Awalnya, toko dibuka di kawasan Gandaria tapi karena alasan tertentu kemudian pindah ke Kemang. Bertempat di 'halaman' sebuah kafe ternama, mereka menjalankan bisnis "mulia" melestarikan rilisan fisik.
"Dari Jakarta kita awalnya di Gandaria terus pindah ke Kemang. Lalu kita menyusul ke Yogyakarta," tuturnya Project Manager Demajors, Anthono Oktoriandi kepada detikHOT pada Selasa (5/1/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kendala yang Demajors alami soal eksternalnya. Jadi biasanya kalau kerja sama dengan distro biasanya isinya anak-anak muda, semangat di awal aja. Ya jadi seleksi alam, kalau mentok mereka berhenti," jelasnya.
Kini harapannya, toko CD terus ada seiring dengan perkembangan zaman. Asumsi bahwa teknologi membunuh penjualan rilisan fisik bagi mereka menjadi tantangan yang menarik.
"Kita sih berharap bukan lima atau 10 tahun lagi tetap ada. Tapi selamanya kita bisa bertahan sama kultur penjualan fisik," tutupnya.
(fk/mmu)











































