton Yogyakarta.

Ditambah dengan Gendhing Gati Mardika yang merupakan gendhing baru, maka harapannya masyarakat bisa menikmati dan mengamati perkembangan karawitan di Keraton Yogyakarta dari masa ke masa.



Simak Video "Buruh Yogya Minta Raja Keraton Nasihati Gubernur DIY soal UMP"
[Gambas:Video 20detik]
(mau/mau)