Ngobrol Bareng Produser Musik Legendaris Quincy Jones

Ngobrol Bareng Produser Musik Legendaris Quincy Jones

- detikHot
Minggu, 20 Nov 2011 12:33 WIB
Ngobrol Bareng Produser Musik Legendaris Quincy Jones
Nusa Dua - Pemangku kepentingan industri musik Indonesia mulai dari musisi, produser, dan pelaku usaha mendapatkan pengalaman untuk bertukar pandangan dengan komponis dan produser musik asal Amerika Serikat, Quincy Jones. Seperti apa perbincangan dengan produser yang mengorbitkan Michael Jackson itu?

Quincy hadir di Indonesia guna memeriahkan acara malam kesenian yang digelar saat gala dinner kepala negara dalam rangka KTT ASEAN dan KTT Asia Timur di Nusa Dua, Bali pada Jumat (18/11/2011) lalu. Ia juga sempat tampil bersama Elfas Singers, Eka Deli, Joy Tobing, dan diiringi oleh orkestra Aminoto Kosim di lagu 'We Are The World'.

Acara perbincangan dengan Quincy dihadiri oleh beberapa tokoh di dunia musik antara lain Abdee 'Slank', Eki Puradiredja, Adib Hidayat, Purwacaraka, Dwiki Dharmawan, Jflow dan Peter Gontha. Diskusi tersebut dipandu langsung oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Quincy yang telah memproduksi ribuan karya musik itu mengatakan, Indonesia memiliki potensi menjadi pusat ekonomi kreatif dengan segala tradisi dan kebudayaannya. Namun pengembangan industri kreatif khususnya musik harus tetap memperhatikan aktor utamanya seperti musisi dan pencipta lagu, terutama dalam menghadapi trend teknologi yang sedang berkembang.

"Culture is in your heart. Start with that," ujar peraih 27 Grammy Awards itu saat acara bertema 'Hello ASEAN' di Peninsula Island, Nusa Dua, Bali Sabtu, (19/11/2011) malam.

Menurut produser kelahiran 14 Maret 1933 itu, ada dua syarat penting bagi seorang musisi untuk bisa sukses. Yang pertama adalah pengemasan lagu, selain itu lagu tersebut juga harus memiliki cerita yang kuat.

"Kalau nggak punya dua unsur itu, berarti kamu hanya membuat lelucon," ujarnya.

"Musik tentang cinta dan hasrat. When you start something with trying to make money, God leaves the room," tambahnya lagi.

Sementara itu, musisi Dwiki Dharmawan juga sempat menyampaikan harapannya agar suatu saat Quincy tertarik untuk mengembangkan salah satu corak musik Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki setidaknya 300 kelompok etnis yang memiliki musik khas tradisional dengan cirinya masing-masing.

"Angklung, itu sangat indah. Saya juga sempat melihat musik Aceh, dan Tari Saman. Mungkin saja kita akan melakukan sesuatu dengan itu," ungkapnya seraya tersenyum.

Meski usianya sudah tak muda lagi, Quincy tampak semangat menjawab semua pertanyaan dan membagi pengalamannya selama berkiprah di dunia musik. Sebagai insan musik kelas dunia, ia juga sangat ramah dan bahkan tak pernah menolak permintaan foto dari penggemarnya. Penjagaan dari sang bodyguard pun tak terlalu berlebihan.

Dalam kesempatan ini dibahas pula mengenai model bisnis baru industri musik seperti nada sambung pembelian musik secara digital. Saat ditanyai mengenai tanggapannya tentang penjualan CD musik yang terus menurun, dan pembajakan lewat internet, Quincy mengaku tak terlalu memikirkannya.

"Aku tak tahu cara menghentikan itu (pembajakan). Musik selalu berkembang, dan pasti selalu ada cara. Yang penting bagaimana membuat musik sebaik mungkin dengan hati," tuturnya.

"Music and water will be the last things that will be left on this earth. No one can live more than two days without music," tandasnya.

Menparekraf Mari Elka Pangestu mengatakan, kesempatan Quincy Jones membagi pengalaman dan memahami trend industri musik bersama insan musik Indonesia harus ditindaklanjuti dengan langkah kongkret.

"Dia telah bekerjasama dengan musisi terkemuka lintas generasi sejak tahun 1950-an, menghasilkan karya-karya hebat dan memahami betul perkembangan industri musik. Seluruh stakeholders di industri musik dapat mengambil pelajaran berharga dari sharing ini untuk perkembangan musik maupun ekonomi kreatif di Indonesia," paparnya.

Saat acara tersebut, Quincy juga sempat melihat penampilan dari musisi Indonesia seperti Shandy Sondoro, Maya Hasan, dan J-Flow. Menurutnya, Indonesia memiliki talenta yang tak kalah bagus dengan musisi luar.

Sebagai tanda apresiasi atas kedatangannya, Quincy mendapatkan hadiah Angklung serta puluhan CD musik musisi Indonesia. Produser yang juga mengorbitkan Frank Sinatra, George Benson, Vanessa Williams dan Manhattan Transfer itu juga sempat mendapatkan buku tentang proses pembuatan album Presiden SBY.


(ich/nu2)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads