detikHot

music

Industri Musik Dunia dalam Pusaran Aktivisme Black Lives Matter

Minggu, 12 Jul 2020 16:14 WIB Dyah Paramita Saraswati - detikHot
LOS ANGELES, CA - OCTOBER 27:  Anderson .Paak performs at Anderson .Paak and Free Nationals Band Live Performance Presented By The Virtual Reality Company at Mack Sennett Studios on October 27, 2015 in Los Angeles, California.  (Photo by Vivien Killilea/Getty Images for FYI Brand Communications) Foto: Vivien Killilea/Getty Images for FYI Brand Communications
Jakarta -

Meninggalnya George Floyd, Breonna Taylor, Ahmaud Arbery dan sejumlah peristiwa rasialisme lainnya telah memicu gelombong protes besar-besaran. Mereka menuntut pemerintah Amerika Serikat untuk menghapuskan rasisme.

Rupanya gelombang protes itu tidak hanya terjadi di Amerika Serikat, namun juga nyaris di hampir seluruh negara di berbagai belahan dunia. Protes tersebut dilayangkan karena tindakan rasial masih kerap ditemui di berbagai tempat. Gerakan tersebut mengusung satu slogan, yakni Black Lives Matter.

Protes besar-besaran itu datang dari berbagai kalangan, salah satunya dari industri musik. Sejumlah musisi ikut menyuarakan kegeraman mereka akan tindak rasial melalui karya-karyanya. Salah satunya misalnya Anderson .Paak yang mengeluarkan lagu berjudul Lockdown pada 19 Juni 2020 bertepatan dengan perayaan Juneneeth.

Dalam sejarah Amerika Serikat, Juneneeth perayaan hari pembebasan ras Afrika-Amerika dari perbudakan. Peristiwa itu pertama kali dirayakan pada 1865.

Ketika merilis lagu itu, di akun Instagram-nya, Anderson .Paak mengunggah foto yang menunjukan keberpihakannya pada gerakan Black Lives Matter. Dalam foto itu, ia tampak berdiri sambil memegang papan bertuliskan, "Orang-orang mulai bangkit (The people are rising)."

Pada sisi foto tersebut, ia memajang nama-nama sejumlah kaum Kulit Hitam yang terbunuh mulai dari Christopher Whitfield, George Floyd, Rayshard Brooks, Breonna Taylor, hingga Ahmaud Arbery, dan lain-lain.

Bersamaan dengan rilisnya lagu tersebut, Anderson .Paak sekaligus mengeluarkan video klip dalam lagu itu.Video dari lagu itu terbilang politis. Ia membubuhkan nama-nama kaum Kulit Hitam yang meninggal dunia di akhir video klipnya.

Selain Anderson .Paak, pekan lalu Kanye West berkolaborasi dengan Travis Scott juga mengeluarkan single sekaligus video klip dengan judul Wash Us in the Blood. Lagu itu merupakan hasil pengamatan keduanya terhadap tindakan rasis yang terjadi di Amerika Serikat belakangan.

Di awal video klip, Kanye dan Travis menampilkan adegan seorang polisi yang tengah mengamuk, adegan berganti pada cuplikan video lainnya, ada yang menunjukkan orang-orang kaum kulit hitam tampak kesulitan bernapas, dua orang yang berkejaran, mereka juga bahkan menampilkan Ahmaud Arbery dan Breonna Taylor.

Video yang disutradarai oleh Arthur Jafa itu ditutup dengan dengan munculnya North West (anak Kanye) di akhir video.

Karya musik memang dapat terinspirasi dari apapun, tidak terkecuali gejolak politik yang terjadi di suatu negara dan juga pergerakan aktivisme yang terjadi. Oleh karena itu, munculnya tindakan rasialisme yang diikuti oleh gelombang protes Black Lives Matter pastilah membawa pengaruh terhadap industri musik.




Simak Video "Patung Black Lives Matter, Pengganti Patung Edward Colston di Bristol"
[Gambas:Video 20detik]
(srs/nu2)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com