DetikHot

music

Cerita di Balik Lagu-lagu Protes Efek Rumah Kaca

Kamis, 14 Feb 2019 08:29 WIB  ·   Dyah Paramita Saraswati - detikHOT
Cerita di Balik Lagu-lagu Protes Efek Rumah Kaca Foto: Efek Rumah Kaca (Asep/detikHOT)
Jakarta -

Efek Rumah Kaca dikenal sebagai band yang vokal menyuarakan kritik dan menangkap fenomena sosial lewat lagu-lagunya. Isu yang diangkat pun beragam, mulai dari pembunuhan aktivis HAM, Munir lewat 'Di Udara' hingga hilangnya para aktivis 1998 lewat 'Hilang', dan lain-lain.

Dalam diskusi 'Musik dan Aktivisme: Lirik, Lupa, dan Luka', drummer Efek Rumah Kaca (ERK), Akbar Bagus Sudibyo, menerangkan bagaimana bandnya menangkap hal-hal yang terjadi di sekitar mereka lalu dituangkan dalam lagu.

"Yang pasti kalau di Efek Rumah Kaca kami natural saja. Hidup pasti ngalamin enak dan nggak enak, karena kami musisi dan tugas kami adalah bermusik, akhirnya kami menyalurkan kegelisahan kami lewat musik," cerita Akbar dalam diskusi yang berlangsung di Kios Ojo Keos, Lebak Bulus, Jakarta Selatan pada Rabu (13/2/2019) malam.


Akbar mencontohkan, lagu 'Di Udara' berangkat dari pengalaman Cholil Mahmud menonton sebuah film dokumenter mengenai Munir. Dari ide untuk membuat lagu mengenai Munir, para personel ERK pun mencari tahu mengenai sosok aktivis yang terbunuh dalam penerbangan ke Belanda tersebut.

"Dari situ kami jadi teredukasi sendiri, maksudnya kami cari tahu tentang Munir. Termasuk kami jadi ingin nyuarain (persoalan) yang lain juga. Termasuk saat (menyuaraka persoalan) ibu-ibu Kendeng, kami jadi ikut aksinya," kata Akbar.

Selain membicarakan mengenai isu-isu besar yang terjadi di Tanah Air, Efek Rumah Kaca sebenarnya juga mengangkat isu-isu yang lebih personal atau dekat dengan keseharian.


Misalnya ketika mereka mengutarakan kebosanan mereka tentang lagu cinta yang begitu banyak beredar di pasar. "Itu awalnya karena kami sebelum latihan sering nonton acara televisi terus kami merasa, kok cinta melulu ya lagu-lagunya?" ujarnya.

"Zaman itu juga kan masih ada toko CD, kami melihat band-band atau musisi yang ada saat itu, lihat judul-judul lagunya di sampul belakang kalau ke toko CD, itu paling banyak tentang cinta. Dari sana mulai resahlah, musik kok kaya gini terus. padahal pendahulu kita, kaya Chrisye, Bimbo atau Guruh bisa ngomongin soal hal lain," urai Akbar.


(srs/doc)

Photo Gallery
1 1 2 3 4
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed