"Proses editing itu bukan hanya menggabung-gabungkan potongan adegan, tetapi bagaimana pesan dalam film itu bisa tersampaikan," kata editor film '99 Cahaya di Langit Eropa' Ryan Purwoko kepada detikHOT.
Setelah menerima materi dari sutradara secara berkala, Ryan dan asistennya mulai mengerjakan tugas. Pertama-tama, ia membuatkan folder sendiri untuk tiap adegan dan angle yang berbeda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu kita banyak diskusi juga sama sutradara dan produser," lanjutnya.
Setelah itu, barulah materi yang dikerjakan dibawa ke studio Editing. "Kalau film ini kita bawa ke Digital Magic di Hong Kong untuk color grading dan sebagainya sebelum kemudian dimasukkan musik, sound, dan narasi," terang Editor yang sebelumnya menggarap film 'Tampan Tailor' dan 'Adriana' (bersama Cesa David) itu.
Mengambil keseluruhan syuting di Wina, Istanbul, Cordoba dan Paris, '99 Cahaya di Langit Eropa' menjanjikan suguhan visual yang memanjakan mata penonton. Hampir semua bangunan yang menjadi ikon di kota-kota tersebut, berusaha ditampilkan dengan angle terbaik agar penonton seolah-olah merasakan pengalaman Hanum (Acha Septriasa) dan Rangga (Abimana Aryasatya) menapaki sejarah Islam di Eropa.
"Untuk warna, kita pilih yang natural," tambah Eksekutif Produser Maxima Pictures Yoen K.
'99 Cahaya di Langit Eropa' memiliki pesan menjadi agen muslim yang baik di negara Eropa yang sebagian besar penduduknya sekuler. Bagaimana sikap muslim sesungguhnya menghadapi perlakuan diskriminatif, dan menunjukkan keindahan Islam itu sendiri lewat sikap, adalah visi utama dalam film ini.
Selanjutnya, keindahan alam dan bangunan Eropa dan unsur drama juga diperkuat agar menambah daya tarik dan bukan sekadar film perjalanan. Penasaran? Saksikan '99 Cahaya di Langit Eropa' di bioskop mulai 5 Desember mendatang.
(ich/ich)











































