Bioskop China Lesu, Indonesia Berjaya

ADVERTISEMENT

Bioskop China Lesu, Indonesia Berjaya

Asep Syaifullah - detikHot
Senin, 07 Nov 2022 19:36 WIB
Poster film Home Coming (2022).
Poster film China, Home Coming (2022). Dok. Ist
Jakarta -

Usai pandemi COVID-19, bioskop di Indonesia seolah mendapatkan angin segar dengan raihan-raihan beberapa film yang menembus angka lebih dari 2 juta penonton. Keadaan itu pun berbanding terbalik dengan kondisi di China, di mana justru industri perfilman mereka yang terus menurun.

Dilansir dari Variety, disebutkan terjadi penurunan jumlah pendapatan bioskop di China dan hanya mampu mencapai setengah dari jumlah yang dicapai mereka pada 2019. Pada akhir pekan lalu, seluruh film di China bahkan hanya meraup pendapatan sebesar 9,7 juta USD atau senilai Rp 152 miliar.

Ada penurunan hingga 35 persen pada 2021, di mana total pendapatan tahunan mereka hanya mencapai 3,88 miliar USD atau sebesar Rp 59 triliun. Dan jumlah itu hanya mencakup setengahnya saja dari apa yang terjadi di sebelum pandemi yakni 2019, di mana mereka mampu mencapai 8,11 miliar USD atau Rp 127 triliun.

Padahal pada tahun itu, mereka mengalami kenaikan yang cukup signifikan hingga menjadi pasar sinema terbesar di dunia nomor dua dan mengalahkan Jepang. Mereka pun bisa saja meraup posisi puncak dan mengalahkan Amerika, sayangnya perbaikan pasca-COVID membuat kemunduran di industri film di negeri Tirai Bambu itu hingga turun ke posisi ketiga.

Hingga saat ini pun, film terkini yang meraup pendapatan terbesar di tahun ini dicapai oleh Home Coming yang dibintangi oleh Zhang Yi hingga Yin Tao. Film drama yang menceritakan penyelamatkan diplomat China di Afrika Utara itu meraup pendapatan kotor sebesar 211 juta USD atau senilai Rp 3,3 triliun sejak dirilis pada 30 September 2022.

Selain pandemi, penurunan industri perfilman China pun disebabkan beberapa masalah politis yang terjadi akhir-akhir ini. Ada beberapa kebijakan yang dianggap sangat aneh dan membuat para rumah studio besar menjadi tak produktif. Minat publik untuk kembali ke bioskop pun mulai menurun dan lebih memilih menyaksikan film di layanan OTT.

Sementara itu, Indonesia justru tengah mengalami kenaikan pesat, setelah sekian lama kini karya sineas lokal menjadi raja di tanahnya sendiri. Hal itu diungkapkan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Sandiaga Uno, dalam acara #DemiIndonesia.

"Musik ada di posisi yang baik, terus film Indonesia juga sekarang lebih banyak ditonton daripada film barat, terima kasih KKN di Desa Penari, terima kasih Pengabdi Setan: Communion, terima kasih Ngeri-Ngeri Sedap," kata Sandiaga Uno.

Bioskop Indonesia memang belakangan tumbuh begitu membanggakan. Penonton film KKN Desa Penari kini tercatat lebih dari 9,2 juta. Sementara, di bawahnya ada Pengabdi Setan 2: Communion, yang tercatat menarik 6,3 juta penonton. Disusul oleh Miracle in Cell No 7 yang kini tercatat disaksikan oleh 5,8 juta. Sementara, film Ngeri-Ngeri Sedap ditonton oleh 2,8 juta penonton.

Menurut filmindonesia.org, keempat film itu juga berada di deretan paling atas yang meraih penonton terbanyak tahun ini. Film-film di bawahnya juga mencatat disaksikan lebih dari 2 juta penonton. Namun hingga saat ini, Indonesia belum masuk dalam 10 besar industri film terbesar di seluruh dunia dan masih kalah dari China, Jepang, Korea Selatan, dan India.



Simak Video "Zsa Zsa Utari Terkesima Nonton 'Titanic' 3D di Bioskop"
[Gambas:Video 20detik]
(ass/mau)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT