Film produksi Rahayu Saraswari Djojohadikusumo, keponakan Prabowo, yang terkenal dengan film 'Trilogi Merah Putih' tersebut mengangkat kisah tentang seorang pedagang senjata berkebangsaan Belanda Kaspar Almayer, yang mengejar impiannya menemukan gunung emas di Borneo. Film ini menyisipkan moralitas, nilai multikulturalisme, dan pluralisme,
Cerita novel "Almayer's Folly" diangkat ke layar lebar sebagai sebuah kolaborasi antara Media Desa Indonesia, dengan eksekutif produser Rahayu Saraswati Djojohadikusumo dan rumah produksi Tanah Licin dengan eksekutif produser U-Wei Bin Haji Saari. Film kolosal ini akan tayang perdana di bioskop Indonesia pada 6 November 2014 mendatang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Film 'Gunung Emas Almayer' yang mengambil setting Malaka awal abad 19 dan berdurasi sekitar 116 menit ini. Impian Almayer untuk menemukan gunung emas, tak terlalu mudah. Ada banyak rintangan dan tantangan yang harus dihadapi, baik dari para pedagang Arab, manuver politik ketua suku adat setempat, tentara militer kolonial Inggris, pejuang kemerdekaan maupun dari keluarganya sendiri.
"Film Ini memberi kita jendela ke dalam melihat masyarakat melayu di Malaka pada akhir abad ke 19. Campuran yang sangat kompetitif antara adat melayu, pribumi suku, Eropa, Arab, India, dan China yang hidup dan bekerjasama," tuturnya.
Film yang melibatkan kru lintas negara ini dibintangi Peter O'Brien, Rahayu Saraswati, El Manik, Alex Komang, Sofia Jane, Adi Putra, Diana Danielle, Khalid Salleh, Bront Palarae, dan Sabri Yunus. Untuk menghadirkan nuansa abad ke-19, 'Gunung Emas Almayer' diklaim menghabiskan biaya produksi hingga Rp 60 miliar.
(ich/mmu)











































