ADVERTISEMENT

Bergotong-royong Melestarikan Musik di Yogyakarta

M. Iqbal Fazarullah Harahap - detikHot
Jumat, 13 Mei 2022 12:08 WIB
Jakarta -

Kota Yogyakarta belum pernah berhenti bereksperimen dalam rangka memproduksi musisi-musisi penuh potensi. Meramaikan terus menerus khazanah musik nasional dengan beragam bunyi-bunyian yang lepas dari genre tertentu.

Jika dilihat dari luar, sepertinya sejumlah studio musik di Yogyakarta saling terhubung dan bekerja sama untuk mendukung anak-anak muda baru ini. Namun, bila masuk ke dalam, ada sebuah sikap gotong royong yang dilakukan mereka, para penggiat musik Yogyakarta, untuk melestarikan bersama-sama kecintaannya.

Ada banyak yang terlibat, salah satunya, dan mungkin cukup dapat mewakili, bernama Jogja Home Coming (JHC). Sebuah kolektif, dengan tupoksi sebagai wadah, penyelenggara acara, sarana edukasi hingga pembangun jembatan antar generasi. Sebuah tugas yang tidak bisa terbilang mudah, tapi terdengar menyenangkan, setidaknya untuk Saga Satria.

Tim detikHot tengah berbincang dengan Saga Satria, salah seorang musisi di Yogyakarta.Tim detikHot tengah berbincang dengan Saga Satria, salah seorang musisi di Yogyakarta. Foto: Andhika Prasetia/detikcom

Kelanjutan pembahasan tentang Yogya selatan dan episentrum pergaulannya turut membawa detikHOT bertemu dengan Saga. Banyak yang mengatakan dia adalah regenerasi dari Gufi, manajer Frau yang juga dikenal luas dan baik sebagai penggiat yang paling giat jika bicara ekosistem musik di Yogyakarta. Dirinya juga tergabung ke dalam sebuah band alternatif, Krans (2018), sebagai pemain bass.

"Dari awal kalo ngomongin tujuannya, kami di JHC itu nongkrong dari 2018, terus acara pertamanya di 2019. Sebenarnya awalnya itu dari mulai merasa ada gap di beberapa circle di Yogya waktu itu, terus kami ingin ada mewadahi semua itu biar kalau ada band-band baru yang tidak punya wadah untuk pertunjukan atau pentas gitu, ya kami bisa bantu. Jadi nggak perlu ada di satu kelompok tertentu, ya silakan aja bergabung. Kami juga berusaha menjalankan fungsi untuk mendokumentasikan mereka itu," papar Saga saat ditemui di Yogyakarta.

"Jadi JHC aktif lebih banyak ada di area pertunjukan musik, kemudian ada di edukasi juga. Edukasi dalam artian bagaimana memproduksi musik, produksi sebuah acara, dokumentasi," sambungnya.

Tim detikHot tengah berbincang dengan Saga Satria, salah seorang musisi di Yogyakarta.Tim detikHot tengah berbincang dengan Saga Satria, salah seorang musisi di Yogyakarta. Foto: Andhika Prasetia/detikcom

"Seiring perjalanan, setelah bertambahnya wawasan dan kemudian pergaulan juga, kami akhirnya kayak mau nggak mau ada tanggung jawab lebih secara moril. Kayak dipercaya untuk mengerjakan acara besar waktu itu, seterusnya kamu harus ada terus. Ya dijalani dengan bahagia aja, karena memang teman-teman di sini suka mengerjakan itu jadi nggak begitu jadi masalah ketika harus jadi sesuatu yang regular. Hal yang selalu kami coba bangun adalah menjahit lagi jarak antar generasi yang hilang," ujarnya lagi.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT