Untuk sebuah band yang pernah begitu digemari, dan vakum selama 10 tahun, menggelar konser bisa terjatuh menjadi ajang kangen-kangenan belaka, untuk sekadar mengobati kerinduan penggemar. Namun, energi Katon, Adi dan Lilo terlalu besar untuk sekadar bernostalgia. Maka, jadilah konser bertajuk 'Exellentia' yang digelar di Central Park Ballroom, Jakarta, Jumat (26/11/2010) malam itu menjadi sebuah eksperimen ambisius untuk menandai akan kembalinya salah satu band terbesar di Indonesia dari dekade 1990-an.
Ya, 'Exellensia' sekaligus merupakan judul album ke-10 KLa Project, dan konser malam ituΒ menandai peluncurannya. Jadi, ini bukan sekedar konser "come back", tapi awal dari rencana besar sebuah invasi yang sudah lama dipersiapkan. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengembalikan kejayaan KLa Project sejak album 'Sintesa' (1998) mengawali meredupnya pamor mereka, yang menyusul dengan dipecatnya Lilo, dan semua gagal. Tapi, kali ini Lilo telah kembali, dan KLa menemukan momentumnya untuk menyelamatkan musik Indonesia dari kemonotonan, sama seperti yang telah mereka lakukan 20 tahun lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari beberapa sudut mulai terdengar teriakan penonton yang tak sabar. "Meski Telah Jauh!" pinta seorang penonton dari bagian festival. "Sabar dong!" balas Katon. Dan, KLa pun memainkan satu lagu dari album terbaru mereka. Sebuah lagu yang akan mudah disukai oleh penggemar lama. Tapi, tetap saja, aura penonton seolah mengisyaratkan satu hal: mereka hanya ingin mendengar lagu-lagu hits abadi KLa. Tapi, konser masih panjang, dan itu baru sesi pembuka, pemanasan.
KLa Project menjadi kejutan bagi dunia musik di Indonesia lewat single 'Tentang Kita' yang termuat dalam album kompilasi '10 Bintang Nusantara' (1988). Setahun kemudian, mereka merilis album perdana berjudul sama dengan namanya. Dari album ini antara lain sebuah balada indah berjudul 'Waktu Tersisa'. Lagu ini mewarnai sesi kedua konser KLa malam itu, yang dibawakan dengan iringan Chamber Orchestra yang mengusung dobel kwartet plus satu kontra-bass. Penonton pun ikut menyanyi.
Katon, juga Lilo yang memainkan gitar dan Adi yang duduk di balik piano telah berganti kostum ala bangsawan Eropa abad ke-18. Lilo melucu dengan memanggil bintang tamu kejutan. "Sambutlah, Ruth Sahanaya!" Tepuk tangan penonton bergemuruh, tapi kemudian berubah menjadi tawa riuh, ketika yang muncul di panggung ternyata dua cowok muda. Mereka diperkenalkan oleh Katon sebagai musisi beatbox terbaik di Indonesia. Dan, bayangkan, lagu 'Waktu Tersisa' dikemas dalam aransemen orkestra yang megah plus musik mulut yang berdentum-dentum!
Panggung dengan tata cahaya yang gemerlap, dan back-ground berupa layar multimedia raksasa adalah eksperimen lain dari konser KLa malam itu. Kesan mewah dan futuristik sangat terasa, namun tidak lantas membuat pergelaran itu menjadi formal dan kaku. Sebaliknya, Katon tak henti-henti melucu, dan diimbangi oleh Lilo yang tak kalah ngocol. Mereka begitu santai, sesekali mengerjai Adi yang anteng di balik pianonya. Semua jadi terasa berbeda, termasuk lagu 'Gerimis' yang mendadak jadi terasa begitu riang. Katon sampai berjoget-joget, melampiaskan kerinduannya beraksi di atas panggung.
Suara Katon masih bening dan prima seperti dulu kala, begitu pun dengan Lilo yang serak dan nge-rock. Lilo mengisi sesi ketiga dengan kejutan kecil. Dia membawakan lagu 'Romansa' yang diaransemen ulang dalam harmonisasi yang lebih garang. Dan, tibalah pada lagu yang ditunggu-tunggu, apalagi kalau bukan 'Meski Telah Jauh'! Setelah dua lagu itu, Katon muncul lagi, kali ini tampil kasual dalam balutan kaos yang dipadu dengan rompi, membawakan 'Terpuruk Ku di Sini' dan 'Pasir Putih'.
Semua lagu dinyanyikan dengan cara baru, kecuali 'Yogyakarta' yang tetap dipertahankan dalam cita-rasa klasiknya yang agung. Lalu, lagu penutup. Apa yang belum dinyanyikan? Betul, semua sudah bisa menebak, 'Tentang Kita' yang merupakan tonggak sejarah munculnya KLa Project di peta musik Indonesia. Apa, lagu penutup? Tak ada yang rela konser itu diakhiri begitu saja tanpa sesi "we want more". Dan, hanya dalam hitungan detik setelah tiga personel asli KLa Project plus dramer dan basis tamu pamit dan panggung gelap, mereka pun muncul lagi.
Penonton bersorak. Lilo menantang. "Lagu apa yang belum?" Penonton jadi bingung sendiri. "'Tak Bisa ke Lain Hati' enak nih kayaknya," pancing Lilo. Maka lengkap sudah. Yup, tak usah dipungkiri jika ini memang konser nostalgia. Apa salahnya? Sebab, KLa Project memang istimewa. Dengan segala eksperimentasi dan "gambling"-nya, mereka telah memberi nilai lebih pada konser 'Exellentia'. (mmu/mmu)











































