"Alhamdulillah makasih banyak (pujiannya). Mungkin menurut saya dia itu salah satu legenda untuk action martial art. Kalau dibandingi dengan saya, (saya) masih sangat jauh," ucapnya merendah.
Cowok yang belajar silat sejak umur 10 tahun itu memang ingin memfokuskan diri di film laga. Selain mengemban misi agar silat semakin mendunia, ia juga ingin olahraga bela diri asal Indonesia itu dicintai anak muda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Film action yang disutradarai Gareth Evans itu berhasil meraih penghargaan 'The Cadillac Peopleβs Choice Midnight Madness Award.' Hasil membanggakan tersebut semakin membuka jalan bagi perfilman Indonesia untuk dilihat dunia.
"Saya rasa paling bagus di Toronto, penontonnya sangat respons," kenang pemilik tinggi badan 169 centimeter itu sambil tersenyum.
Akting berkelahi di sepanjang film sangat menguras tenaga cowok kelahiran 12 Februari 1983 itu. Luka memar dan robek seakan menjadi makanan sehari-hari saat syuting. Apa yang paling parah?
"Yang paling parah saya cidera lutut. Otot ligamennya robek," tuturnya.
Iko memang melakukan semua adegannya tanpa pemeran pengganti. Sementara lawan mainnya di 'The Raid' hampir seluruhnya petarung profesional dan terlatih.
(ich/mmu)











































